Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Minggu, 18 Oktober 2026 18:44 WIB

RS M Djamil Dorong Pemimpin Adaptif dan Visioner melalui Workshop Kepemimpinan

RS M Djamil Dorong Pemimpin Adaptif dan Visioner melalui Workshop Kepemimpinan
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 17 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil terus mendorong lahirnya pemimpin yang adaptif, visioner, dan mampu menggerakkan perubahan demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Komitmen tersebut berlanjut pada hari kedua Workshop Upgrading Kepemimpinan dan Manajerial di The ZHM Premiere Hotel Padang, Minggu, 18 Oktober 2026, dengan fokus pada penguatan keterampilan coaching, pengembangan potensi diri, serta penyusunan rencana aksi nyata untuk meningkatkan kinerja organisasi.

Pada hari kedua ini, peserta mendapatkan pembekalan dari tiga fasilitator TRUSTCO Cipta Mandiri, yakni Dr. BS Wibowo, SKM, MARS, MM, CPHR; Dr. M. Apud Kusaeri, S.Pd, M.Si; dan Fither Romilado, ST, MKM, M.Ling. Materi yang diberikan dirancang untuk memperluas wawasan peserta tentang kepemimpinan yang efektif, mengoptimalkan potensi individu, serta mendorong lahirnya langkah-langkah nyata yang dapat diterapkan dalam lingkungan kerja.

Rangkaian kegiatan diawali dengan materi Coaching, Counseling dan Mentoring dalam Kepemimpinan yang disampaikan oleh Dr. BS Wibowo, SKM, MARS, MM, CPHR. Materi ini menekankan pentingnya kemampuan seorang pemimpin dalam membimbing, mendampingi, dan mengembangkan anggota tim agar mampu mencapai kinerja yang optimal. Dalam organisasi pelayanan kesehatan, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun tim yang solid, meningkatkan komunikasi, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan profesional.

Coaching, counseling, dan mentoring memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dalam proses pengembangan sumber daya manusia. Coaching membantu individu menggali kemampuan dan menemukan solusi melalui proses pendampingan yang terarah. Counseling memberikan ruang untuk memahami persoalan dan menentukan langkah penyelesaian yang tepat, sedangkan mentoring memungkinkan terjadinya transfer pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai profesional dari individu yang lebih berpengalaman kepada individu yang sedang berkembang.

Melalui pemahaman tersebut, para peserta diharapkan mampu menempatkan diri bukan hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai pembimbing yang dapat membantu anggota tim mengenali kekuatan, memperbaiki kekurangan, dan mengembangkan kapasitasnya. Kemampuan membangun hubungan kerja yang positif, mendengarkan secara aktif, serta memberikan umpan balik yang konstruktif menjadi aspek penting dalam menciptakan kepemimpinan yang mampu mendorong kemajuan organisasi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi Melejitkan Potensi, Melangitkan Visi yang disampaikan oleh Fither Romilado, ST, MKM, M.Ling. Materi ini mengajak peserta untuk mengenali potensi diri, memperluas cara pandang, dan membangun visi yang lebih kuat dalam menjalankan peran kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi saat ini, tetapi juga harus memiliki kemampuan melihat peluang, membaca tantangan, dan mempersiapkan organisasi menghadapi kebutuhan di masa mendatang.

Dalam konteks pelayanan rumah sakit, visi kepemimpinan perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang terukur dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan. Potensi individu yang dikembangkan secara optimal dapat menjadi modal penting untuk mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi lintas unit, dan meningkatkan efektivitas kerja. Karena itu, peserta didorong untuk tidak berhenti pada pemahaman terhadap konsep kepemimpinan, melainkan mampu menghubungkannya dengan kebutuhan nyata organisasi.

Materi berikutnya, Rencana Tindak Lanjut dan Komitmen Individu, disampaikan oleh Dr. M. Apud Kusaeri, S.Pd, M.Si. Sesi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian workshop karena mengarahkan peserta untuk menerjemahkan pengetahuan dan pengalaman selama pelatihan ke dalam rencana aksi yang dapat dilaksanakan setelah kegiatan berakhir.

