Senin, 24 Agustus 2026 11:21 WIB

Yang Perlu Diketahui oleh Orang Tua Setelah Bayi Dilahirkan

Responsive image
15
Samuel Yan Touw - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Kaki pengkor adalah salah satu kelainan bawaan yang paling sering ditemukan pada bayi baru lahir. Di Indonesia, kondisi ini menjadi kelainan bawaan paling umum, dengan angka mencapai 21,9% dari seluruh kasus kelainan bawaan. Sayangnya, sekitar setengah dari bayi yang lahir dengan kaki pengkor tidak mendapatkan terapi, sehingga berisiko menjadi penyebab utama disabilitas saat dewasa.

Dalam istilah medis, kondisi ini disebut Congenital Talipes Equino Varus (CTEV). Kaki bayi tampak lebih kecil, menekuk ke dalam, telapak kaki menghadap ke atas, dan tumit seolah terangkat ke arah bokong, sehingga kaki terlihat lebih pendek dan bengkok seperti terkilir. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan anak untuk berdiri dan berjalan normal.

Penyebab pasti dari CTEV belum diketahui, tetapi beberapa faktor risiko meliputi: kehamilan kembar, posisi bayi sungsang, kelainan bentuk rahim, air ketuban sedikit, riwayat keluarga dengan kaki pengkor, ibu merokok atau mengonsumsi alkohol saat hamil, serta kelainan genetik yang mempengaruhi otot dan sendi kaki janin.

Kaki pengkor bisa terdeteksi sejak dalam kandungan melalui USG, atau segera setelah lahir lewat pemeriksaan fisik dokter. Jika ditemukan tanda kelainan, bayi akan dirujuk ke dokter spesialis ortopedi untuk pemeriksaan lanjutan.

Terapi utama adalah memperbaiki posisi kaki secara manual dan bertahap, lalu mempertahankannya dengan gips yang dievaluasi dan disesuaikan setiap 1–2 minggu, selama total 4–8 minggu. Setelah gips dilepas, bayi perlu memakai sepatu penyangga khusus hingga usia 3–4 tahun, disertai fisioterapi agar bisa belajar berdiri dan berjalan dengan normal.

Terapi paling efektif jika dimulai sebelum usia 1 tahun, idealnya pada 1–2 minggu pertama setelah lahir. Jika terapi gips tidak berhasil, dokter dapat menyarankan koreksi melalui operasi. Kesabaran dan kedisiplinan orang tua dalam menjalani kontrol rutin sangat menentukan keberhasilan terapi.

Bayi yang menjalani terapi hingga tuntas umumnya sembuh dengan baik, dan angka kekambuhan hanya sekitar 20%. Sebaliknya, tanpa terapi, anak dapat kesulitan berdiri dan berjalan karena nyeri, berisiko berjalan pincang, hingga mengalami radang sendi kronis dan penurunan produktivitas saat dewasa.

Tidak semua kelainan bawaan bisa dicegah, tetapi resikonya dapat diturunkan dengan: menghindari asap rokok dan alkohol selama kehamilan, rutin mengkonsumsi asam folat dan zat besi, serta memeriksakan kehamilan secara berkala untuk deteksi dini.

Kaki pengkor bukan akhir dari masa depan anak. Dengan penanganan yang tepat dan cepat, anak tetap punya kesempatan besar untuk bisa berdiri, berjalan, dan berlari seperti anak-anak lainnya.

 

Referensi :

 

Barrie A, Varacallo MA. Clubfoot. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551574/

Genetics, epidemiology and management of clubfoot and related disorders Muhammad Umar, Liping Tong, Hongting Jin, Tamas Terebessy, Di Chen.2025

Sumber gambar:

https://elgeaditraumatologia.com/wp-content/uploads/2022/02/Que-es-el-pie-equinovaro.jpg

https://i.ytimg.com/vi/PabItKvmk-E/maxresdefault.jpg

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRXMbIqlTA8P_Vf-VSgvNbRolKNfNy-BFobbFz8mCNUtg&s=10

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTypGKhi5FlOILBL7_-n9i9iIOjtmB0_4kLQuSRnG1wL6vS2-uqV1eeROeV&s=10