Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Minggu, 18 Oktober 2026 18:41 WIB

RS M Djamil Tingkatkan Kompetensi Kepemimpinan dan Manajerial untuk Mutu Pelayanan

RS M Djamil Tingkatkan Kompetensi Kepemimpinan dan Manajerial untuk Mutu Pelayanan
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 18 kali dilihat

Padang - Menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks, RS M. Djamil terus memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kemampuan manajerial jajaran pimpinan untuk mewujudkan tata kelola rumah sakit yang efektif, profesional, dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan. Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Upgrading Kepemimpinan dan Manajerial yang diselenggarakan di The ZHM Premiere Hotel Padang, Sabtu-Minggu, 17-18 Oktober 2026.

Kegiatan yang diikuti jajaran direksi dan manajemen RS M. Djamil ini bertujuan meningkatkan kompetensi kepemimpinan, memperkuat koordinasi lintas unit, serta membangun budaya kerja yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil. Workshop ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi para pimpinan untuk memperdalam pemahaman mengenai kepemimpinan transformasional, manajemen kinerja, komunikasi efektif, serta pengelolaan perubahan dan konflik dalam organisasi pelayanan kesehatan.

“Workshop ini bukan sekadar kegiatan peningkatan kompetensi, tetapi merupakan bagian dari upaya kita memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola organisasi dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks,” kata Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, yang hadir secara virtual.

Workshop ini menghadirkan fasilitator dari TRUSTCO Cipta Mandiri, yakni Dr. BS Wibowo, SKM, MARS, MM, CPHR; Dr. M. Apud Kusaeri, S.Pd, M.Si; dan Fither Romilado, ST, MKM, M.Ling.

Para peserta mendapatkan pembekalan tentang sejumlah materi strategis, di antaranya Kepemimpinan Transformasional di Era Pelayanan Publik Modern, Manajemen Kinerja dan Budaya Kerja BerAKHLAK, Gaya Kepemimpinan Situasional dan Komunikasi Efektif, serta Manajemen Perubahan dan Manajemen Konflik.

Pada hari pertama, rangkaian kegiatan di antaranya meliputi Learning Commitment and Energizer, pre-test, Pohon Harapan, pembentukan kelompok, penyampaian aturan kegiatan, serta kuis dan permainan. Berbagai aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dirancang untuk mendorong keterlibatan aktif peserta sekaligus membangun suasana belajar yang interaktif.

Metode pembelajaran yang digunakan mencakup pendekatan andragogi, pembelajaran berbasis masalah atau problem-based learning, presentasi dengan berbagai media, diskusi, partisipasi aktif, serta pembelajaran berbasis pengalaman melalui simulasi permainan atau experiential learning. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu peserta memperoleh wawasan baru dan mengembangkan gagasan yang lebih matang untuk diterapkan dalam pelaksanaan tugas.

Sebagai rumah sakit Kementerian Kesehatan sekaligus rumah sakit rujukan, sebutnya, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab besar untuk terus meningkatkan mutu pelayanan, menjaga keselamatan pasien, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, serta memberikan pelayanan yang profesional, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Tanggung jawab tersebut tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan atau program kerja semata. Diperlukan kepemimpinan yang kuat, manajemen yang efektif, serta komitmen seluruh jajaran agar setiap kebijakan dapat diterjemahkan menjadi pelaksanaan nyata dengan hasil yang terukur.

“Kualitas kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan organisasi. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memastikan pekerjaan berjalan sesuai rutinitas. Pemimpin harus mampu melihat persoalan secara menyeluruh, menentukan prioritas, mengambil keputusan secara tepat, menggerakkan tim, dan memastikan setiap tanggung jawab dilaksanakan dengan baik,” tegasnya.

Ia menekankan setiap pejabat dan pimpinan unit di lingkungan RS M. Djamil harus memahami secara jelas tugas, fungsi, kewenangan, serta target kinerja yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Dengan demikian, pola kerja yang dibangun tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan rutin, tetapi juga pada pencapaian tujuan organisasi secara terencana dan terukur.

Dalam pengelolaan rumah sakit, lanjutnya, tantangan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan klinis, tetapi juga mencakup pengelolaan sumber daya manusia, efisiensi proses kerja, koordinasi lintas unit, pengendalian risiko, serta pencapaian target organisasi.