Penyusunan rencana tindak lanjut membantu peserta mengidentifikasi aspek kepemimpinan dan manajerial yang perlu ditingkatkan, menetapkan prioritas perbaikan, serta merumuskan langkah konkret sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Sementara itu, komitmen individu menjadi landasan untuk memastikan bahwa berbagai pembelajaran yang diperoleh tidak berhenti sebagai wacana, tetapi benar-benar diwujudkan dalam perilaku kerja dan pengambilan keputusan sehari-hari.

Metode pembelajaran yang digunakan selama workshop mencakup pendekatan andragogi, pembelajaran berbasis masalah atau problem-based learning, presentasi dengan berbagai media, diskusi, partisipasi aktif, serta pembelajaran berbasis pengalaman melalui simulasi permainan atau experiential learning. Pendekatan ini dirancang untuk menempatkan peserta sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran, sehingga mereka tidak hanya menerima materi dari fasilitator, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman, menganalisis persoalan, dan merumuskan alternatif penyelesaian.

Melalui diskusi dan pembelajaran berbasis masalah, peserta dapat menghubungkan konsep yang disampaikan dengan berbagai tantangan yang mungkin dihadapi dalam menjalankan fungsi kepemimpinan. Sementara itu, simulasi permainan memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dengan mendorong kerja sama, komunikasi, kreativitas, pengambilan keputusan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.

Suasana workshop berlangsung dinamis melalui keterlibatan peserta dalam berbagai aktivitas dan games yang menjadi bagian dari proses pembelajaran. Aktivitas tersebut tidak hanya menghadirkan suasana yang lebih cair, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengenali pola komunikasi, memahami pentingnya koordinasi, serta melihat bagaimana peran individu memengaruhi pencapaian tujuan bersama.

Pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan interaktif tersebut diharapkan dapat membantu peserta memperoleh wawasan baru dan mengembangkan gagasan yang lebih matang untuk diterapkan dalam pelaksanaan tugas. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan sikap, penguatan kemampuan interpersonal, dan peningkatan kesiapan dalam menghadapi tantangan kepemimpinan.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil dr. Maliana, M.Kes dalam sambutan penutupan workshop menyampaikan harapan agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepemimpinan yang telah diperoleh selama kegiatan. Workshop ini diharapkan menjadi titik awal bagi perubahan positif dalam cara peserta memimpin, berkomunikasi, membangun kerja sama, dan menyelesaikan persoalan di unit kerja masing-masing.

“Setelah mengikuti workshop ini, kami berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Apa yang telah dipelajari hendaknya menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan, memperkuat kolaborasi, dan mendorong perbaikan berkelanjutan di lingkungan kerja masing-masing,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat belajar dan membangun budaya kerja yang saling mendukung. “Setiap pemimpin diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di unitnya, memberikan teladan bagi anggota tim, serta memastikan bahwa setiap upaya pengembangan sumber daya manusia bermuara pada peningkatan kinerja organisasi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tuturnya.

Berakhirnya workshop bukan menjadi akhir dari proses pembelajaran, sebut dr. Maliana, melainkan awal dari penerapan berbagai gagasan dan komitmen yang telah dibangun selama kegiatan. “Setiap peserta diharapkan mampu membawa semangat perubahan ke lingkungan kerja masing-masing, mengembangkan potensi anggota tim, serta membangun pola kepemimpinan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil,” tegas Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian ini.

Ia berharap melalui workshop ini, RS M. Djamil terus mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari upaya membangun organisasi yang profesional dan responsif terhadap tantangan pelayanan kesehatan. “Kepemimpinan yang kuat, kemampuan manajerial yang baik, serta komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan diharapkan menjadi modal penting dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan dan memberikan pengalaman pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, panitia juga menyerahkan hadiah kepada tim kelompok terbaik selama pelaksanaan workshop. Pemberian penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi, kerja sama, kreativitas, dan kontribusi peserta dalam mengikuti berbagai rangkaian pembelajaran. Selain menjadi bentuk penghargaan, momen tersebut sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan kompetisi yang sehat di antara peserta. ***