Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Senin, 12 Oktober 2026 15:06 WIB

RS M Djamil Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kesehatan melalui Pelatihan Code Stroke

RS M Djamil Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kesehatan melalui Pelatihan Code Stroke
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 207 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil terus meningkatkan kapasitas pelayanan stroke melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia kesehatan dan pengembangan jejaring pelayanan. RS M. Djamil menggelar Pelatihan Code Stroke bagi Tim Stroke di Rumah Sakit Jejaring yang berlangsung pada Senin – Kamis, 12-15 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Pengampuan Layanan Stroke yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelayanan dan kompetensi tenaga kesehatan di rumah sakit jejaring agar mampu memberikan penanganan stroke secara cepat, tepat, terkoordinasi, dan sesuai standar.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, saat memberikan sambutan secara virtual, menyampaikan sebagai rumah sakit rujukan, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk terus memperkuat mutu pelayanan, meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, serta berkontribusi dalam pengembangan kapasitas rumah sakit jejaring sesuai kebutuhan pelayanan.

“Sebagai rumah sakit rujukan, RS M. Djamil tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi juga berperan dalam memperkuat kapasitas rumah sakit jejaring. Melalui Program Pengampuan Layanan Stroke ini, kita ingin memastikan bahwa peningkatan kompetensi tenaga kesehatan berjalan seiring dengan penguatan sistem pelayanan yang terstandar dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program pengampuan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan dan keterampilan dari rumah sakit pengampu kepada rumah sakit jejaring. Lebih dari itu, program ini merupakan upaya membangun sistem pelayanan yang lebih kuat, terstandar, terkoordinasi, dan berkesinambungan.

Dengan penguatan tersebut, rumah sakit jejaring diharapkan semakin siap mengenali kasus stroke, melakukan penanganan awal secara tepat, mengoptimalkan alur rujukan, serta berkolaborasi dengan rumah sakit pengampu berdasarkan kompetensi dan kapasitas pelayanan masing-masing. Kesiapan tersebut menjadi faktor penting untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhan klinisnya tanpa kehilangan waktu yang berharga.

“Manfaat program pengampuan tidak boleh berhenti pada terselenggaranya pelatihan. Hasilnya harus tercermin dalam peningkatan kesiapan tim, penerapan prosedur operasional sesuai standar, perbaikan koordinasi pelayanan, serta peningkatan keselamatan pasien,” tegasnya.

Dalam penanganan stroke, kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi aspek yang sangat menentukan. Kondisi ini menuntut setiap tenaga kesehatan yang terlibat memiliki pemahaman yang sama mengenai tahapan pelayanan, pembagian peran, serta mekanisme komunikasi dan koordinasi sejak pasien tiba di rumah sakit. “Karena itu, keberadaan tim Code Stroke yang terlatih menjadi bagian penting dalam mendukung respons cepat dan terintegrasi terhadap pasien dengan dugaan stroke akut,” tuturnya.

Pelatihan Code Stroke ini dirancang untuk memberikan pembekalan yang menyeluruh kepada peserta melalui berbagai materi yang saling berkaitan. Materi yang diberikan meliputi sistem layanan stroke, tatalaksana stroke hiperakut, pemeriksaan neurologis, penilaian National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS), pemberian dan pemantauan terapi trombolisis, pemeriksaan radiologi, hingga simulasi Code Stroke.

Melalui simulasi Code Stroke, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memahami penerapan koordinasi tim dalam situasi yang membutuhkan respons cepat. Simulasi ini diharapkan dapat memperkuat komunikasi antarprofesi, memperjelas pembagian tugas, serta meningkatkan kesiapan tenaga kesehatan dalam menjalankan alur penanganan stroke secara terintegrasi.

dr. Maliana berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh dan berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran. “Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan ini secara sungguh-sungguh dan aktif. Manfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam pengetahuan, mengasah keterampilan, mendiskusikan tantangan yang dihadapi di rumah sakit masing-masing, serta belajar dari pengalaman para narasumber dan fasilitator,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari pemahaman peserta selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dari kemampuan mereka menerapkan hasil pembelajaran di lingkungan kerja. “Oleh karena itu, setiap peserta diharapkan mampu membawa perubahan nyata di rumah sakit masing-masing, mulai dari penguatan tim Code Stroke, peninjauan alur pelayanan, peningkatan koordinasi lintas profesi, hingga pelaksanaan evaluasi berkala terhadap penerapan standar penanganan stroke,” harapnya. ***