“Sudah operasi, kok masih sakit?”
Pertanyaan ini sering muncul setelah seseorang menjalani operasi. Rasa nyeri setelah pembedahan memang dapat membuat pasien dan keluarga khawatir, terutama ketika nyeri terasa saat bergerak, berdiri, atau mulai menjalani latihan. Yang penting bukan hanya seberapa sakit yang dirasakan, tetapi juga apakah nyeri berangsur membaik atau justru semakin berat dan disertai gejala lain.
Mengapa Setelah Operasi Kita Merasakan Nyeri? Operasi menyebabkan cedera jaringan yang memang dilakukan secara terkontrol untuk mengatasi masalah kesehatan. Sebagai respons terhadap cedera tersebut, tubuh mengaktifkan proses peradangan dan penyembuhan yang dapat menimbulkan rasa sakit.
Intensitas nyeri berbeda pada setiap orang. Jenis operasi, lokasi pembedahan, kondisi kesehatan, pengalaman nyeri sebelumnya, hingga faktor psikologis dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan nyeri. Pada operasi ortopedi, pengelolaan nyeri menjadi sangat penting karena nyeri yang tidak terkendali dapat membuat pasien enggan bergerak dan mengikuti program rehabilitasi.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah multimodal analgesia, yaitu menggabungkan beberapa metode pengendalian nyeri sesuai kondisi pasien. Pendekatan ini bertujuan mendapatkan kontrol nyeri yang lebih baik sekaligus mengurangi kebutuhan opioid (Paul et al., 2022).
Dengan demikian, mengendalikan nyeri bukan hanya untuk membuat pasien merasa nyaman, tetapi juga membantu proses pemulihan dan mobilisasi.
6 Tanda yang Jangan Dianggap “Cuma Nyeri Biasa”
1. Nyeri Tiba-Tiba Menjadi Sangat Berat
Nyeri setelah operasi dapat terjadi, terutama pada hari-hari awal. Namun, pasien perlu segera menyampaikan kepada tenaga kesehatan apabila nyeri yang sebelumnya dapat dikendalikan tiba-tiba menjadi sangat berat.
Perubahan mendadak tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebabnya.
Jangan menunggu sampai nyeri menjadi tidak tertahankan dan jangan menambah dosis obat sendiri. Dokter atau perawat dapat menilai kembali kondisi pasien dan menentukan apakah pengobatan perlu disesuaikan.
2. Nyeri Semakin Berat, Bukan Semakin Membaik
Setiap pasien memiliki kecepatan pemulihan yang berbeda. Meski demikian, nyeri yang terus meningkat atau semakin mengganggu aktivitas perlu diperhatikan.
Nyeri yang tidak terkontrol juga dapat membuat pasien takut bergerak. Padahal, pada pasien yang sudah diperbolehkan mobilisasi, aktivitas fisik secara bertahap merupakan bagian penting dari pemulihan.
Karena itu, jangan merasa harus “menahan sakit”. Sampaikan kepada tenaga kesehatan apabila obat yang diberikan belum cukup mengendalikan nyeri.
Pendekatan multimodal dalam pengelolaan nyeri telah banyak diteliti pada prosedur ortopedi dan bertujuan meningkatkan efektivitas pengendalian nyeri sekaligus mengurangi penggunaan opioid (Paul et al., 2022).
3. Nyeri Disertai Demam atau Luka yang Berubah
Perhatikan kondisi luka operasi. Pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila nyeri diserta demam atau menggigil, kemerahan yang semakin luas, luka semakin bengkak, area luka terasa semakin panas, keluar cairan keruh atau seperti nanah dan cairan berbau tidak sedap, yeri pada luka semakin berat. Gejala tersebut dapat mengarah pada surgical site infection (SSI) atau infeksi luka operasi.
Infeksi merupakan salah satu komplikasi penting setelah operasi ortopedi. Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa sejumlah faktor pasien dan faktor perioperatif berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi setelah operasi ortopedi (Liu et al., 2025).
4. Muncul Mati Rasa, Kesemutan, atau Kelemahan
Pasien setelah operasi tulang belakang atau ekstremitas juga perlu memperhatikan fungsi anggota geraknya. Segera laporkan jika muncul mati rasa yang sebelumnya tidak ada, kesemutan yang semakin berat, tangan atau kaki terasa lemah, sulit menggerakkan anggota gerak, perubahan sensasi yang semakin memburuk.
Keluhan tersebut tidak selalu berarti terjadi komplikasi serius, tetapi membutuhkan penilaian tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya. Jangan mencoba mendiagnosis sendiri.
