Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Jumat, 23 Oktober 2026 18:34 WIB

RS M Djamil Edukasi Pasien Diabetes tentang Cara Sehat Menikmati Kuliner Minang

RS M Djamil Edukasi Pasien Diabetes tentang Cara Sehat Menikmati Kuliner Minang
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 34 kali dilihat

Padang - Menikmati kelezatan kuliner khas Sumatera Barat tetap dapat dilakukan oleh pasien diabetes melitus (DM) dengan memperhatikan pemilihan bahan makanan, teknik pengolahan, serta pengaturan porsi. Pemahaman ini menjadi penting agar pasien dapat menjaga kadar gula darah tanpa harus sepenuhnya meninggalkan makanan tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya dan keseharian masyarakat Minangkabau.

Sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan diabetes melitus melalui pola makan yang tepat, RS M. Djamil terus menghadirkan edukasi kesehatan bagi pasien dan pengunjung rumah sakit. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, RS M. Djamil ini melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan mengadakan edukasi kesehatan di Poliklinik Khusus dengan mengangkat tema “Review Makanan Khas Sumatera Barat untuk Pasien Diabetes Melitus”.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Henny Fitri Yanti, S.SiT, M.Kes, RD, Delian Fathurahmi, S.Gz., dan Nindia Yosa Dahlan, S.Gz. Ketiganya memberikan pemahaman tentang karakteristik makanan khas Minangkabau, risiko yang perlu diperhatikan oleh pasien diabetes melitus, serta strategi memodifikasi hidangan tradisional agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengelolaan penyakit tersebut.

Dalam pemaparannya, Henny Fitri Yanti menjelaskan Sumatera Barat memiliki kekayaan kuliner dengan cita rasa yang khas dan beragam. Sejumlah hidangan seperti rendang, gulai tunjang, ayam pop, dendeng balado, ikan asam padeh, gulai kepala ikan, sayur nangka, hingga soto Padang telah menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Minangkabau.

Namun, di balik kelezatan hidangan tersebut, terdapat karakteristik bahan dan cara pengolahan yang perlu menjadi perhatian, terutama bagi pasien diabetes melitus. Penggunaan santan dalam berbagai masakan, porsi nasi putih yang cenderung besar, tambahan gula pada bumbu, serta kandungan natrium yang tinggi pada sejumlah hidangan dapat menjadi tantangan dalam menerapkan pola makan yang sehat.

“Masakan khas Minangkabau memiliki kekayaan rasa yang luar biasa. Namun, bagi pasien diabetes melitus, kita perlu lebih cermat dalam memilih jenis makanan, memperhatikan bahan yang digunakan, serta mengatur porsi yang dikonsumsi. Bukan berarti pasien harus menghindari seluruh makanan khas daerah, tetapi perlu dilakukan penyesuaian agar makanan tersebut tetap dapat dinikmati dengan lebih bijak,” jelas Henny.

Ia menerangkan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan santan kental dalam hidangan bersantan. Santan mengandung lemak jenuh yang apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan kardiovaskular. Hal ini perlu menjadi perhatian karena pasien diabetes melitus juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah.

Selain itu, nasi putih yang dikonsumsi dalam jumlah besar dapat memberikan beban karbohidrat yang cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah setelah makan. Kondisi ini dapat semakin sulit dikendalikan apabila pasien mengonsumsi makanan dalam porsi berlebihan atau tidak memperhitungkan keseluruhan asupan karbohidrat dalam satu waktu makan.

Penggunaan gula dalam bumbu masakan juga perlu diperhatikan. Pada beberapa hidangan, gula dapat ditambahkan untuk menyeimbangkan rasa atau memperkuat cita rasa tertentu. Meskipun jumlahnya tidak selalu terlihat secara langsung, tambahan gula tersebut tetap perlu diperhitungkan dalam pola makan pasien diabetes melitus.

Tantangan lainnya adalah kandungan natrium yang tinggi pada sejumlah makanan, terutama apabila menggunakan garam, bumbu penyedap, atau bahan tambahan lainnya secara berlebihan. Asupan natrium yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, yang menjadi salah satu kondisi penyerta yang perlu diwaspadai pada pasien diabetes.

