Di sela kesibukan bekerja, banyak pegawai kantoran, rumah sakit, perusahaan industri ataupun pegawai yang bekerja shif, sering memilih minuman seperti kopi susu, boba, teh manis, minuman cokelat, atau minuman berenergi. Rasanya enak, menyegarkan, dan dianggap mampu meningkatkan semangat kerja. Namun, di balik rasanya yang nikmat, sebagian besar minuman tersebut mengandung gula dan kalori yang cukup tinggi.
Minuman tinggi kalori dapat menjadi teman ketika tubuh membutuhkan tambahan energi, misalnya setelah bekerja berat atau saat tidak sempat makan. Pada kondisi tertentu, seperti seseorang dengan berat badan kurang atau dalam masa pemulihan, minuman tinggi kalori juga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi apabila dikonsumsi sesuai anjuran tenaga Kesehatan
Masalah muncul ketika minuman tinggi kalori dikonsumsi setiap hari. Satu gelas kopi susu atau boba ukuran sedang dapat mengandung sekitar 250–500 kalori, setara dengan sepiring nasi dan lauk. Kalori dari minuman biasanya tidak memberikan rasa kenyang yang bertahan lama sehingga seseorang tetap makan seperti biasa. Akibatnya, jumlah kalori yang masuk menjadi berlebihan.
Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, akibatnya berat badan dapat meningkat dan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, tekanan darah tinggi, serta penyakit jantung ikut meningkat. Risiko tersebut lebih besar pada pegawai yang banyak bekerja sambil duduk dan kurang melakukan aktivitas fisik.
Bukan berarti semua minuman tinggi kalori harus dihindari. Kuncinya adalah memilih dengan bijak, Tips nya Batasi konsumsi minuman manis, pilih ukuran kecil, kurangi gula, hindari terlalu banyak topping seperti boba, krim, atau sirup, dan jadikan air putih sebagai minuman utama setiap hari. Susu rendah lemak tanpa gula tambahan, teh tanpa gula, atau infused water juga dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.
Selain memperhatikan minuman, pegawai juga dianjurkan melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, membawa botol minum sendiri, dan membiasakan membaca informasi nilai gizi pada kemasan minuman. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Jadi, minuman tinggi kalori bukanlah musuh, tetapi juga bukan teman yang boleh dikonsumsi tanpa batas. Jika diminum sesekali dan dalam jumlah yang wajar, minuman tersebut masih dapat dinikmati. Namun, bila menjadi kebiasaan setiap hari, dampaknya dapat merugikan kesehatan. Pilihan terbaik adalah mengutamakan air putih dan menerap kan pola makan bergizi seimbang agar tubuh tetap sehat dan produktif di tempat kerja.
Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kemenkes RI; 2014
Widyastuti N,Nurul F. Konsumsi minuman manis berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja kantoran. J Gizi dan Dietetik Indonesia.2021:9(2):123 -130
Yuliana I, HardinsyahH. Asupan gula tambahan dari minuman manis dan hubungannya dengan faktor risiko penyakit tidak menular.J Gizi Klin Indonesia.2020;17(3):120 – 128
Kementerian Kesehatan RI. Infodatin: Situasi Penyakit Tidak Menular di Indonesia. Jakarta:Kemenkes RI: 2023.
Putri NK, Briawan D. Kebiasaan konsumsi minuman tinggi kalori dan kaitannya dengan Obesitas pada dewasa muda. Media Gizi Indonesia, 2019:14(1): 45 -52