Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Jumat, 23 Oktober 2026 18:41 WIB

Perkuat Penanganan Kegawatdaruratan Otak di Provinsi Papua Barat Daya RSPON Mahar Mardjono Jakarta Gelar Workshop Kraniotomi bagi Dokter Bedah Umum

Perkuat Penanganan Kegawatdaruratan Otak di Provinsi Papua Barat Daya RSPON Mahar Mardjono Jakarta Gelar Workshop Kraniotomi bagi Dokter Bedah Umum
AN - RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr.dr.Mahar Mardjono Jakarta 30 kali dilihat

Jakarta - Penanganan cedera kepala berat membutuhkan keputusan medis yang cepat dan tepat, terutama ketika pasien mengalami perdarahan intrakranial yang memerlukan tindakan segera. Di tengah keterbatasan akses terhadap layanan bedah saraf di sejumlah daerah, peningkatan kemampuan tenaga medis dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan menjadi salah satu hal penting untuk mendukung keselamatan pasien.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga medis dalam penanganan kegawatdaruratan neurologis, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta)  menyelenggarakan Workshop Nasional 3-Days General Surgeon Craniotomy pada 16–18 Oktober 2026 di Swiss-Belhotel Sorong, Papua Barat Daya.

Kegiatan ini ditujukan bagi dokter spesialis bedah umum, khususnya untuk memberikan pembekalan mengenai prinsip dasar, indikasi, serta keterampilan praktis kraniotomi pada kondisi darurat neurotrauma. Workshop tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi dokter yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan dengan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis bedah saraf.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi yang mencakup berbagai aspek penanganan pasien dengan cedera kepala berat. Pada hari pertama, pembahasan difokuskan pada informed consent dalam tindakan kegawatdaruratan bedah saraf, penegakan diagnosis pada lesi intrakranial dengan ancaman herniasi, serta persiapan perioperatif sebelum tindakan kraniotomi emergensi.

Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda perburukan kondisi neurologis, menentukan kebutuhan pemeriksaan penunjang, serta mempersiapkan pasien dan tim medis sebelum tindakan dilakukan. Dalam kondisi kritis, kemampuan melakukan asesmen secara tepat dan menentukan prioritas penanganan menjadi bagian penting dari upaya mencegah perburukan kondisi pasien.

Memasuki hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan teknik operasi kraniotomi emergensi dan studi kasus. Peserta juga mengikuti sesi hands-on kraniotomi dasar yang memberikan kesempatan untuk mempelajari tahapan prosedur secara lebih praktis.

Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada persiapan pasien dan instrumen, penentuan akses operasi, teknik pembuatan burr hole dan bone flap, pembukaan serta penutupan dura, teknik dasar pengendalian perdarahan atau hemostasis, hingga penutupan luka operasi. Pembelajaran praktik ini menjadi bagian penting untuk membantu peserta memahami prosedur secara sistematis sekaligus memperhatikan prinsip keselamatan dalam setiap tahapan tindakan.

Pada hari ketiga, materi dilanjutkan dengan simulasi komplikasi intraoperatif dan pengenalan alat-alat dasar kraniotomi. Peserta mempelajari identifikasi dini terhadap komplikasi, pengambilan keputusan dalam situasi kritis, serta pentingnya komunikasi dan koordinasi antaranggota tim selama tindakan berlangsung.

Pembahasan mengenai komplikasi, seperti perdarahan, edema serebri, dan gangguan hemodinamik, menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan tenaga medis dalam menghadapi situasi yang dapat mengancam keselamatan pasien. Selain keterampilan teknis, koordinasi dengan tim anestesi dan tenaga kesehatan lainnya juga menjadi perhatian dalam penanganan kegawatdaruratan bedah saraf.

Workshop ini menghadirkan sejumlah dokter spesialis bedah saraf dari berbagai institusi sebagai narasumber dan pembimbing praktik. Keterlibatan para ahli tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari berbagai perspektif dalam penanganan kasus neurotrauma.

Bagi RSPON Mahar Mardjono Jakarta, kegiatan pendidikan dan pelatihan seperti ini merupakan bagian dari peran rumah sakit dalam mendukung pengembangan kompetensi tenaga kesehatan, sekaligus memperkuat jejaring pengetahuan di bidang pelayanan kesehatan otak dan saraf.

Kebutuhan terhadap penanganan cedera kepala berat tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan peralatan medis, tetapi juga kesiapan tenaga kesehatan dalam mengenali kondisi yang mengancam nyawa, melakukan stabilisasi awal, serta menentukan langkah penanganan atau rujukan yang sesuai. Karena itu, peningkatan kapasitas dokter di berbagai daerah menjadi salah satu aspek yang perlu terus diperhatikan dalam penguatan layanan kegawatdaruratan.

Melalui Workshop Nasional 3-Days General Surgeon Craniotomy, RSPON Mahar Mardjono Jakarta  berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat mendukung peningkatan kesiapan dalam menghadapi kasus kegawatdaruratan neurotrauma di tempat masing-masing. Penguatan kompetensi tersebut diharapkan turut mendukung penanganan pasien yang lebih terarah, koordinasi klinis yang lebih baik, serta upaya peningkatan keselamatan pasien, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap layanan bedah saraf.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional di bidang kesehatan otak, RSPON Mahar Mardjono Jakarta terus mengambil bagian dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat pelayanan kesehatan otak dan saraf serta mendukung pemerataan kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia. ***