Cedera bantalan kuku sering terjadi akibat trauma langsung pada ujung jari. Kondisi ini merupakan bagian dari cedera ujung jari, yang tercatat sebagai jenis cedera tangan paling umum yang ditangani di unit gawat darurat rumah sakit. Cedera ini memiliki kecenderungan terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan perbandingan 3:1.
Beberapa penyebab cedera kuku yang sering ditemui meliputi:
• Jari terjepit di antara dua benda atau pintu yang tertutup.
• Cedera akibat gergaji atau mesin pembuang salju (snowblower).
• Terpukul langsung oleh palu atau benda tumpul lainnya.
Gejala dan Hasil Pemeriksaan
Gejala utama yang dirasakan adalah nyeri pada jari. Saat pemeriksaan, dokter akan memeriksa adanya perdarahan di bawah kuku (hematoma subungual) dan memastikan integritas kuku Anda.
Jenis Cedera Bantalan Kuku
1. Hematoma Subungual
Ini adalah perdarahan di bawah kuku, biasanya disebabkan oleh cedera jenis benturan/tekanan. Jika luasnya kurang dari 50% kuku, penanganannya dapat dilakukan dengan melubangi kuku (drainase) menggunakan jarum steril atau elektrokauter. Jika luasnya lebih dari 50%, biasanya diperlukan tindakan pelepasan kuku, pembersihan, dan perbaikan bantalan kuku.
2. Laserasi Bantalan Kuku
Terjadi luka robek pada kuku dan bantalan kuku di bawahnya. Biasanya, kuku tetap utuh namun disertai hematoma subungual yang luas. Penanganannya melibatkan pelepasan kuku, pembersihan, dan perbaikan bantalan kuku.
3. Cedera Avulsi
Ini adalah kondisi yang lebih serius di mana kuku dan sebagian bantalan kuku terlepas, seringkali akibat energi tinggi. Jika ada patah tulang pada tulang jari (distal phalanx), dokter akan melakukan reduksi. Penanganannya bervariasi dari perbaikan sederhana hingga cangkok matriks kuku, tergantung pada seberapa banyak jaringan yang hilang.
Teknik Tatalaksana
Dalam proses tatalaksana, kuku yang terlepas dapat direndam dalam Betadine. Bantalan kuku biasanya ditatalaksanan menggunakan jahitan yang sangat halus (ukuran 6-0 atau lebih kecil). Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lem medis (Dermabond) dapat memberikan waktu perbaikan yang lebih cepat dengan hasil kosmetik dan fungsi yang sebanding dengan jahitan.
Catatan : Selalu berikan profilaksis tetanus dan antibiotik pada setiap cedera bantalan kuku untuk mencegah komplikasi infeksi.
Referensi :
Bharathi, R. R., & Bajantri, B. (2011). Nail bed injuries and deformities of nail. Indian Journal of Plastic Surgery, 44(2), 197–202. https://doi.org/10.4103/0970-0358.85340 Cited by: 58
Lafreniere, A. S., Misati, G., & Knox, A. (2023). Approach to nail trauma for primary care physicians. Canadian Family Physician, 69(9), 609–613.
https://doi.org/10.46747/cfp.6909609 Cited by: 4
Tos, P., Titolo, P., Chirila, N. L., Catalano, F., & Artiaco, S. (2011). Surgical treatment of acute fingernail injuries. Journal of Orthopaedics and Traumatology, 13(2), 57–62. https://doi.org/10.1007/s10195-011-0161-z Cited by: 94
Wheeless, C. R. (n.d.). Nail Bed Injury / Pathology. Wheeless' Textbook of Orthopaedics. https://www.wheelessonline.com/bones/hand/nail-bed-injury-pathology/
https://www.orthobullets.com/hand/6109/nail-bed-injury
Sumber gambar:
https://my.clevelandclinic.org/-/scassets/images/org/health/articles/24734-nail-matrix