Kamis, 16 Juli 2026 09:22 WIB

Kenali Teman Anak Lindungi Masa Depannya

Responsive image
37
Tim Promosi Kesehatan RS Kariadi - RSUP dr. Kariadi Semarang

Peran orang tua dalam mengenal lingkungan pertemanan anak merupakan langkah awal untuk mencegah perundungan dan menjaga kesehatan mental anak.

Bagi seorang anak, teman bukan sekadar orang untuk bermain. Pertemanan menjadi tempat anak belajar bekerja sama, menghargai perbedaan, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Namun, lingkungan pertemanan yang tidak sehat dapat menjadi awal munculnya perundungan (bullying) yang berdampak besar terhadap kesehatan mental anak.

Perundungan tidak selalu berupa kekerasan fisik. Mengejek, mempermalukan, mengucilkan, menyebarkan gosip, hingga menghina melalui media sosial juga termasuk bentuk perundungan. Jika terjadi berulang dan membuat anak merasa takut, sedih, atau tidak berdaya, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang "wajar" dalam proses tumbuh kembang anak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pengalaman menjadi korban perundungan dapat memengaruhi kesehatan mental, kesehatan fisik, prestasi belajar, hingga kualitas hidup anak di masa depan. Anak yang mengalami perundungan lebih berisiko mengalami kecemasan, depresi, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Karena itu, orang tua memiliki peran penting untuk mengenal siapa saja teman anak, bagaimana lingkungan tempat anak bermain, serta bagaimana interaksi yang terjadi setiap hari. Mengenal teman anak bukan berarti membatasi pergaulannya, melainkan memastikan bahwa anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, positif, dan saling menghargai.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah perundungan sejak dini:

  • Kenali teman-teman anak dan, bila memungkinkan, kenali pula orang tua mereka.
  • Luangkan waktu untuk berbincang setiap hari. Tanyakan pengalaman anak di sekolah atau saat bermain, serta dengarkan ceritanya tanpa menghakimi.
  • Perhatikan perubahan perilaku anak, seperti tiba-tiba enggan berangkat sekolah, sering menyendiri, mudah marah, sulit tidur, atau prestasi belajar menurun.
  • Ajarkan empati dan sikap saling menghormati. Anak belajar dari contoh yang diberikan oleh orang tua di rumah.
  • Segera berkomunikasi dengan pihak sekolah apabila diduga terjadi perundungan agar masalah dapat ditangani sejak dini.

Rumah adalah tempat pertama anak belajar merasa aman. Ketika orang tua membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, anak akan lebih berani bercerita jika mengalami masalah. Dukungan keluarga yang kuat terbukti membantu melindungi kesehatan mental anak sekaligus mengurangi dampak buruk akibat perundungan.

Mengenal teman dan lingkungan anak adalah bentuk kasih sayang yang sederhana, tetapi memiliki manfaat besar bagi masa depannya. Dengan perhatian, komunikasi, dan pendampingan dari orang tua, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, sehat secara mental, dan mampu menjalin pertemanan yang positif.

 

Referensi

World Health Organization (WHO). Violence against children. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/violence-against-children

World Health Organization (WHO). Improving the Mental and Brain Health of Children and Adolescents. https://www.who.int/activities/improving-the-mental-and-brain-health-of-children-and-adolescents

UNICEF. Bullying. https://data.unicef.org/topic/child-protection/violence/bullying/

UNESCO. Behind the Numbers: Ending School Violence and Bullying. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000366483