“Tantangan dalam pengelolaan rumah sakit tidak hanya berkaitan dengan aspek pelayanan klinis, tetapi juga menyangkut pengelolaan sumber daya manusia, efisiensi proses kerja, koordinasi lintas unit, pengendalian risiko, serta pencapaian target organisasi,” ungkapnya.

Oleh karena itu, kemampuan manajerial harus berjalan seiring dengan kemampuan kepemimpinan. Para pimpinan tidak hanya dituntut mampu mengelola pekerjaan dan memastikan target tercapai, tetapi juga harus mampu membangun tim yang solid, mengembangkan kompetensi staf, menyelesaikan konflik secara konstruktif, serta menciptakan lingkungan kerja yang produktif.

Dovy Djanas juga mengingatkan keberhasilan rumah sakit tidak ditentukan oleh satu direktorat atau satu unit kerja saja. Seluruh bagian merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung dan memengaruhi. Permasalahan pada satu unit dapat berdampak pada proses kerja dan kualitas pelayanan di unit lainnya.

“Untuk itu, ego sektoral harus kita hindari. Komunikasi dan koordinasi lintas direktorat, bidang, instalasi, departemen, dan unit kerja harus terus diperkuat. Setiap pimpinan harus memiliki perspektif yang lebih luas, yaitu menempatkan kepentingan dan tujuan rumah sakit di atas kepentingan unit masing-masing,” katanya.

Ia mengajak seluruh jajaran manajemen untuk membangun pola kerja yang mengedepankan kolaborasi, kesamaan arah, dan standar kinerja yang jelas. Dengan koordinasi yang kuat, berbagai tantangan dalam penyelenggaraan pelayanan dapat diidentifikasi dan diselesaikan secara lebih efektif.

“Kita harus bekerja sebagai satu tim, dengan arah yang sama, standar kinerja yang jelas, dan tujuan akhir yang sama, yaitu memberikan pelayanan terbaik bagi pasien dan masyarakat,” tambahnya.

Selain memperkuat kapasitas kepemimpinan dan manajerial, Dovy Djanas menekankan pentingnya penerapan budaya kerja BerAKHLAK sebagai landasan dalam menjalankan kepemimpinan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan melalui perilaku nyata, mulai dari pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, akuntabilitas dalam setiap keputusan, peningkatan kompetensi, sikap saling menghargai, loyalitas terhadap tujuan organisasi, kemampuan beradaptasi, hingga kolaborasi yang berkelanjutan.

Menurutnya, keteladanan pimpinan menjadi faktor penting dalam membangun budaya kerja tersebut. Disiplin, integritas, tanggung jawab, dan komitmen tidak cukup hanya disampaikan kepada staf, tetapi harus terlebih dahulu ditunjukkan melalui sikap dan tindakan para pemimpin.

“Dengan keteladanan yang konsisten, nilai-nilai BerAKHLAK diharapkan semakin melekat dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, sekaligus menjadi fondasi dalam membangun lingkungan kerja yang profesional, saling menghargai, dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan bahwa workshop ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan praktis para pimpinan dalam menjalankan fungsi kepemimpinan dan manajerial. Sasaran kegiatan ini meliputi peningkatan pemahaman tentang konsep dan praktik kepemimpinan transformasional serta situasional, penguatan keterampilan dalam manajemen sumber daya manusia, pengambilan keputusan, dan penyelesaian konflik. Selain itu, workshop ini bertujuan menumbuhkan budaya kerja yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil serta mendorong penerapan nilai-nilai BerAKHLAK dalam kepemimpinan sehari-hari.

“Peningkatan kapasitas pimpinan merupakan bagian penting dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di lingkungan rumah sakit. Pimpinan dengan kompetensi kepemimpinan dan manajerial yang baik diharapkan mampu mengarahkan tim secara efektif, mengoptimalkan potensi pegawai, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pencapaian target organisasi,” ucapnya.

Ia juga berharap para peserta dapat memahami pentingnya menyesuaikan pendekatan kepemimpinan dengan situasi, karakteristik tim, dan tantangan yang dihadapi. “Kemampuan membaca kondisi organisasi, membangun komunikasi yang efektif, serta menentukan pendekatan yang tepat menjadi modal penting dalam mengelola sumber daya manusia yang beragam,” tukas Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian ini. ***