RS M Djamil Edukasi Pasien Kanker melalui Aplikasi ESER
Padang - RS M. Djamil memperkuat pemantauan pasien kanker setelah kemoterapi melalui inovasi Early Side Effect Response (ESER), sistem chatbot berbasis aplikasi dan website yang membantu pasien melaporkan efek samping pengobatan secara mandiri. Melalui edukasi kesehatan pada Senin, 12 Oktober 2026, RS M. Djamil mendorong deteksi dini keluhan dan respons penanganan yang lebih cepat demi meningkatkan keselamatan pasien.
Kegiatan yang dilaksanakan di Unit Kemoterapi Instalasi Diagnostik Terpadu ini diselenggarakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Unit Kemoterapi serta Himpunan Perawat Onkologi Indonesia (HIMPONI). Mengangkat tema Pemberdayaan Pasien Kanker melalui Edukasi Pemantauan Efek Samping Kemoterapi Berbasis Aplikasi ESER, kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yakni Ns. Magdalena, S.Kep., Ns. Siti Herlina Ali Sopiah, M.Kep., Sp.Kep.Onk., dan Ns. Espasari, S.Kep.
Ns. Magdalena, S.Kep., menjelaskan Early Side Effect Response (ESER) merupakan inovasi sistem chatbot otomatis berbasis aplikasi atau website yang dirancang untuk mendukung pemantauan efek samping kemoterapi. Inovasi ini diharapkan dapat mempermudah pasien melaporkan keluhan sekaligus membantu tenaga kesehatan memperoleh informasi mengenai kondisi pasien secara lebih terarah.
“Efek samping kemoterapi tidak selalu muncul ketika pasien masih berada di rumah sakit. Keluhan dapat dirasakan setelah pasien pulang, sehingga pasien perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenali gejala yang dialami dan mengetahui kapan harus melaporkannya kepada tenaga kesehatan,” jelasnya.
Ia menyampaikan, salah satu tantangan dalam perawatan pasien kanker adalah kesulitan mengenali tingkat keparahan gejala yang muncul setelah kemoterapi. Pasien terkadang menganggap keluhan tertentu sebagai hal yang biasa, padahal gejala tersebut dapat membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut. Keterlambatan dalam melaporkan keluhan berpotensi menghambat tenaga kesehatan dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
Melalui ESER, pasien didorong untuk lebih mandiri dalam menyampaikan efek samping yang dialami setelah menjalani kemoterapi. Sistem ini diharapkan membantu pasien mengakses informasi dan memperoleh arahan penanganan awal sesuai dengan keluhan yang dilaporkan. Dengan demikian, pasien memiliki sarana pendukung untuk mengenali gejala lebih dini dan memahami langkah yang perlu dilakukan ketika kondisi kesehatan berubah.
“Melalui edukasi ini, kami ingin pasien lebih memahami kondisi tubuhnya setelah kemoterapi, mampu mengenali tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dan tidak menunda pelaporan ketika mengalami keluhan. Pelaporan yang lebih cepat diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan menentukan langkah penanganan yang sesuai,” tambah Ns. Magdalena.
Selain mempermudah pelaporan, penerapan ESER diharapkan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien dalam menjalani pengobatan. “Pasien tidak hanya menjadi penerima layanan, tetapi juga berperan aktif dalam memantau kondisi kesehatannya sendiri. Keterlibatan tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan pasien,” sebutnya.
Dalam edukasi tersebut, pasien juga mendapatkan pemahaman tentang pentingnya memperhatikan perubahan kondisi tubuh setelah kemoterapi serta menyampaikan informasi yang relevan kepada tenaga kesehatan. Pemantauan yang berkelanjutan dapat membantu pasien dan tenaga kesehatan memahami perkembangan keluhan, sehingga tindak lanjut dapat diprioritaskan berdasarkan kondisi yang dilaporkan.
Dari sisi pelayanan, ESER berpotensi mendukung tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan gejala secara lebih terstruktur. Informasi yang disampaikan pasien dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan prioritas tindak lanjut dan kebutuhan komunikasi lebih lanjut dengan pasien. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan turut menunjang pelayanan keperawatan onkologi berbasis digital yang lebih responsif dan berkesinambungan.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi digital tetap perlu disertai pemahaman mengenai batasan penggunaannya. ESER merupakan sarana pendukung pemantauan dan pelaporan, bukan pengganti pemeriksaan maupun konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. “Apabila mengalami gejala berat atau tanda bahaya setelah kemoterapi, pasien perlu segera menghubungi tenaga kesehatan atau mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan sesuai arahan yang diberikan, tanpa menunggu respons melalui aplikasi,” tukasnya. ***