Kamis, 22 Agustus 2024 15:31 WIB

Otitis Media Supuratif Kronik sebagai Penyebab Gangguan Pendengaran

Responsive image
220
Promosi Kesehatan Tim Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Kehilangan kemampuan mendengar dalam rentang frekuensi normal dapat mengakibatkan gangguan komunikasi yang memengaruhi interaksi sosial. Gangguan pendengaran umum terjadi pada orang dewasa, OMSK adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi kronis di telinga tengah, rongga mastoid, dan membran timpani. Kondisi ini ditandai dengan keluarnya cairan (otorrhea) yang bersifat kronis atau persisten selama 2 hingga 6 minggu. Penyakit ini ditandai dengan keluarnya cairan (otorrhea) yang berlangsung kronis atau persisten selama 2 hingga 6 minggu. Biasanya terjadi pada anak-anak dan ditandai dengan perforasi spontan pada membran timpani akibat infeksi akut di telinga tengah. Infeksi pada OMSK dapat menyebabkan gangguan pendengaran karena peningkatan cairan serosa yang lama kelamaan mengakumulasi menjadi cairan mukus dan serosa, sehingga mengurangi kemampuan transmisi suara atau udara. Selain itu, pada OMSK sering ditemukan jaringan granulasi serta kerusakan pada rantai tulang pendengaran, yang mengganggu transmisi gelombang suara dan menyebabkan penurunan tingkat pendengaran. Gangguan pendengaran juga dapat disebabkan oleh kolesteatoma, yaitu pertumbuhan abnormal epitel skuamosa di telinga tengah dan mastoid yang dapat membesar dan merusak tulang pendengaran serta tulang mastoid. peningkatan morbiditas terkait dengan gangguan pendengaran konduktif pada pasien OMSK. Pada tahap yang lebih lanjut, kolesteatoma bisa merusak struktur intratemporal, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan gangguan pendengaran campuran. Gangguan pendengaran sering kali disebut sebagai "disabilitas tak terlihat" karena penderitanya tidak selalu menyadari dampak perubahan atau gangguan pada pendengaran mereka. Di Indonesia, gangguan pendengaran dan ketulian masih merupakan isu kesehatan sosial yang memerlukan penanganan yang menyeluruh dan terkoordinasi untuk mencapai pendengaran yang optimal. Gangguan pendengaran dan ketulian pada dasarnya bisa dicegah melalui deteksi dini dan penanganan terhadap penyebab yang mendasarinya. Infeksi telinga, terutama Otitis Media Serius Kronis (OMSK), merupakan salah satu masalah yang perlu ditangani untuk mengurangi gangguan pendengaran.

Tanda-Tanda dan Gejala

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) memiliki tanda dan gejala klinis. Penting untuk diperhatikan bahwa riwayat keluarnya cairan dari telinga (otorrhea) selama lebih dari dua bulan bisa menjadi indikasi masalah. Cairan ini bisa muncul secara terus-menerus atau bersifat hilang timbul, dan bisa berupa cairan bening atau nanah. Selain otorrhea, mungkin juga terdapat gejala lain seperti gangguan pendengaran, rasa penuh di telinga, otorrhea yang bersifat purulen atau mukoid, tinnitus, otalgia, dan terkadang vertigo.

Faktor Risiko Otitis Media Supuratif Kronik

1. Etiologi paling umum dari kondisi ini adalah infeksi virus. Infeksi pada saluran napas dapat mengganggu fungsi tuba eustachius, yang mengakibatkan penurunan tekanan di telinga tengah. Selain itu, bakteri dan virus yang memasuki telinga tengah melalui tuba eustachius dapat menyebabkan peradangan dan efusi di telinga tengah. Riwayat infeksi saluran napas atas secara signifikan meningkatkan risiko otitis media kronik. Penyakit ini biasanya dimulai dengan gejala demam pada anak, yang disertai dengan gejala lain seperti batuk kering atau berdahak, pilek, dan nyeri tenggorokan saat menelan.

2. Faktor genetik dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami otitis media.

3. Anak-anak yang mengidap sindrom Down sering mengalami infeksi telinga tengah (OMA). Selain itu, infeksi ini juga sering terjadi pada anak-anak dengan gangguan kraniofasial dan palatoskisis yang belum diperbaiki. Frekuensi tinggi dari kondisi ini terkait dengan ketidak berfungsian tuba eustachius.

4. Faktor risiko utama untuk OMSK adalah alergi, yang juga dikenal sebagai atopi. Alergi pada saluran pernapasan, seperti rinitis alergi, dapat meningkatkan risiko terjadinya OMSK. Pada pasien dengan OMSK, sekitar 24-89% mengalami kondisi atopik, termasuk rinitis alergi.

5. Hubungan antara faktor sosial ekonomi dan kejadian OMSK masih belum sepenuhnya dipahami, namun terdapat indikasi bahwa kelompok dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung mengalami insiden OMSK yang lebih tinggi. Meski demikian, hubungan ini lebih sering dihubungkan dengan kondisi kesehatan secara umum, pola makan, dan kepadatan tempat tinggal.

 

Referensi :

Istiqomah Sn, Imanto M. 2019. Hubungan Kualitas Hidup Lansia dengan Gangguan Pendengaran. Majority.

Hendra Wirawan T, Made Sudipta I, Dwi Sutanegara Sw. 2014. Karakteristik Penderita Otitis Media Supuratif Kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Periode Januari - Desember.

Chowdary K.V.K., Chandra N. S., Madesh R. K. 2012. Preauricular Sinus : a Novel Approach. Indian Journal of Otolaryngology and Head and Neck Surgery : Official Publication of the Association of Otolaryngologists of India.

Dunham, B., Guttenberg, M., Morrison, W., & Tom, L. 2009. The Histologic Relationship of Preauricular Sinuses to Auricular Cartilage. Archives of Otolaryngology-Head & Neck Surger.