Senin, 24 Agustus 2026 11:07 WIB

Kenali Faktor Risiko MSDs dari Postur Hingga Stress Kerja

Responsive image
12
Erviana Kustanti - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan masalah kesehatan kerja yang sering dialami pekerja sektor informal, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). MSDs didefinisikan sebagai gangguan pada sistem muskuloskeletal yang meliputi otot, tulang, sendi, saraf, dan struktur pendukung lainnya, yang ditandai dengan gejala berupa nyeri, kaku, hingga keterbatasan gerak. Berdasarkan European Working Conditions Survey, sekitar 25% pekerja di Eropa mengalami nyeri punggung dan 23% mengalami nyeri otot akibat aktivitas kerja. International Labour Organization (ILO) juga mencatat bahwa gangguan muskuloskeletal merupakan masalah kesehatan kerja yang paling umum di negara-negara maju. Hal ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari gejala yang berulang dan tidak ditangani pada sistem muskuloskeletal.

BAGAIMANA MSDs (Musculoskeletal Disorders) DAPAT TERJADI?

Gejala MSDs berkembang secara bertahap, dimulai dari keluhan ringan seperti pegal dan kaku, hingga nyeri menetap yang disertai keterbatasan gerak dan penurunan fungsi. Gejala umumnya berkaitan dengan aktivitas dan cenderung memburuk seiring dengan paparan faktor risiko yang berkelanjutan.

FAKTOR RISIKO PENYEBAB MSDs

1.      Faktor Pekerjaan

a)      Beban

Beban kerja yang terlalu berat atau dilakukan berulang dapat menyebabkan cedera mikro pada otot dan sendi. Jika terjadi terus-menerus, kerusakan ini akan menumpuk dan berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal (MSDs).

b)      Durasi pekerjaan

Lamanya waktu kerja (durasi) berkaitan dengan kondisi fisik pekerja. Pekerjaan fisik yang berat memengaruhi kerja otot, sistem kardiovaskular, sistem pernapasan, dan lainnya. Jika pekerjaan berlangsung lama tanpa istirahat yang cukup, kemampuan tubuh akan menurun dan dapat menyebabkan nyeri pada anggota tubuh. Prinsipny  : semakin lama durasi terpapar faktor risiko, semakin lama waktu pemulihan (recovery) yang dibutuhkan.

c)      Frekuensi Aktivitas

Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat kerja terus-menerus tanpa relaksasi. Secara umum, semakin sering pengulangan gerakan dalam suatu aktivitas kerja, semakin besar keluhan otot yang muncul. Pekerjaan repetitif dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko MSDs, terutama jika ditambah dengan beban berlebih dan postur janggal.

2.      Faktor Pekerja

a)      Postur tubuh tidak ergonomis

Kebiasaan membungkuk, menunduk terlalu lama, posisi duduk tanpa sandaran yang baik dapat menyebabkan beban terpusat pada area tertentu seperti leher, bahu, dan punggung bawah

b)      Usia

Secara umum, risiko MDSs meningkat seiring bertambahnya usia karena terjadi penurunan elastisitas jaringan dann kekuatann otot. Proses degeneratif mulai terlihat usia 30-40 tahun, namun sangat bervariasi tergantung aktivitas fisik, nutrisi dan faktor genetik.

c)      Jenis Kelamin

Beberapa penelitian menunjukkan prevalensi MSDs lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria, terutama pada area leher, bahu dan ekstremitas, hal ini tidak semata-mata karena kekuatan otot wanita yang rata-rata lebih rendah, tetapi juga dipengaruhi faktor hormonal, perbedaan beban kerja, dan postur tubuh yang berbeda.

d)      Stress Mental

Stres kronis dapat memicu respon fisiologis seperti peningkatan ketegangan otot dan gangguan sirkulasi perifer (misalnya vasokonstriksi ringan akibat aktivasi saraf simpoatis yang dapat mengurangi  suplai oksigen ke jaringan otot. Hal ini memperlambat proses  perbaikan  mikrotrauma dan jika berlangsung lama dapat  menyebabkan kelelahan otot kronis, nyeri serta peningkatan risiko cidera jaringan. Mekanisme ini bersifat kompleks dan tidak terjadi pada semua orang dengan tingkat stres yang sama.

5 TIPS MEMINIMALISIR RISIKO MSDs  

 1.      Sesuaikan posisi kerja (kursi, meja, tinggi dan berat alat) serta gunakan teknik yang benar ketika ada gerakan mengangkat beban. Contoh : menjaga punggung tetap lurus, tekuk lutut dan dekatkan  beban ke tubuh.

2.      Hindari postur tubuh statis terlalu lama . Ubah posisi minimal setiap 30 menit, misalnya berdiri, berjalan kecil atau sekedar peregangan punggung.

3.      Lakukan eregangan otot rutin disela-sela pekerjaan yang memerlukan waktu lama. Contoh gerakan sederhana : memutar leher, mengangkat bahu, menekukn punggung ke samping.

4.      Kelola  Stress dengan modifikasi gaya hidup yang spesifik : latihan pernafasan dalam, istirahat terjadwal, relaksasi atau diskusi dengan rekannkerja. Jika perlu konsultasi dengan profesional kesehatan mental.

5.      Tingkatan kebugaran fisik secara bertahap. Pilih olahraga disesuaikan dengan kondisi tubuh.

a.       Apabila kelebihan berat badan atau obesitas:  hindari olahraga yang membebani sendi lutut dan panggul (berlari dan melompat). Pilih olah raga : renang, bersepeda statis atau jalan cepat.

b.      Untuk Lansia, pilih gerakan low impact (rendah benturan) seperti jalan santai atau cepat, renang, yoga, senam lansia dan latihan keseimbangan.

MSDs bukan sekadar pegal biasa, melainkan kondisi yang dapat berkembang jika faktor risikonya terus diabaikan. Dengan mengenali penyebab dan gejalanya sejak dini, kita bisa melakukan langkah sederhana untuk mencegah dampak yang lebih serius dan menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

 

Referensi:

Fang Yang, et al. (2023). Prevalence and risk factors of work-related musculoskeletal disorders among manufacturing workers. BMC Public Health, 23, 10.

Andrew Maxner, Heather Gray, & Ananth Vijendren. (2021). A systematic review of biomechanical risk factors for the development of work-related musculoskeletal disorders

Open Stax. (2019). Anatomy and physiology. Rice University

R. Govaerts, et al. (2021). Prevalence and incidence of work-related musculoskeletal disorders in secondary industries: A systematic review and meta-analysis. BMC Musculoskeletal Disorders, 22, 751.

Ehsan Darvishi, et al. (2022). Risk assessment of work-related musculoskeletal disorders based on individual characteristics. BMC Musculoskeletal Disorders, 23, 616.

Ziyun Li, et al. (2022). Risk factors for musculoskeletal disorders among workers. Frontiers in Public Health, 10.

Tofan A. E. Prasetya, et al. (2024). Prevalence and associated risk factors of musculoskeletal disorders among IT professionals: A systematic review. Narra Journal, 4(3).

Sumber gambar:

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTHjOlEtkQCaSu-lYW5rL_RCuMEAjXuZNcCp54rpbK4upT0y4f9emLtiRo&s=10

https://www.rheumatologistgatesville.co.za/img/services/musculoskeletal-disorders.jpg

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT-2Cpr5p25LuzuUklymprS8GOI1Ud_yTpzIq5dAvxRmQ&s