Senin, 06 Juli 2026 11:30 WIB

Pengaruh Akupunktur terhadap Gangguan Depresi

Responsive image
156
dr Muchtar MARS MKK SpAk FISQua - RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta

Gangguan depresi merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati yang menetap rendah, hilangnya minat atau kesenangan terhadap aktivitas sehari-hari, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, penurunan konsentrasi, hingga munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup pada kasus yang berat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa depresi menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia. Meskipun terapi farmakologis dan psikoterapi merupakan pengobatan utama, tidak semua pasien memberikan respons yang optimal terhadap terapi tersebut. Selain itu, penggunaan obat antidepresan sering kali disertai efek samping yang dapat menurunkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Oleh karena itu, berbagai terapi tambahan, termasuk akupunktur, mulai banyak diteliti sebagai alternatif maupun terapi pendamping dalam penanganan gangguan depresi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akupunktur memiliki potensi sebagai terapi yang efektif dalam mengurangi gejala depresi melalui berbagai mekanisme neurobiologis. Efek terapeutik akupunktur tidak hanya didasarkan pada konsep pengobatan tradisional, tetapi saat ini dalam bidang kedokteran konvensional juga telah dijelaskan melalui berbagai penelitian modern yang mengungkap perubahan fisiologis pada sistem saraf pusat, sistem endokrin, dan sistem imun.

Salah satu mekanisme utama akupunktur adalah kemampuannya dalam mengatur keseimbangan neurotransmiter di otak. Akupunktur terbukti dapat meningkatkan kadar serotonin, dopamin, norepinefrin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Serotonin berperan penting dalam mengatur suasana hati, emosi, kualitas tidur, serta nafsu makan. Penurunan kadar serotonin sering dikaitkan dengan munculnya gejala depresi. Sementara itu, GABA merupakan neurotransmiter inhibitor utama yang berfungsi mengurangi aktivitas saraf yang berlebihan sehingga membantu menciptakan efek relaksasi, mengurangi kecemasan, dan memperbaiki kestabilan emosi. Peningkatan neurotransmiter tersebut diyakini berkontribusi terhadap efek antidepresan yang dihasilkan oleh terapi akupunktur.

Selain memengaruhi neurotransmiter, akupunktur juga berperan dalam meningkatkan ekspresi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yaitu protein yang berfungsi mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta kelangsungan hidup sel-sel saraf. BDNF memiliki peran penting dalam proses neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk hubungan baru antarneuron sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, maupun proses penyembuhan. Pada penderita depresi, kadar BDNF umumnya ditemukan lebih rendah dibandingkan individu sehat. Peningkatan kadar BDNF melalui stimulasi akupunktur dipercaya mampu memperbaiki fungsi neuron dan meningkatkan kemampuan otak dalam beradaptasi terhadap stres, sehingga membantu mengurangi gejala depresi.

Mekanisme lain yang tidak kalah penting adalah pengaruh akupunktur terhadap regulasi sumbu hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA). Sumbu HPA merupakan sistem neuroendokrin yang mengendalikan respons tubuh terhadap stres. Pada individu dengan depresi, aktivitas sumbu HPA sering mengalami hiperaktivitas yang menyebabkan peningkatan kadar hormon kortisol secara kronis. Kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak, terutama di hipokampus, serta memperburuk gejala depresi. Penelitian menunjukkan bahwa akupunktur mampu membantu menormalkan fungsi sumbu HPA sehingga produksi hormon stres menjadi lebih seimbang. Regulasi ini berkontribusi dalam menurunkan respons stres kronis, memperbaiki fungsi kognitif, serta meningkatkan suasana hati pasien.

Selain mengatur sistem neuroendokrin, akupunktur juga diketahui memiliki efek antiinflamasi. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa depresi berkaitan erat dengan peningkatan proses inflamasi kronis di dalam tubuh. Penderita depresi sering menunjukkan peningkatan kadar sitokin proinflamasi, seperti interleukin-6 (IL-6), tumor necrosis factor-alpha (TNF-?), dan C-reactive protein (CRP). Peradangan kronis tersebut dapat mengganggu fungsi neurotransmiter dan mempercepat kerusakan sel saraf. Akupunktur diketahui mampu menurunkan kadar mediator inflamasi tersebut sehingga membantu memperbaiki fungsi sistem saraf pusat dan mengurangi gejala depresi.

Akupunktur juga berkontribusi terhadap peningkatan neuroplastisitas dan perlindungan neuron. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa stimulasi titik-titik akupunktur tertentu mampu meningkatkan pembentukan sinaps baru, memperbaiki komunikasi antarneuron, serta mengurangi kematian sel saraf akibat stres kronis. Efek neuroprotektif ini menjadi salah satu dasar ilmiah mengapa akupunktur dapat memberikan manfaat jangka panjang pada penderita depresi.

Teknik pencitraan otak menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) menunjukkan bahwa akupunktur dapat memengaruhi aktivitas berbagai area otak yang berhubungan dengan regulasi emosi. Area tersebut meliputi hipokampus, korteks prefrontal, amigdala, dan anterior cingulate cortex. Hipokampus berperan dalam pembentukan memori dan regulasi emosi, sedangkan korteks prefrontal berfungsi dalam pengambilan keputusan, pengendalian emosi, dan fungsi kognitif. Peningkatan konektivitas antara area-area tersebut setelah terapi akupunktur menunjukkan adanya perbaikan jaringan saraf yang berperan dalam pengendalian suasana hati.

