Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan 860.100 kasus baru TBC per tahun, di bawah India. Estimasi Kasus 1,06 juta kasus per tahun (WHO, 2023), dengan 125.000 kematian. Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis dengan angka kematian di Indonesia mencapai 136 ribu orang setiap tahunnya, yang berarti setiap 5 menit ada 1 orang meninggal karena TBC. Oleh sebab itu hingga saat ini Tuberkulosis masih menjadi prioritas utama di dunia dan menjadi salah satu tujuan dalam SDGs (Sustainability Development Goals).
Tes IGRA adalah salah satu metode modern untuk mendeteksi infeksi Tuberkulosis (TBC) yang banyak digunakan di rumah sakit. Pemeriksaan ini menjadi solusi bagi seseorang yang ingin mendapatkan hasil diagnosis TBC lebih akurat, terutama jika memiliki faktor risiko tinggi terkena TBC.
IGRA (Interferon Gamma Release Assays) merupakan pemeriksaan darah yang digunakan untuk menentukan Tuberkulosis (TB) laten dengan mengukur respon imun individu. Prinsip IGRA ini adalah mendeteksi interferon gamma yang disekresi oleh sel T sebagai respon restimulasi kembali dari antigen spesifik Mycobacterium tuberculosis. Tes IGRA (Interferon Gamma Release Assay) adalah jenis tes TBC yang dianggap lebih unggul dibandingkan tes tuberkulin (tes Mantoux). Hal ini karena hasil tes IGRA tidak dipengaruhi oleh riwayat vaksinasi BCG, serta bisa membantu membedakan infeksi TBC aktif dan laten. Meskipun belum tersedia di semua fasilitas kesehatan, tes IGRA kini diakui sebagai pemeriksaan yang efektif untuk deteksi dini TBC, terutama pada kelompok berisiko tinggi atau ketika hasil tes tuberkulin menunjukkan keraguan.
Prosedur dan Fungsi Tes IGRA dalam Deteksi TBC
Tes IGRA adalah salah satu pilihan pemeriksaan TBC yang akurat, terutama bagi Anda yang memiliki riwayat vaksinasi BCG, pernah kontak erat dengan penderita TBC, atau memiliki faktor risiko khusus, seperti gangguan imun.
Tes IGRA dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi TBC laten (tanpa gejala) maupun TBC aktif. Namun, hasil tes tetap harus diinterpretasi bersama dokter, terutama jika terdapat gejala atau hasil pemeriksaan lain yang meragukan.
Jadi, jika Anda dinyatakan positif TBC melalui tes IGRA atau tes lainnya, segera konsultasikan ke dokter untuk penegakan diagnosis dan merencanakan pengobatan yang tepat.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai bagaimana tes IGRA bekerja dalam diagnosis TBC :
1. Tes IGRA dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pasien, tidak seperti tes Mantoux yang menggunakan suntikan di bawah kulit.
2. Sampel darah segera dikirim ke laboratorium khusus untuk dianalisis. Proses ini harus dilakukan dalam waktu singkat agar hasil tetap akurat.
3. Di laboratorium, sampel darah akan dicampurkan dengan protein khusus dari bakteri TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Hal ini bertujuan untuk melihat bagaimana respons sel imun tubuh terhadap paparan protein tersebut.
4. Laboratorium akan menilai jumlah interferon gamma yang dilepaskan oleh sel imun pada sampel darah. Hasil ini menunjukkan apakah tubuh pernah terpapar bakteri TBC.
5. Selanjutnya, hasil tes IGRA dikirimkan ke dokter yang memeriksakan pasien. Tergantung dari hasil tes, dokter nantinya bisa merekomendasikan pemeriksaan lanjutan bila diperlukan.
Keunggulan Tes IGRA
Inilah beberapa keunggulan melakukan tes IGRA untuk deteksi TBC :
1. Hasil tes tidak dipengaruhi oleh riwayat vaksinasi BCG.
2. Lebih spesifik dalam mendeteksi infeksi karena hanya mengukur respons terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis.
3. Risiko salah-positif lebih rendah, khususnya pada orang yang sudah pernah vaksin BCG atau terpapar bakteri TBC selain Mycobacterium tuberculosis.
4. Tidak memerlukan kunjungan ulang ke rumah sakit atau klinik untuk membaca hasil tes, berbeda dengan tes Mantoux.
5. Prosedur pengambilan sampel darah sederhana dan tidak menyebabkan reaksi pada kulit.
Keterbatasan Tes IGRA
Sementara itu, ada juga beberapa keterbatasan tes IGRA yang patut dipertimbangkan, seperti :
1. Tidak bisa membedakan secara pasti antara infeksi TBC laten (tidak ada gejala) dengan TBC aktif tanpa dukungan pemeriksaan lain, seperti rontgen paru atau pemeriksaan dahak.
2. Hasil tes tetap harus diinterpretasikan oleh dokter dan perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan tambahan apabila terdapat gejala TBC.
3. Tes IGRA tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada setiap orang, melainkan lebih ditujukan untuk kelompok berisiko tinggi atau ketika hasil tes tuberkulin menimbulkan keraguan.
Tes IGRA juga memerlukan peralatan laboratorium khusus yang belum tersedia di semua rumah sakit atau klinik. Selain itu, biaya pemeriksaan ini umumnya lebih tinggi dibandingkan tes tuberkulin (tes Mantoux).
Kesimpulannya, tes IGRA merupakan alat penting dalam mendeteksi infeksi TBC dengan tingkat keakuratan yang tinggi, terutama pada kelompok berisiko. Jika Anda memiliki faktor risiko atau ingin memastikan status TBC setelah kontak dengan penderita, konsultasikan pemeriksaan ini dengan dokter.
Referensi :
Evriana Citra. 2020. Interferon Gamma Release Assay sebagai Diagnosis Infeksi Laten Mycobacterium tuberculosis. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung.
Daffa Muhammad Ramdhan. 2025. Profil Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk Deteksi Tuberkulosis Laten pada Karyawan Universitas Jenderal Achmad Yani. Jurnal Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Jawa Barat.
Waode Ratmila. 2021. Perbandingan Hasil Interferon Gamma Release Assay (IGRA) pada Kehamilan dan Pasca Salin pada Kelompok Risiko Tinggi Tuberkulosis Paru. Jurnal Kesehatan Universitas Hasanudin Makasar.
Alhawaris. 2020. Risiko Infeksi Mycobacterium tuberculosis pada Orang yang Tinggal Serumah dengan Penderita Tuberkulosis di Makassar. Jurnal Kesehatan Universitas Mulawarman, Samarinda.