5. Tungkai Bengkak dan Nyeri
Pasien setelah operasi ortopedi, terutama operasi besar atau mereka yang mengalami keterbatasan mobilitas, memiliki risiko mengalami venous thromboembolism (VTE), termasuk deep vein thrombosis (DVT).
DVT merupakan terbentuknya bekuan darah pada vena dalam, yang sering terjadi pada tungkai.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan adalah:
1. Salah satu tungkai membengkak;
2. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada tungkai;
3. Tungkai terasa lebih hangat;
4. Perubahan warna kulit.
VTE merupakan salah satu komplikasi penting setelah operasi ortopedi mayor. DVT bahkan dapat memiliki gejala yang minimal, sementara bekuan darah yang terlepas dapat menyebabkan emboli paru yang berbahaya (Majima & Oshima, 2021).
Jika keluhan ters ebut disertai sesak napas mendadak, nyeri dada, atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
6. Nyeri Membuat Takut Bergerak
“Takut bergerak karena takut sakit” merupakan hal yang sangat manusiawi setelah operasi.Namun, jika dokter telah menyatakan pasien aman untuk mobilisasi, terlalu lama berbaring juga dapat menimbulkan masalah.
Pada pasien yang menjalani operasi fraktur panggul, systematic review dan meta-analysis oleh Agarwal et al. (2024) yang mencakup 13 studi dan lebih dari 297.000 pasien menemukan bahwa mobilisasi dini berhubungan dengan luaran yang lebih baik, termasuk mortalitas 30 hari dan komplikasi yang lebih rendah dibandingkan mobilisasi yang terlambat.
Penelitian pada pasien total knee arthroplasty juga menunjukkan manfaat ambulasi dalam 24 jam setelah operasi terhadap beberapa luaran pemulihan. Namun, mobilisasi dini bukan berarti pasien harus langsung berjalan sendiri. Mobilisasi dapat dimulai secara bertahap, misalnya: latihan di tempat tidur, duduk, berdiri dengan bantuan, berjalan dengan alat bantu, serta meningkatkan aktivitas secara bertahap. Tahap tersebut berbeda pada setiap pasien. Jenis operasi dan kondisi klinis menentukan batas aktivitas yang aman.
Mobilisasi: Bergerak, tetapi Jangan Memaksakan Diri
Pemulihan setelah operasi bukan berarti harus terus berbaring. Mobilisasi yang dilakukan sesuai kondisi pasien dapat membantu mempertahankan fungsi otot, meningkatkan kemampuan bergerak, dan mendukung proses rehabilitasi.
Namun, pasien harus memahami satu hal penting, yaitu mobilisasi dini bukan berarti mobilisasi secara sembarangan. Jangan berdiri atau berjalan sendiri apabila belum diperbolehkan. Gunakan alat bantu sesuai instruksi dan mintalah bantuan perawat atau fisioterapis jika diperlukan.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Secara sederhana, pasien dan keluarga dapat menggunakan prinsip:
“Nyeri yang membaik ? pantau.”
“Nyeri yang memburuk atau disertai gejala baru ? laporkan.”
“Nyeri disertai sesak napas atau nyeri dada ? segera cari pertolongan.”
Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat untuk menyampaikan perubahan kepada tenaga kesehatan.
Referensi:
Agarwal, N., Feng, T., Maclullich, A., Duckworth, A., & Clement, N. (2024). Early mobilisation after hip fracture surgery is associated with improved patient outcomes: A systematic review and meta-analysis. Musculoskeletal Care, 22(1), e1863. https://doi.org/10.1002/msc.1863
Liu, H., Xing, H., Zhang, G., Wei, A., & Chang, Z. (2025). Risk factors for surgical site infections after orthopaedic surgery: A meta-analysis and systematic review. International Wound Journal, 22(5), e70068. https://doi.org/10.1111/iwj.70068
Majima, T., & Oshima, Y. (2021). Venous thromboembolism in major orthopedic surgery. Journal of Nippon Medical School, 88(4), 268–272. https://doi.org/10.1272/jnms.JNMS.2021_88-418
Paul, R. W., Szukics, P. F., Brutico, J., Tjoumakaris, F. P., & Freedman, K. B. (2022). Postoperative multimodal pain management and opioid consumption in arthroscopy clinical trials: A systematic review. Arthroscopy, Sports Medicine, and Rehabilitation, 4(2), e721–e746. https://doi.org/10.1016/j.asmr.2021.09.011
Sumber gambar:
https://keslan.kemkes.go.id/img/bg-img/gambarartikel_1680582268_465579.jpg