Dari sisi klinis, berbagai uji klinis terkontrol dan beberapa meta-analisis melaporkan bahwa akupunktur mampu menurunkan skor depresi secara bermakna pada berbagai instrumen penilaian, seperti Hamilton Depression Rating Scale (HAM-D) dan Beck Depression Inventory (BDI). Hasil tersebut menunjukkan bahwa akupunktur dapat memperbaiki gejala depresi, termasuk suasana hati yang rendah, gangguan tidur, kelelahan, penurunan motivasi, serta kecemasan yang sering menyertai depresi.

Akupunktur juga terbukti memberikan manfaat sebagai terapi tambahan (adjuvant therapy) bersama obat antidepresan. Kombinasi akupunktur dengan terapi farmakologis sering memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan obat antidepresan saja. Selain mempercepat perbaikan gejala depresi, kombinasi terapi ini juga dapat mengurangi beberapa efek samping obat antidepresan, seperti mual, insomnia, mulut kering, gangguan seksual, dan gangguan saluran cerna. Dengan demikian, akupunktur berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan jangka panjang.

Dari aspek keamanan, akupunktur umumnya memiliki profil keamanan yang baik apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan jarum steril sekali pakai. Efek samping yang muncul biasanya ringan dan bersifat sementara, seperti nyeri ringan pada lokasi penusukan, memar kecil, atau rasa lelah setelah terapi. Kejadian efek samping serius sangat jarang ditemukan apabila prosedur dilakukan sesuai standar praktik yang benar. Dibandingkan terapi farmakologis, akupunktur memiliki risiko efek samping sistemik yang lebih rendah sehingga menjadi pilihan yang menarik bagi pasien yang menginginkan pendekatan terapi tambahan.

Meskipun demikian, akupunktur sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti terapi utama pada kasus depresi sedang hingga berat, terutama apabila pasien memiliki risiko bunuh diri atau gangguan psikiatri berat lainnya. Pendekatan yang paling dianjurkan adalah terapi yang bersifat multidisiplin, yaitu mengombinasikan akupunktur dengan psikoterapi, farmakoterapi, perubahan gaya hidup, aktivitas fisik, serta dukungan sosial sesuai kondisi masing-masing pasien.

Secara keseluruhan, bukti ilmiah yang tersedia menunjukkan bahwa akupunktur memiliki potensi sebagai terapi tambahan yang efektif dalam penatalaksanaan gangguan depresi. Efek antidepresan akupunktur diduga terjadi melalui berbagai mekanisme, antara lain modulasi neurotransmiter, peningkatan ekspresi BDNF, normalisasi fungsi sumbu HPA, pengurangan neuroinflamasi, peningkatan neuroplastisitas, serta perbaikan konektivitas jaringan otak yang mengatur emosi. Dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa akupunktur terbukti efektif dalam membantu penanganan kasus depresi dengan efek samping minimal dan tidak menggunakan obat-obatan sehingga relatif aman bagi berbagai usia baik usia anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia.


Referensi:

Yang XY, Yang NB, Huang FF, et al. Effectiveness of acupuncture on anxiety disorder: a  systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials. Ann Gen Psychiatry.  2021;20:9. doi:10.1186/s12991-021-00327-5.

Jang A, Wenninger M, Lee H, Zheng S. Acupuncture for anxiety: a systematic review and meta[1]analysis of randomized controlled trials. J Clin Psychol. 2025;82:479-494.  doi:10.1002/jclp.70079.

Jiang H, Ma R, Huang Y, Li X, Hao Y. Efficacy of acupuncture versus sham acupuncture on  generalized anxiety disorder: a meta-analysis of randomized controlled trials. Front Neurol.  2025;16:1682400. doi:10.3389/fneur.2025.1682400.

Lai J, Wang Y, Yao X, et al. Efficacy of acupuncture for generalized anxiety disorder: a  systematic review. Ann Gen Psychiatry. 2025;24:73. doi:10.1186/s12991-025-00614-5.

Amorim D, Brito I, Caseiro A, et al. Electroacupuncture and acupuncture in the treatment of  anxiety - a double blinded randomized parallel clinical trial. Complement Ther Clin Pract. 2022;46:101541. doi:10.1016/j.ctcp.2022.101541.

Li M, Liu X, Ye X, Zhuang L. Efficacy of acupuncture for generalized anxiety disorder: a  PRISMA-compliant systematic review and meta-analysis. Medicine (Baltimore).  2022;101(49):e30076. doi:10.1097/MD.0000000000030076.

Liu X, Li M, Xie X, Li Y, Li K, Fan J, et al. Efficacy of manual acupuncture vs. placebo  acupuncture for generalized anxiety disorder (GAD) in perimenopausal women: a randomized, single-blinded controlled trial. Front Psychiatry. 2023;14:1240489.  doi:10.3389/fpsyt.2023.1240489.

Xu Z, Zhang X, Shi H, Liang M, Ning F, Wang Q, Jia H. Efficacy of acupuncture for anxiety  and depression in functional dyspepsia: a systematic review and meta-analysis. PLoS One. 2024;19(3):e0298438. doi:10.1371/journal.pone.0298438.