Senin, 07 September 2026 10:22 WIB

Alergi Obat Kenali Gejala Penanganan dan Cara Mencegahnya

Responsive image
9
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Mengenal Alergi Obat

Obat digunakan untuk membantu mengatasi berbagai kondisi kesehatan. Namun, pada sebagian orang, obat tertentu dapat memicu reaksi yang tidak diharapkan. Salah satunya adalah alergi obat, yaitu reaksi sistem kekebalan tubuh yang muncul ketika tubuh menganggap suatu zat dalam obat sebagai sesuatu yang berbahaya.

Alergi obat merupakan salah satu bentuk reaksi hipersensitivitas. Reaksinya dapat mengenai berbagai bagian tubuh, sehingga keluhan yang muncul pada setiap orang dapat berbeda. Ada yang hanya mengalami gatal atau ruam pada kulit, tetapi pada kondisi tertentu reaksi dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih serius dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Perlu diketahui bahwa alergi obat tidak sama dengan efek samping obat. Efek samping umumnya merupakan respons yang sudah dikenal dan dapat terjadi akibat kerja obat, sedangkan alergi melibatkan respons sistem kekebalan tubuh.

Apa yang Menyebabkan Alergi Obat?

Alergi obat terjadi ketika sistem imun memberikan respons berlebihan terhadap zat tertentu yang terdapat dalam obat. Setelah seseorang mengalami sensitisasi terhadap suatu zat, paparan berikutnya dapat memicu reaksi alergi.

Sementara itu, tidak semua keluhan setelah mengonsumsi obat berarti alergi. Beberapa reaksi dapat disebabkan oleh efek farmakologis obat, interaksi antarkomponen obat, penggunaan dosis yang terlalu tinggi, maupun kondisi lain yang tidak berkaitan dengan sistem imun.

Karena itu, apabila muncul keluhan setelah menggunakan obat, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.

Obat Apa Saja yang Dapat Memicu Alergi?

Pada dasarnya, hampir semua jenis obat berpotensi menimbulkan reaksi alergi pada orang tertentu. Namun, beberapa kelompok obat lebih sering dikaitkan dengan reaksi alergi, antara lain :

1.      Antibiotik, terutama golongan penisilin dan sulfonamida.

2.      Obat Antiinflamasi Nonsteroid (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen.

3.      Obat antikejang, seperti carbamazepine dan lamotrigin.

4.      Obat yang digunakan dalam terapi penyakit autoimun.

5.      Obat kemoterapi

Riwayat alergi terhadap suatu obat perlu dicatat dengan baik karena informasi tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menentukan pilihan pengobatan yang lebih aman.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Alergi Obat?

Alergi obat dapat terjadi pada siapa saja. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami reaksi terhadap obat, misalnya :

1.      Memiliki riwayat alergi lain, seperti rinitis alergi atau alergi makanan.

2.      Mempunyai anggota keluarga dengan riwayat alergi obat tertentu.

3.      Menggunakan obat tertentu secara berulang atau dalam jangka waktu lama.

4.      Menggunakan obat dengan dosis tinggi.

5.      Memiliki kondisi atau penyakit tertentu yang dapat berkaitan dengan peningkatan risiko reaksi hipersensitivitas.

Meskipun memiliki faktor risiko tersebut, bukan berarti seseorang pasti akan mengalami alergi obat. Sebaliknya, orang tanpa faktor risiko pun tetap dapat mengalami reaksi alergi.

Kenali Gejala Alergi Obat

Reaksi alergi dapat muncul dalam waktu yang berbeda-beda. Pada sebagian orang, gejala muncul relatif cepat setelah obat digunakan, sedangkan pada kasus lain keluhan baru terlihat beberapa waktu kemudian.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain :

1.      Muncul ruam atau kemerahan pada kulit.

2.      Gatal-gatal atau bentol seperti biduran.

3.      Mata terasa gatal atau berair.

4.      Hidung berair atau tersumbat.

5.      Pembengkakan pada bibir, wajah, atau lidah.

6.      Napas berbunyi atau mengi.

7.      Sesak atau kesulitan bernapas.

8.      Demam

Gejala yang muncul setelah penggunaan obat tidak selalu menunjukkan alergi. Oleh karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa suatu obat menyebabkan alergi tanpa evaluasi dari tenaga kesehatan.

