Senin, 20 Juli 2026 11:15 WIB

Peran Fisioterapi untuk Mobilitas Pasien SCI

Responsive image
12
Muhammad Abdurrohman Rifai - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Berdasarkan Permenkes 65 tahun 2015, Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh fisioterapis, kepada individu atau kelompok masyarakat, untuk mengembangkan, memelihara, dan memulihkan fungsi gerak tubuh manusia, dengan menggunakan penanganan manual, latihan peningkatan fungsi gerak, dan penggunaan modalitas alat.

Fisioterapis adalah setiap orang yang telah lulus ( menempuh dan menyelesaikan) program pendidikan fisioterapi sesuai dengan peraturan  perundang-undangan yang berlaku.

Profil layanan Fisioterapi ada 6 yaitu :

1.      Fisioterapi Musculoskeletal

2.      Fisioterapi Neuromuscuar

3.      Fisioterapi Pediatri

4.      Fisioterapi Kardiorespirasi

5.      Fisioterapi Integumen dan Kesehatan Wanita

6.      Fisioterapi Geriatri

Membahas  peran fisioterapi untuk mobilisasi pasien SCI, maka kita mulai dari definisi SCI.  Definisi SCI adalah Spinal cord injury (SCI) yaitu suatu kondisi kerusakan yang terjadi pada medula spinalis, dengan gejala gangguan fungsi neurologis, mulai dari fungsi motorik, sensorik, dan otonomik, yang dapat berujung menjadi kecacatan menetap hingga kematian.

Untuk memberikan latihan mobilisasi pada pasien SCI ada hal-hal yang perlu dipahami sehingga dengan pemahaman yang baik akan bisa memberikan layanan yang tepat . Pemahaman mengenai dermatom dan myotom menjadi hal yang penting dipahami untuk memetakan level cidera yang akan berpengaruh pada design latihan yang akan diberikan.

Dermatome adalah area kulit pada bagian tubuh manusia, yang dipersarafi oleh satu saraf dari tulang belakang. Setiap dermatome memiliki asal segmen inervasi yang berbeda-beda. Myotomes adalah sekumpulan area otot, yang diinervasi oleh satu akar saraf dari tulang belakang. Setiap gerakan pada otot memiliki asal inervasi yang berbeda, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui lokasi asal kerusakan pada saraf tulang belakang sehingga dapat digunakan untuk menentukan lokasi kerusakan.

Selain memahami tentang anatomi spinal cord maka memahami etiologi cidera spinal cord akan menjadi bekal yang baik dalam memberikan layanan. Adapun  Etiologi “Spinal cord injury” bisa di bagi menjadi :

1. Cidera medulla spinalis traumatic: Kecelakaan kendaraan,Jatuh dari ketinggian,Cidera olahraga, Kekerasan fisik

2. Cidera Medulla Spinalis non Traumatik: Kondisi ini seringkali berkaitan dengan kondisi Kesehatan yang menyebabkan gangguan pada medulla spinalis.

  • Kondisi konginetal, Misalnya spina bifida, malformation pada corpus vertebrae/columna vewrbralis
  • Penyakita tau kondisi degenerative tulang belakang, spondylosis, spinal stenosis, prolaps discus.
  • Infeksi penyakit pada tulang belakang, misal TBC (spondylitis TB)
  • Masa/tumor pada medulla spoinalis, (IDIM dan IDEM)

Tipe Spinal Cord Injury :

Complete:

1.      Paraplegi

2.      Tetraplegi

Incomplete :

1.      Central cord syndrome

2.      Posterior cord syndrome

3.      Anterior cord syndrome

4.      Brownsquard syndrome

5.      Conus medullaris syndrome

6.      Cauda equina syndrome

Faktor yang mempengaruhi prognosis SCI

1. Tingkat keparahan cidera merupakan factor terkuat. Pasien dengan cidera komplit memiliki kemungkinan pemulihan neurologis yang rendah, sedangkan pasien dengan level cidera inkomplit memiliki kemungkinan perbaikan fungsi yang baik,misalnya pada ASIA C,D,E.

2. Faktor lain yang mempengaruhi, diantaranya Kecepatan Penanganan Medis, usia,adanya penyerta, fraktur pada area lain (ekstremitas), adanya pneumonia setelah cidera motivasi pasien dan keluarga, family care, berat badan, komplikasi medis seperti syok neurogenic, DVT, munculnya ulcus decubitus akibat tirah baring dan sebagainya.

Pentingnya Fisioterapi sedini mungkin pada SCI:

1. Memperbesar tercapainya target / Goals dari rehabilitasi pada kondisi SCI,antara lain meliputi peningkatan kekuatan otot, flexibilitas dan range of motion dan tercapainya peningkatan kemampuan ambulasi pasien.

2. Fisioterapi pada kondisi awal akan memperkecil terjadinya komplikasi sekunder SCI berupa atropi otot, kontraktur sendi, decubitus, gangguan postural.

3. Penanganan fisioterapi dini juga akan mendukung Neuroplasticity dan memperbesar peluang untuk tercapainya target rehabilitasi.

