Senin, 06 April 2026 15:25 WIB

Manfaat Puasa Intermitten Bagi Individu dengan Obesitas

Responsive image
41
dr I Dewa Ayu Mirah Pramesti Putri SpPD dkk - RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Penyakit tidak menular kini menjadi ancaman utama bagi kesehatan. Berdasarkan data WHO tahun 2018, penyakit ini telah membunuh 36 juta manusia setiap tahunnya atau penyebab 60% seluruh kematian secara global dengan 80% terjadi di negara berkembang. Penyakit jantung termasuk salah satu penyakit tidak menular. Secara global, penyakit jantung menyebabkan sekitar 17,9 juta kematian setiap tahun. Sebagian risikonya memang tidak bisa diubah (usia, jenis kelamin, genetik),
namun banyak resiko yang bisa dikendalikan, salah satunya adalah obesitas.


Obesitas berperan besar karena memicu peradangan, gangguan metabolisme lemak, dan kerusakan pembuluh darah yang dapat mengakibatkan penyakit jantung. Salah satu penanda risiko jantung adalah rasio Trigliserida (TG) / HDL, yang dapat membantu mendeteksi risiko kardiometabolik sejak dini, bahkan pada orang yang tampak sehat.


Rasio TG/HDL adalah perbandingan antara kadar trigliserida (TG) dan kolesterol HDL dalam darah. Trigliserida sering disebut sebagai “lemak jahat” karena jika kadarnya tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pembuluh darah, sedangkan HDL dikenal sebagai “kolesterol baik” yang membantu membersihkan kelebihan lemak dari aliran darah. Ketika kadar trigliserida tinggi dan HDL rendah, risiko terjadinya penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular lainnya dapat meningkat. Oleh karena itu, semakin rendah rasio TG/HDL, semakin baik kondisi kesehatan jantung seseorang.


Puasa intermiten adalah metode pengaturan pola makan yang berfokus pada pengaturan waktu makan, bukan hanya jenis makanannya. Dalam penelitian ini, peserta menjalani puasa selama 3 hari setiap minggu selama 6 minggu, dengan durasi puasa 12 jam setiap harinya (pukul 06.00–18.00). Studi tersebut melibatkan 25 orang dewasa dengan obesitas berusia di atas 18 tahun tanpa penyakit penyerta. Untuk menilai dampaknya, sebelum dan setelah periode 6 minggu dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, serta pemeriksaan profil lemak darah guna melihat perubahan kondisi metabolik mereka.


Setelah menjalani puasa intermiten selama 6 minggu, peserta penelitian menunjukkan berbagai perbaikan yang bermakna, mulai dari penurunan berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang, hingga berkurangnya persentase lemak tubuh. Selain itu, kadar trigliserida juga menurun dan rasio TG/HDL membaik secara signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa puasa intermiten tidak hanya membantu mengontrol berat badan, tetapi juga memperbaiki profil lemak darah dan berpotensi menurunkan risiko penyakit jantung. Perbaikan rasio TG/HDL terutama dipengaruhi oleh turunnya kadar trigliserida dalam darah.


Saat menjalani puasa intermiten selama 12–36 jam, tubuh secara bertahap berhenti mengandalkan gula sebagai sumber energi utama dan beralih membakar lemak. Dalam proses ini, trigliserida dipecah menjadi asam lemak, kemudian diolah di hati menjadi badan keton yang dapat digunakan oleh sel dan jaringan sebagai bahan bakar. Perubahan metabolisme ini berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol baik (HDL), penurunan trigliserida dan kolesterol jahat (LDL), pengurangan lemak tubuh, serta perbaikan sensitivitas insulin. Peralihan dari pembakaran gula ke pembakaran lemak inilah yang membuat puasa intermiten berpotensi membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki komposisi tubuh, karena tubuh menjadi lebih efisien dalam memanfaatkan cadangan lemak sebagai energi, bukan sekadar menahan rasa lapar.


Puasa intermiten dapat menjadi salah satu pilihan strategi untuk membantu mengendalikan berat badan dan meningkatkan kesehatan pada individu dengan obesitas. Meski demikian, keberhasilannya tetap bergantung pada kualitas asupan makanan yang dikonsumsi saat waktu makan. Penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memulai, terutama bagi individu dengan kondisi medis tertentu, karena metode ini tidak disarankan tanpa pengawasan profesional pada beberapa penyakit. Dengan pengelolaan yang tepat, menjaga berat badan berarti juga menjaga kesehatan jantung dan kualitas hidup di masa depan.

 

Referensi: 
Putri I.D.A.M.P. (2025). Pengaruh Puasa Intermiten terhadap Rasio Triglyceride/High Density Lipoprotein pada Obesitas. (Tesis, Universitas Gadjah Mada).