Waspadai Anafilaksis

Salah satu reaksi alergi yang paling serius adalah anafilaksis. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat dan merupakan keadaan darurat medis.

Segera cari pertolongan medis apabila setelah menggunakan obat muncul tanda-tanda seperti :

1.      Kesulitan bernapas atau sesak berat.

2.      Pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.

3.      Tekanan darah menurun.

4.      Denyut jantung menjadi sangat cepat atau tidak normal.

5.      Mual, muntah, kram perut, atau diare.

6.      Pusing berat atau kebingungan.

7.      Kejang

8.      Penurunan kesadaran atau pingsan.

9.      Kulit tampak kebiruan.

Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya. Anafilaksis membutuhkan penanganan segera di fasilitas pelayanan kesehatan.

Bagaimana Alergi Obat Ditangani?

Penanganan alergi obat bergantung pada jenis dan tingkat keparahan reaksinya. Dokter akan menilai gejala, obat yang digunakan, riwayat kesehatan, serta kondisi pasien sebelum menentukan terapi.

Beberapa jenis obat dapat digunakan untuk membantu mengatasi reaksi alergi, antara lain :

1.      Antihistamin, untuk membantu meredakan gejala seperti gatal dan biduran.

2.      Kortikosteroid, pada kondisi tertentu untuk membantu mengendalikan peradangan.

3.      Bronkodilator, apabila terdapat gangguan saluran napas tertentu.

4.      Epinefrin, yang menjadi terapi utama pada kondisi anafilaksis.

Pada reaksi berat, pasien perlu mendapatkan penanganan segera dan pemantauan di rumah sakit.

Bagaimana Cara Mencegah Alergi Obat?

Langkah paling penting dalam mencegah terulangnya alergi obat adalah menghindari obat yang telah diketahui menjadi pemicunya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah :

1.      Sampaikan riwayat alergi obat kepada dokter dan tenaga kesehatan sebelum mendapatkan obat atau menjalani tindakan medis.

2.      Pastikan nama obat yang pernah menimbulkan alergi tercatat dengan jelas dalam riwayat kesehatan.

3.      Jangan menggunakan kembali obat yang pernah menyebabkan reaksi alergi tanpa anjuran dokter.

4.      Periksa label dan kandungan obat, terutama ketika menggunakan obat yang dibeli tanpa resep.

5.      Bila memiliki riwayat alergi obat berat, gunakan kartu identitas medis atau gelang penanda alergi agar informasi tersebut dapat diketahui saat kondisi darurat.

6.      Jangan memberikan obat milik orang lain karena respons setiap orang terhadap obat dapat berbeda.

Jangan Abaikan Riwayat Alergi Obat

Mengingat reaksi alergi dapat berkisar dari ringan hingga mengancam nyawa, riwayat alergi obat merupakan informasi penting yang perlu disampaikan setiap kali mendapatkan pelayanan kesehatan.

Jika setelah menggunakan obat muncul keluhan yang tidak biasa, segera konsultasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan. Terlebih apabila terdapat pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, sesak napas, penurunan kesadaran, atau tanda lain yang mengarah pada anafilaksis.

Kenali obat yang digunakan, kenali reaksi tubuh, dan jangan ragu mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya.

 

Referensi :

Saputra, Y., dkk. 2024. Diagnosis dan Tatalaksana Alergi Obat. Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.

Hama, N., Abe, R., & Gibson, A. 2022. Drug-Induced Hypersensitivity Syndrome (DIHS) / Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS) : Clinical Features and Pathogenesis. Journal of Allergy and Clinical Immunology : In Practice, 10(5).

Sabila, Y., dkk. 2023. Tindakan Pencegahan dan Kejadian Reaksi Alergi Obat di Kamar Operasi pada Pasien dengan Anestesi Umum di RS Pertamedika Ummi Rosnati Banda Aceh Tahun 2021. Jurnal Kesehatan Universitas Abulyatama Banda Aceh.

Hidayarurahmah, R., dkk. 2021. Penyuluhan dan Edukasi Terkait Jenis dan Penatalaksanaan Alergi pada Masyarakat di Dusun Temiyang, Desa Pardasuka, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Bandar Lampung.