Kaidah / Prosedur Penanganan Fisioterapi

1. Assesment FT

2. Penentuan diagnose FT

3. Menentukan Planning FT

4. Intervention (penatalaksanaan)

5. Evaluasi

6. Re-Assesment

1. Asessment Fisioterapi

Meliputi anamnesa dan pemeriksaan

Dalam hal ini anamnesa dan pemeriksaan dilakukan berdasarkan kondisi pasien selama di rawat inap maupun rawat jalan.Untuk pasien yang rawat inap ada kondisi penanganan konservatif dan operatif. Dalam anamnesa hal-hal yang perlu dikaji adalah :

  • Keluhan utama
  • Penyebab,riwayat kejadian,onset
  • Faktor pemberat keluhan
  • Riwayat  medis ,pengobatan ,pembedahan

Komponen pemeriksaan  yang dilakukan setelah anamnesa adalah meliputi :

1.   Pemeriksaan utama untuk memastikan airway,breathing,circulation stabil (terutama cidera level cervical)

2.   Penilaian kesadaran dengan GCS

3.   Pemeriksaan fungsi gerak dasar (Pasif,aktif,resissted)

4.   Pemeriksaan spesifik (defisit neurologis ,reflek,tonus otot)

5.   Pemeriksaan penunjang ( X-Ray (rontgen),CT-Scan,MRI,Tindakan Medis).

Komponen pemeriksaan diatas adalah yang dilakukan di rawat inap sedangkan saat sudah rawat jalan untuk komponen 1 dan 2 seringkali sudah stabil sehingga bisa lanjut ke no 3,namun demikian untuk pasien yang datang masih menggunakan bed dan posisi terbaring komponen 1 dan 2 sebaiknya  tetap dilakukan.

 2. Penentuan Diagnosa

Untuk menegakkan diagnosa Fisioterapi  meliputi 3 komponen yaitu:

a.      Impairment ( body function dan body structure) baik yang actual maupun potensial .Komponen yang menunjukkan gangguan maupun penurunan fungsi tubuh baik yang ada atau yang merupakan potensi terjadi

b.      Functional Limitation,Komponen yang menunjukkan keterbatasan fungsional

c.       Participation Restriction,Komponen yang menunjukkan gangguan keterlibatan dalam bersosialisasi.

3. Menentukan target/planning Fisioterapi

Penentuan target planning fisioterapi disesuaikan dengan kondisi pasien,untuk pasien rawat inap post operatif:

  • Meliputi manajemen posisioning post op
  • Tanajemen pernafasan,
  • Target lingkup   gerak sendi/ ROM,
  • Target aktivasi otot,strengthening koordinasi,
  • Early mobilization di   bed
  • Transfer dan ambulasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan latihan adalah;ketepatan body position and body mechanic,ketepatan manual handling dan fixasi,ketepatan instruksi,ketepatan jumlah repetisi (dosis latihan )

4. Intervensi

Merupakan pelaksanaan planning.

a.      Manajemen Posisioning pasien pada Bed

·         Berbeda segmentasi lesi injury akan menentukan posisioning yang berbeda.

·         Posisioning yang benar akan memperkecil resiko bed rest seperti decubitus, iritasi pada jaringan kulit dan otot, decubitus dll.

·         Menghindari Gerakan BLT (Bending, Lifting, Twisting)

b.      Latihan Adaptasi Nyeri dan Relaksi Post Operasi

·         Respiratory Management > lihat level cidera (cervical, thracal, lumbal)

·         Aktivasi otot-otot pernafasan, breathing exercise, dan Latihan expansi thorax

·         Bertujuan untuk meningkatkan oksigenasi tubuh > relaksasi adaptasi terhadap nyeri post operasi, meningkatkan kapasitas fungsi paru-paru, mencegah komplikasi pernafasan akibat Tirah baring.

c.       Abdominal Breathing

·         Bertujua untuk aktivasi diafragma > core muscle

·         Kombinasikan dengan aktivasi pelvic floor muscle

·         Repetisi 1 – 2 set dalam satu sesi (sesuai toleransi)

Untuk pelayanan di Rawat jalan akan disesuaikan lagi dengan kondis pasien berdasarkan hasil asessmen.

5. Evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil dari intervensi terhadap target.

6. Re-asessmen

Dilakukan untuk mengetahui keluhan pasien untuk program intervensi selanjutnya.

 

Referensi :

ASIA. Spinal cord injury. Diunduh dari : https://sci.rutgers.edu

Consortium Member Organizations and Steering Committee Representatives. Early Acute Management in Adults with Spinal Cord Injury : A Clinical Practice Guideline for Health-Care Professionals. The Journal Of Spinal Cord Medicine. Vol.31.2006.

DeGroot J. Chusid JG. Corelative Neuroanatomy. Jakarta : EGC:1997.h.30-42.

Sumber gambar:

https://www.leading-medicine-guide.com/cms/image/u4885/AdobeStock_212655137.jpg

https://orthosportsmed.com/wp-content/uploads/2020/07/spinal-cord-anatomy.jpg

6.      https://w7.pngwing.com/pngs/645/867/png-transparent-human-anatomy-chart-dermatome-spinal-cord-peripheral-nervous-system-spinal-nerve-myotome-anatomy-miscellaneous-angle-human-thumbnail.png

7.      Sumber foto : Humas RSO