Senin, 06 April 2026 15:31 WIB

Obesitas pada Ibu Hamil dan Risiko Distres Respirasi pada Bayi Baru Lahir

Responsive image
280
dr Ni Made Adi Purnami MSc SpAK dkk - RSUP dr. Sardjito Yogyakarta

Obesitas merupakan kondisi ketika jumlah lemak tubuh berlebihan hingga menimbulkan berbagai risiko kesehatan. Saat ini, angka obesitas pada wanita usia produktif terus meningkat di seluruh dunia, sehingga semakin banyak ibu hamil yang mengalami obesitas. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan bayi yang dikandung, baik selama kehamilan maupun setelah lahir.

Salah satu masalah yang dapat terjadi pada bayi baru lahir adalah distres respirasi. Distres respirasi adalah kondisi ketika bayi mengalami kesulitan bernapas sehingga tidak mampu mempertahankan pernapasan yang stabil. Hal ini terjadi karena proses masuknya udara ke paru-paru dan pertukaran oksigen tidak berjalan dengan optimal. Gejala yang dapat terlihat antara lain napas cepat, adanya tarikan pada dinding dada, serta bayi tampak sesak. Kondisi ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup sering terjadi pada bayi baru lahir dan membutuhkan perhatian khusus.

Penelitian yang dilakukan di RSUP Dr. Sardjito menggunakan data rekam medis dari 182 ibu yang melahirkan. Dalam penelitian ini, ibu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ibu dengan obesitas dan ibu tanpa obesitas. Selanjutnya, peneliti mengamati apakah bayi yang dilahirkan mengalami distres respirasi atau tidak, lalu menganalisis hubungan antara kondisi obesitas ibu dengan kejadian gangguan pernapasan pada bayi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami distres respirasi setelah lahir. Bahkan setelah mempertimbangkan berbagai faktor lain, peningkatan risiko tersebut tetap ditemukan. Selain itu, terdapat faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko distres respirasi pada bayi, yaitu kelahiran prematur sebelum usia kehamilan 35 minggu serta tidak diberikannya terapi steroid pada kehamilan berisiko.

Secara fisiologis, hubungan antara obesitas ibu dan distres respirasi bayi berkaitan dengan peran hormon insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berfungsi mengatur kadar gula serta lemak dalam darah. Setelah makan, insulin membantu memasukkan gula dari darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi, serta berperan dalam pembentukan lemak dan protein. Namun, pada kondisi obesitas, tubuh sering mengalami resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Akibatnya, kadar gula dalam darah menjadi meningkat.

Pada ibu hamil dengan obesitas, resistensi insulin menyebabkan kadar gula darah lebih tinggi dan dapat dengan mudah ditransfer ke janin melalui plasenta. Kondisi ini membuat kadar gula dalam tubuh janin ikut meningkat, sehingga janin memproduksi lebih banyak insulin. Kadar gula dan insulin yang tinggi pada janin dapat mengganggu pembentukan surfaktan, yaitu zat penting yang membantu paru-paru bayi mengembang dan berfungsi dengan baik saat lahir. Jika pembentukan surfaktan tidak optimal, bayi berisiko mengalami gangguan pernapasan atau distres respirasi setelah lahir.

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa obesitas pada ibu hamil berhubungan dengan peningkatan kejadian distres respirasi pada bayi baru lahir. Ibu dengan obesitas memiliki kemungkinan hingga dua kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan gangguan pernapasan dibandingkan ibu yang tidak obesitas.

Oleh karena itu, penting bagi setiap perempuan yang sedang merencanakan kehamilan maupun yang sedang hamil untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Konsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai berat badan, menjaga pola makan seimbang, serta tetap aktif secara fisik sesuai anjuran dokter merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko dan mendukung kesehatan ibu serta bayi.

 

Referensi:

Purnami, N.M.A. (2025). Obesitas pada Ibu sebagai Faktor Resiko Distres Respirasi Paru pada Bayi Baru Lahir. (Tesis, Universitas Gadjah Mada)