Kanker otak adalah kondisi pertumbuhan sel abnormal di otak yang dapat dikategorikan menjadi kanker otak primer dan sekunder. Kanker otak primer berasal dari jaringan otak itu sendiri, sementara kanker sekunder merupakan hasil penyebaran kanker dari bagian tubuh lain atau merupakan bentuk penyebaran kanker (metastasis). Berdasarkan data dari berbagai penelitian, tumor otak menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada anak-anak dan remaja. Di Indonesia, terdapat sekitar 300 pasien setiap tahunnya yang didiagnosis menderita tumor otak, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Deteksi dini menjadi sangat penting, mengingat banyak orang mengabaikan gejala awal tumor otak. Salah satu metode pencitraan medis yang banyak digunakan adalah MRI (Magnetic Resonance Imaging), yang mampu memberikan informasi mendalam mengenai jaringan otak dibandingkan dengan CT-Scan. Dokter biasanya menggunakan biopsi atau pengamatan manual untuk mendiagnosis tumor otak. Namun, metode ini memerlukan waktu yang lama dan memiliki risiko kesalahan. Untuk mengatasi keterbatasan metode konvensional, kecerdasan buatan, khususnya metode deep learning seperti CNN, telah diterapkan dalam pengenalan pola citra medis. CNN mampu melakukan ekstraksi fitur secara otomatis dan menghasilkan prediksi yang lebih akurat dibandingkan metode tradisional. Otak berperan penting dalam mengendalikan seluruh fungsi tubuh, mulai dari pergerakan, metabolisme, pernapasan, pengaturan suhu tubuh, hingga kemampuan berpikir dan mengingat. Oleh karena itu, ketika kanker otak berkembang, berbagai fungsi tubuh dapat ikut terganggu.
Jenis Kanker Otak
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, ada lebih dari 130 jenis kanker otak yang telah berhasil teridentifikasi. Namun, berikut adalah jenis kanker otak yang umum menyerang manusia :
1. Kanker Otak Glioma
Glioma adalah jenis kanker otak yang berasal dari sel glial, yaitu sel pendukung yang berfungsi membantu sel saraf dalam sistem saraf pusat. Jenis glioma yang umum meliputi glioma astrocytoma, glioblastoma multiforme, dan glioma oligodendroglioma. Saat mengalami glioma, seseorang akan menunjukkan gejala berikut ini.
2. Meningioma
Selanjutnya ada tumor otak meningioma, jenis tumor yang berasal dari selaput yang melapisi otak dan sumsum tulang belakang atau meninges. Meski sebagian besar meningioma bersifat jinak, beberapa kasus dapat bersifat ganas. Adapun gejala dari tumor otak meningioma dapat meliputi :
3. Kanker Otak Medulloblastoma
Kemudian, tumor otak medulloblastoma, jenis yang umum terjadi pada anak. Kanker otak jenis ini menyerang bagian serebelum yang bertanggung jawab atas koordinasi gerakan dan keseimbangan. Gejala yang mungkin terjadi antara lain :
4. Tumor Hipofisis atau Adenoma Pituitari
Tumor hipofisis atau adenoma pituitari adalah jenis kanker otak yang menyerang bagian kelenjar pituitari. Bagian tersebut memiliki fungsi utama untuk mengendalikan banyak fungsi tubuh dan merilis hormon ke aliran darah. Tumor jenis ini umumnya terjadi pada orang dewasa dengan tingkat keganasan yang rendah atau jinak.
Perlu kamu ketahui bahwa gejala yang muncul pada adenoma pituitari berbeda pada setiap orang. Hal ini bergantung pada aktivitas sel tumor, apakah mengeluarkan hormon atau tidak. Namun, ada gejala umum yang bisa kamu kenali, yaitu :
5. Craniopharyngioma
Craniopharyngioma adalah jenis tumor otak yang menyerang area yang dekat dengan mata atau sekitar area bawah otak yang dekat dengan kelenjar pituitari. Kanker otak jenis ini juga dapat menyerang anak dan lansia, tetapi sifatnya jinak. Adapun tanda dan gejala yang muncul dari tumor otak ini yaitu :
6. Kanker Otak Neuroma Akustik
Memiliki nama lain schwannoma vestibular, neuroma akustik adalah jenis kanker otak yang jinak yang muncul pada area sel Schwann. Sel tersebut ada pada area luar dari saraf vestibulocochlear, yaitu saraf yang menjadi penghubung otak pada telinga dengan fungsi utama mengendalikan keseimbangan dan pendengaran.
Umumnya, sel kanker jenis ini bersifat jinak dan tumbuh secara lambat. Inilah sebabnya, pengidap kerap tidak menunjukkan adanya gejala. Akan tetapi, tumor otak ini juga menunjukkan gejala pada beberapa orang, seperti vertigo, telinga berdengung pada satu atau keduanya, dan wajah mengalami mati rasa.
Referensi :
Dotti Inggrianita, dkk. 2022. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Prognosis Pasien Tumor Otak Metastasis di RSUD Saiful Anwar Malang. Jurnal Penelitian Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.
Mohammad Ghozali. 2020. Jurnal Review : Pengobatan Klinis Tumor Otak pada Orang Dewasa. Jurnal Kesehatan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.
Vikky Ainunnikmah, dkk. 2023. Klasifikasi Tumor Otak Menggunakan CNN. Jurnal Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang.
Belsuzarri, T. B., & Araujo, J. M. 2015. Brain Tumor Surgery : Supplemental Intra-Operative Imaging Techniques and Future Challenges. Journal of Cancer Metastasis and Treatment.
De Smalen, P. P., Van Ark, T. J., Stolker, R. J., Vincent, A. J. P. E., & Klimek, M. 2020. Hyperlactatemia after Intracranial Tumor Surgery Does Not Affect 6-Month Survival : a Retrospective Case Series. Journal of Neurosurgical Anesthesiology.