Senin, 06 April 2026 15:12 WIB

Setelah Stroke Masalah Belum Selesai

Responsive image
27
dr Khoironi Rachmad Damarjati SpN dkk - RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Banyak orang merasa “aman” setelah pulang dari rumah sakit, padahal risiko serangan jantung, stroke berulang, bahkan kematian masih tinggi setelahnya.Tim dokter saraf dari FK-KMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito menemukan cara sederhana mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi. Faktanya, dalam 1 tahun setelah stroke, hampir 1 dari 2 pasien mengalami kejadian serius pada jantung, otak, dan pembuluh darah. Risiko paling besar ada di 3 bulan pertama saat pasien dan keluarga sering mulai lengah.

Tim dokter saraf dari FK-KMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito menemukan cara sederhana untuk mengidentifikasi pasien stroke dengan risiko tinggi kejadian kardioserebrovaskular di kemudian hari. Solusinya adalah kombinasi gula darah dan lemak darah (trigliserida) yang dihitung menjadi Indeks Trigliserida-Glukosa (ITG). ITG adalah angka yang dihitung dari hasil gula darah puasa dan trigliserida puasa. Pemeriksaan tersebut sudah dapat dilakukan di berbagai fasilitas kesehatan. ITG mendeteksi resistensi insulin, yaitu kondisi saat tubuh mulai “kebal” insulin dan gula darah sulit dikendalikan. Kondisi ini diam-diam merusak pembuluh darah dan mempermudah sumbatan.

Semakin tinggi nilai ITG maka semakin besar resiko kardiovaskular yang dimiliki pasien. Pasien stroke dengan nilai ITG tinggi (lebih besar sama dengan 9,23) memiliki risiko 1,7 kali lebih besar mengalami kejadian kardiovaskular serius dalam setahun. Risiko semakin melonjak apabila pasien juga memiliki penyakit jantung, stroke berat, atau ketergantungan dalam aktivitas harian.

Ketika kadar gula dan lemak dalam darah tidak terkontrol, berbagai perubahan berbahaya dapat terjadi pada sistem pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi lebih kaku dan rentan mengalami kerusakan, sementara darah juga lebih mudah membentuk gumpalan. Pada saat yang sama, proses peradangan di dalam tubuh meningkat dan plak yang menempel pada dinding pembuluh darah menjadi lebih tidak stabil sehingga mudah pecah dan menyumbat aliran darah. Kondisi-kondisi ini pada akhirnya dapat memicu Major Adverse Cardiovascular Events (MACE), seperti serangan jantung, stroke berulang, hingga kematian.

Pemulihan setelah stroke tidak hanya berfokus pada latihan fisik, tetapi juga memerlukan pengelolaan kesehatan secara menyeluruh. Pasien dianjurkan untuk rutin memeriksa kadar gula darah dan trigliserida, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan yang sehat, serta tetap aktif bergerak. Selain itu, pengendalian penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan jantung juga sangat penting untuk mencegah komplikasi. Melalui pemeriksaan sederhana seperti ITG, dokter dapat menentukan penanganan yang lebih tepat dan terarah sesuai dengan kondisi pasien.

Bagi penyintas stroke dan keluarganya, penting untuk aktif berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi kesehatan setelah serangan stroke. Tanyakan bagaimana kadar gula darah dan trigliserida, serta apakah perlu dilakukan perhitungan Indeks Trigliserida–Glukosa (ITG) untuk menilai risiko kesehatan lebih lanjut. Jangan merasa cukup hanya karena kondisi fisik sudah membaik, seperti sudah dapat berjalan atau hasil CT scan terlihat baik. Upaya menjaga kadar gula darah tetap terkontrol dan mengendalikan lemak darah sangat penting untuk melindungi jantung dan otak, sehingga penyintas stroke dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bahagia bersama keluarga.

 

Referensi:

Damarjati K.R. (2025). Indeks Trigliserida-Glukosa sebagai Prediktor Major adverse Cardiovascular Events Satu Tahun Pasca-Stroke Iskemik Akut: Studi Kohort Retrospektif. (Tesis, Universitas Gadjah Mada).