Batuk, pilek, atau sakit tenggorokan sering kali dianggap sebagai penyakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Padahal, keluhan tersebut dapat menjadi tanda Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yaitu penyakit yang masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan di Indonesia. Apabila tidak ditangani dengan tepat, ISPA dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius, terutama pada bayi, balita, lansia, serta individu dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Menurut Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), penyakit saluran pernapasan termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak di Indonesia. Penurunan kualitas udara juga menjadi salah satu faktor risiko yang meningkatkan kejadian ISPA, terutama di daerah perkotaan.
Apa Itu ISPA?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh virus, namun pada beberapa kasus dapat disebabkan oleh bakteri atau kombinasi keduanya. ISPA dapat menyerang siapa saja dan mudah menular melalui percikan ludah (droplet) saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara, maupun melalui tangan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
Gejala ISPA dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba. Pada sebagian besar kasus, gejala bersifat ringan, tetapi dapat berkembang menjadi lebih berat apabila tidak ditangani dengan baik.
Beberapa gejala ISPA yang perlu diwaspadai meliputi:
Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas, napas cepat, nyeri dada, atau bibir tampak kebiruan. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan dan penanganan medis segera.
Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami ISPA?
ISPA dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, terdapat beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi maupun komplikasi. Kelompok rentan tersebut meliputi bayi dan balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti asma, penyakit paru, jantung, dan diabetes. Selain itu, perokok aktif, perokok pasif, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun juga memiliki risiko yang sama.
Faktor yang Meningkatkan Risiko ISPA
Selain disebabkan oleh virus atau bakteri, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ISPA, di antaranya:
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa paparan asap rokok di dalam rumah, ventilasi yang buruk, serta kepadatan hunian berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian ISPA, khususnya pada balita.
Pencegahan ISPA
Kabar baiknya, sebagian besar kasus ISPA dapat dicegah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Penerapan langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko penularan sekaligus menjaga kesehatan saluran pernapasan.
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan. Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenali-gejala-ispa-dan-tindakan-yang-perlu-dilakukan
Ali, I. H., Hamka, & Male, S. N. (2024). Karakteristik Epidemiologi Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Telaga Biru. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 10(3), 370–378.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Siregar, P. A. (2020). Buku Saku Pencegahan dan Pengendalian ISPA. Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Sumber gambar:
Halodoc. (2026). Apa itu ISPA? Ini penyebab, gejala, dan pengobatannya. Halodoc (https://www.halodoc.com/avrtikel/apa-itu-ispa-ini-penyebab-gejala-dan-pengobatannya?srsltid=AfmBOoog5GN0Q8C1Ty5-KspfLIlnQiRJ_dhMd5ett5RzpRRdWmnb-rDW)