Henny juga menyoroti kebiasaan menyantap makanan secara prasmanan yang umum ditemukan dalam berbagai kegiatan masyarakat Minangkabau. Banyaknya pilihan lauk, sayuran, dan hidangan bersantan sering kali membuat seseorang mengambil makanan melebihi kebutuhan tubuhnya. Tanpa disadari, kombinasi nasi dalam porsi besar, beberapa jenis lauk, serta tambahan kuah bersantan dapat meningkatkan asupan energi, lemak, dan karbohidrat dalam satu kali makan.

“Pengaturan porsi merupakan bagian penting dari pengelolaan diabetes melitus. Ketika menghadapi berbagai pilihan makanan dalam sajian prasmanan, pasien perlu menentukan porsi sejak awal dan tidak hanya berpatokan pada keinginan untuk mencicipi semua hidangan. Komposisi makanan di dalam piring harus tetap diperhatikan agar asupan karbohidrat, protein, lemak, dan serat lebih seimbang,” tuturnya.

Meski demikian, Henny menegaskan kekayaan kuliner Minangkabau juga memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pola makan pasien diabetes melitus. Penggunaan bahan pangan lokal, seperti ikan segar, berbagai jenis sayuran dan daun lokal, serta rempah-rempah, dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat apabila diolah dan dikonsumsi dengan tepat.

Ikan segar dapat menjadi sumber protein yang baik, sementara sayuran menyediakan serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Rempah-rempah yang banyak digunakan dalam masakan Minangkabau juga dapat membantu memperkaya cita rasa makanan sehingga penggunaan garam, gula, maupun bahan tambahan lainnya dapat dikurangi sesuai kebutuhan.

Cabai dan berbagai rempah khas Sumatera Barat, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan karakter rasa masakan tanpa harus selalu mengandalkan tambahan gula atau garam dalam jumlah berlebihan. “Demikian pula dengan hidangan berbahan dasar ikan yang diolah menggunakan bumbu alami dan teknik memasak yang tepat, sehingga tetap menghadirkan cita rasa khas daerah dengan komposisi yang lebih sesuai bagi pasien,” ucapnya.

Dalam edukasi tersebut, Ia juga memaparkan sejumlah strategi modifikasi makanan khas Minangkabau yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menyesuaikan penggunaan santan pada hidangan gulai. Penggunaan santan kental dapat dikurangi atau diganti dengan santan yang lebih encer. Susu rendah lemak tanpa tambahan gula juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pada resep tertentu, dengan memperhatikan kesesuaian bahan dan hasil pengolahan.

Teknik memasak turut menjadi perhatian. Pasien dianjurkan untuk lebih sering memilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang dibandingkan makanan yang digoreng. Cara pengolahan tersebut dapat membantu mengendalikan penggunaan minyak dan mengurangi tambahan lemak dari proses memasak.

Pilihan lauk juga perlu diperhatikan. Pasien dapat lebih sering mengonsumsi ikan yang diolah dengan cara sehat, disertai sayuran dalam jumlah cukup. “Buah-buahan utuh dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari dengan tetap memperhatikan jenis, porsi, serta kebutuhan karbohidrat masing-masing pasien. Konsumsi buah sebaiknya tidak disamakan dengan minuman sari buah yang ditambahkan gula karena bentuk dan komposisi konsumsinya berbeda,” tuturnya.

Pengaturan porsi nasi putih menjadi langkah penting berikutnya. Pasien tidak harus menghilangkan nasi sepenuhnya dari menu harian, tetapi perlu menyesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan energi, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, serta rencana makan yang telah disusun bersama tenaga kesehatan. Apabila memungkinkan, variasi sumber karbohidrat yang lebih kaya serat juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan individu.

Henny turut mengingatkan pentingnya mengurangi gula pada bumbu masakan. Cita rasa khas hidangan Minangkabau tetap dapat dipertahankan melalui pemanfaatan rempah-rempah secara tepat. Dengan demikian, modifikasi resep tidak semata-mata bertujuan mengurangi rasa, tetapi menyeimbangkan komposisi makanan agar lebih mendukung kesehatan.

Dalam memilih makanan, pasien juga dianjurkan menerapkan prinsip Isi Piringku sebagai panduan sederhana untuk mengatur komposisi makanan dalam satu kali makan. “Secara umum, setengah piring diisi dengan sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya diisi dengan makanan pokok dan lauk-pauk, dengan proporsi sayur dan buah lebih banyak daripada lauk dan makanan pokok. Panduan ini dapat membantu pasien menghindari kebiasaan mengambil nasi secara berlebihan serta mendorong konsumsi sayur dan buah yang lebih memadai,” tukasnya. ***