Senin, 12 Oktober 2026 16:37 WIB

Menembus Keterbatasan Fasilitas RSAB Harapan Kita Dorong Dokter Anak di Daerah Bangun Kesiapan Kognitif dan Visualisasi Mental Skrining PJB Kritis

Menembus Keterbatasan Fasilitas RSAB Harapan Kita Dorong Dokter Anak di Daerah Bangun Kesiapan Kognitif dan Visualisasi Mental Skrining PJB Kritis
Humas - RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta 34 kali dilihat

Jakarta – RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita kembali sukses menyelenggarakan Praktik Lapangan (Hands-On) Pelatihan Teknik Ekokardiografi Dasar bagi Dokter Spesialis Anak Batch 3 yang berlangsung pada Sabtu–Minggu, 10–11 Oktober 2026. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian program nasional pengampuan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) guna memperluas kapasitas skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Kritis pada bayi baru lahir di seluruh Indonesia.

Setelah melalui tahap teori via platform daring, para peserta yang terdiri dari dokter spesialis anak dari berbagai Rumah Sakit Madya Jejaring KIA mendapatkan penguatan materi visualisasi serta latihan praktik langsung (hands-on) penataan citra jantung pada pasien anak.

Rangkaian kegiatan pelatihan Batch 3 resmi ditutup oleh Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSAB Harapan Kita, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A., Subsp.G.H. (K), FISQua. Dalam sambutan penutupnya, dr. Ariani menyoroti tantangan nyata yang kerap dihadapi para dokter di daerah, yaitu jeda waktu antara pelatihan dan ketersediaan unit alat ekokardiografi di fasilitas kesehatan masing-masing.

Guna menjaga ketajaman kompetensi, dr. Ariani membagikan pendekatan klinis berupa latihan visualisasi mental dan simulasi kasus secara berkala.

"Kalau kata guru saya, biasanya kalaupun kita belum pernah melihat pasiennya atau alat/tindakannya belum ada, itu dibayangkan dan difasilitasi dalam pikiran dulu. Ini beneran," ujar dr. Ariani. "Jangan dilupakan, karena kalau dilupakan kita benar-benar akan lupa dan tidak bisa menggunakannya saat alat sudah ada. Lakukan visualisasi skenarionya berulang kali: bagaimana kondisi fisik pasien saat datang ke IGD atau Poli, apa yang dicari saat melakukan echo, hingga apa langkah penanganannya. Sehingga saat betul-betul menghadapi pasiennya, kita langsung siap dan tahu apa yang harus dilakukan."

Metode penguatan mental dan pemahaman pola gejala ini dinilai sangat krusial, terutama dalam mengenali kelainan langka maupun tanda-tanda awal PJB Kritis (seperti bayi sesak atau biru) sebelum bantuan alat tiba.

Selain kesiapan klinis, dr. Ariani juga mendorong para peserta dan manajemen RS di daerah untuk bersikap proaktif dalam mempersiapkan perencanaan fasilitas. Para dokter diimbau telah menyusun proposal kebutuhan spesifikasi alat dan perencanaan layanan dari sekarang. Langkah antisipatif ini penting agar ketika ada peluang pengadaan anggaran, pemenuhan dana sisa, maupun momentum respons atas insiden kesehatan di daerah, dokumen pengajuan sudah siap dan bisa langsung diproses tanpa harus memulai dari nol.

RSAB Harapan Kita bersama tim pengampu, diklat, dan humas menegaskan komitmen untuk terus mendampingi para alumni pelatihan. Komunikasi dan konsultasi klinis antar-dokter anak akan terus dibuka melalui jejaring grup diskusi medis (tele-mentoring) agar proses sharing kasus dan bimbingan jarak jauh tetap berjalan berkesinambungan.

Melalui pelaksanaan Batch 3 ini, RSAB Harapan Kita berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh dapat dibawa pulang ke daerah masing-masing untuk meningkatkan kualitas serta pemerataan layanan kesehatan anak di seluruh pelosok Nusantara. ***