Senin, 24 Agustus 2026 10:56 WIB

Waspada Nyeri Leher Akibat Saraf Kejepit

Responsive image
13
Samuel Gunawan Hutajulu - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Di era digital saat ini, keluhan nyeri leher menjadi salah satu masalah kesehatan yang sangat sering ditemui, terutama akibat posisi tubuh yang kurang ergonomis saat bekerja, menunduk menatap layar ponsel, atau akibat aktivitas berulang sehari-hari. Meskipun banyak orang menganggapnya sekadar pegal biasa, nyeri leher yang tak kunjung hilang bisa menjadi tanda adanya gangguan pada struktur tulang belakang, bisa jadi adalah Cervical Herniated Nucleus Pulposus (CHNP) atau akrab disebut saraf kejepit pada leher. CHNP atau saraf kejepit leher merupakan kondisi ketika bantalan antar-tulang leher mengalami penonjolan sehingga menekan saraf di sekitarnya.

Kondisi ini biasanya dialami pada kelompok usia produktif sekitar usia 30-50 tahun sehingga dapat mengganggu aktivitas harian seperti bekerja, mengemudi, maupun tidur akibat nyeri menjalar atau kelemahan otot uang dirasakan mulai dari leher, bahu hingga ujung jari. Oleh karena itu, penting untuk memahami gejala nyeri leher yang disebabkan oleh CHNP, serta langkah penanganan dan pencegahan yang tepat sehingga aktivitas dan mobilitas tubuh tetap terjaga.

Mengapa CHNP atau Saraf Kejepit Leher bisa terjadi?

Saraf kejepit pada leher ini umumnya disebabkan oleh proses penuaan/degeneratif tubuh. Di antara ruas tulang belakang leher manusia terdapat bantalan sendi (diskus intervertebralis) yang mengandung air dan memiliki kelenturan yang cukup untuk gerakan leher. Seiring bertambahnya usia, kandungan air di dalamnya menjadi berkurang sehingga bantalan sendi dehidrasi dan kurang lentur. Akibat kelenturan yang berkurang bantalan sendi mudah mengalami retak dan sobek sehingga isi dari bantalan sendi mudah keluar dari tempatnya. Pada saat leher menekuk atau menerima beban isi bantalan sendi akan keluar menuju akar saraf dan menjepit, hal inilah yang menyebabkan rasa nyeri dan menjalar pada CHNP atau saraf kejepit pada leher.

Selain proses penuaan terdapat beberapa hal yang menjadi faktor risiko terjadinya CNHP atau saraf kejepit pada leher antara lain:

1.    Gaya hidup, individu yang merokok atau kurang olah raga serta konsumsi makanan dengan nutrisi yang kurang baik akan memberikan kontribusi pada kesehatan bantalan sendi leher

2.    Postur tubuh yang buruk dikombinasi dengan kebiasaan penggunaan mekanis tubuh yang salah dapat membuat stres tambahan pada tulang belakang leher.

3.    Riwayat cedera pada leher akibat mengangkat beban atau memutar leher menyebabkan isi bantalan sendi menonjol keluar.  

Apa saja gejala dari CHNP atau Saraf Kejepit Leher?

a)    CHNP dapat menyebabkan nyeri leher yang terjadi mendadak, yang timbul setelah menggerakkan leher pada posisi yang kurang baik.

b)    Nyeri leher yang menetap beberapa minggu hingga beberapa bulan (rata-rata 2-4 minggu)

c)    Nyeri yang menyebar ke salah satu lengan hingga tangan atau pada kedua lengan yang mengarah ke iritasi akar saraf.

d)    Nyeri leher dan lengan yang berkurang saat istirahat dan bertambah berat bila aktivitas.

Gejala-gejala tersebut hanya mengarahkan pada kemungkinan diagnosis, namun untuk menentukan diagnosis CNHP diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan oleh Dokter di Fasilitas Kesehatan.

Bagaimana cara mengatasi nyeri leher akibat CHNP atau Saraf Kejepit Leher?

Setelah didiagnosis oleh Dokter, pasien CHNP akan diberikan terapi pengobatan sesuai dengan beratnya gejala yang diderita. Pada pasien dengan derajat ringan sampai sedang, Dokter biasanya akan meresepkan obat anti nyeri non-steroid (Non-Steroid Anti Inflammation/NSAID) untuk meredakan rasa nyeri, pelemas otot yang membantu mengurangi rasa nyeri akibat spasme/keram otot serta antidepresan untuk mengurangi nyeri neuropatik akibat akar saraf yang terjepit.

Pasien juga perlu melakukan terapi fisik dengan senam aerobik. Terdapat beberapa manuver yang dikenal untuk terapi fisik CHNP, salah satu yang paling terkenal adalah Butler technique yang dapat dilakukan sendiri secara aktif oleh pasien, yaitu:

a)    Teknik slider, pasien diminta untuk memiringkan kepala ke arah berlawanan dari sumber rasa menjalar dengan tangan menekuk kemudian kepala dimiringkan ke arah sebaliknya

b)   Teknik tensile loading, pasien diminta duduk tegak dengan kaki menggantung kemudian kepala menunduk dengan kaki diangkat lurus sesuai dengan sisi sumber rasa nyeri menjalar

Kapankah CHNP atau Saraf Kejepit Leher perlu dioperasi?

Biasanya pasien dengan nyeri leher menjalar akibat CHNP yang masih merasakan nyeri dengan obat-obatan yang adekuat serta terapi fisik perlu ditatalaksana dengan tindakan operasi. Selain itu pasien nyeri leher dengan tanda-tanda kelemahan saraf yang semakin memberat seperti kelumpuhan pada jari-jari, pergelangan tangan hingga siku. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk stabilisasi tulang belakang yang menghilang akibat bantalan sendi yang robek. Tindakan operasi tentu ditawarkan oleh Dokter, namun keputusan untuk melakukannya menjadi hak dari pasien dengan mempertimbangkan manfaat dan risikonya.

 

Referensi:

Bono CM, Ghiselli G, Gilbert TJ. 2010. North American spine society diagnosis and treatment of cervical radiculopathy from degenerative disorders. Spines

Nadeak B & Naibaho L. 2018. The Description of medical students’ interest and achievement on anatomy at faculty of medicine Universitas Kristen Indonesia. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR). 39:121-33.

Rawls, A. 2010. Development and functional anatomy of the spine. In Department of Basic Medical Sciences. 2:1-27

Schroeder, G. 2016.  The epidemiology and pathophysiology of disc herniation. Seminar Spine Surgery, 2-7.

Zhang AS, Xu A, Ansari K. 2023. Lumbar Disc Herniation: Diagnosis and Management. Am J Med. 136(7):645-56

Sumber gambar:

https://laminarehab.com/wp-content/uploads/2021/11/neckpain_1280.jpg

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSeqb5i3SdmkaYwlfZxfsuVtoS5LGcTso4kWA7BV8ZHOVr-J2K9UxUqm_nE&s=10