Kenali Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Pentingnya Deteksi dan Skrining Sejak Dini
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan pada struktur atau fungsi jantung yang telah terbentuk sejak masa perkembangan janin di dalam kandungan. Kelainan ini memiliki tingkat keparahan yang beragam. Sebagian bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa menunjukkan gejala yang berarti, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan penanganan medis sejak awal kehidupan.
Salah satu kelompok yang memerlukan perhatian khusus adalah Penyakit Jantung Bawaan Kritis (PJB Kritis). Kondisi ini merupakan jenis PJB yang dapat menyebabkan gangguan serius pada sirkulasi darah dan membutuhkan evaluasi serta penanganan medis dalam waktu cepat setelah bayi lahir. Apabila tidak dikenali dan ditangani secara tepat, PJB kritis dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi yang mengancam jiwa.
Tidak semua kelainan jantung dapat dikenali hanya melalui pemeriksaan fisik. Oleh karena itu, skrining pada bayi baru lahir menjadi salah satu langkah penting untuk membantu menemukan PJB kritis sedini mungkin. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah oksimetri nadi (pulse oximetry), yaitu pemeriksaan sederhana dan noninvasif untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah.
Melalui skrining, bayi yang memiliki hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan nilai yang diharapkan dapat segera menjalani evaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup pemeriksaan fisik secara menyeluruh dan ekokardiografi (USG jantung) untuk mengetahui struktur serta fungsi jantung secara lebih detail.
Deteksi yang dilakukan sejak awal memberikan kesempatan lebih besar bagi bayi untuk mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya. Dengan demikian, skrining PJB kritis menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan keselamatan bayi baru lahir dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Mengapa Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan Penting?
Penyakit jantung bawaan dapat memberikan dampak yang berbeda pada setiap anak. Pada kondisi tertentu, gejala dapat muncul segera setelah lahir, sedangkan pada kondisi lainnya baru terlihat setelah beberapa waktu.
PJB kritis memerlukan perhatian khusus karena gangguan pada jantung dapat memengaruhi aliran darah dan pasokan oksigen ke berbagai organ tubuh. Semakin cepat kelainan dikenali, semakin cepat pula bayi dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Deteksi dini tidak selalu berarti bayi langsung dinyatakan menderita PJB. Skrining merupakan langkah awal untuk mengidentifikasi bayi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil skrining yang menunjukkan kecurigaan perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan diagnostik oleh tenaga medis. Dengan adanya deteksi dini, kondisi yang membutuhkan penanganan segera dapat dikenali sebelum bayi mengalami komplikasi yang lebih berat.
Kapan Skrining Penyakit Jantung Bawaan Dilakukan?
Skrining PJB kritis dengan oksimetri nadi dilakukan pada bayi baru lahir, umumnya setelah bayi berusia setidaknya 24 jam atau sebelum pulang dari fasilitas pelayanan kesehatan, sesuai dengan protokol yang berlaku. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan kondisi bayi setelah pulang. Beberapa tanda yang perlu mendapatkan perhatian antara lain :
1. Kulit, bibir, atau kuku tampak kebiruan;
2. Bayi mengalami kesulitan atau napas tampak lebih cepat dari biasanya;
3. Bayi mudah lelah saat menyusu;
4. Bayi sulit menyusu atau sering berhenti saat menyusu;
5. Berat badan atau pertumbuhan bayi tidak sesuai dengan yang diharapkan;
6. Bayi tampak sangat lemas;
7. Bayi mengalami keringat berlebihan, terutama saat menyusu.
Apabila terdapat tanda-tanda tersebut, orang tua sebaiknya segera membawa bayi ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Siapa yang Membutuhkan Perhatian Khusus Selama Kehamilan?
Selain skrining setelah bayi lahir, kondisi tertentu selama kehamilan dapat meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan adanya penyakit jantung bawaan. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan jantung janin, termasuk ekokardiografi janin, apabila terdapat faktor risiko tertentu.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan antara lain :
1. Orang tua atau saudara kandung bayi memiliki riwayat penyakit jantung bawaan;
2. Pada kehamilan sebelumnya terdapat janin atau bayi dengan penyakit jantung bawaan;
3. Terdapat kondisi medis tertentu pada ibu selama kehamilan, termasuk diabetes;
4. Ibu menggunakan obat-obatan tertentu selama kehamilan yang diketahui dapat meningkatkan risiko kelainan pada janin;
5. Terdapat kelainan atau temuan yang mencurigakan pada pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kehamilan;
6. Ditemukan gangguan irama atau denyut jantung janin yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Pemeriksaan selama kehamilan dan skrining setelah kelahiran merupakan dua hal yang berbeda. Pemeriksaan selama kehamilan bertujuan menemukan kemungkinan kelainan sejak janin masih berada di dalam kandungan, sedangkan skrining bayi baru lahir membantu mengidentifikasi pjb kritis setelah bayi dilahirkan.
Bagaimana Penyakit Jantung Bawaan Dideteksi?
Tidak ada satu pemeriksaan yang dapat mendeteksi seluruh jenis penyakit jantung bawaan. Tenaga kesehatan dapat menggunakan beberapa metode pemeriksaan sesuai kondisi dan kebutuhan bayi.
1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan bagian penting dalam menilai kondisi bayi. Dokter atau tenaga kesehatan akan melakukan penilaian terhadap kondisi umum bayi, termasuk warna kulit, pola pernapasan, denyut nadi, serta tanda-tanda lain yang dapat menunjukkan adanya gangguan pada sistem kardiovaskular.
Pemeriksaan menggunakan stetoskop juga dapat dilakukan untuk mendengarkan suara jantung. Adanya murmur atau bising jantung dapat menjadi salah satu tanda yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, tidak semua bayi dengan PJB memiliki murmur sehingga pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan PJB.
2. Skrining Oksimetri Nadi (Pulse Oximetry)
Oksimetri nadi merupakan pemeriksaan sederhana, cepat, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Alat oksimeter dipasang pada bagian tubuh bayi, seperti tangan atau kaki, untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah.
Pada PJB kritis tertentu, kadar oksigen dalam darah dapat lebih rendah akibat adanya gangguan aliran darah atau pencampuran darah yang tidak normal. Kondisi tersebut dapat terdeteksi melalui pemeriksaan oksimetri nadi.
Skrining ini umumnya dilakukan pada bayi baru lahir sebelum pulang dari fasilitas pelayanan kesehatan. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecurigaan, bayi perlu menjalani evaluasi lebih lanjut.
Penting untuk dipahami bahwa hasil skrining yang tidak normal belum berarti bayi pasti mengalami PJB. Hasil tersebut merupakan tanda bahwa diperlukan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui penyebabnya.
3. Ekokardiografi
Ekokardiografi atau USG jantung merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran struktur dan fungsi jantung.
Pemeriksaan ini dapat membantu dokter melihat ruang-ruang jantung, katup, pembuluh darah besar, serta aliran darah di dalam jantung. Ekokardiografi juga dapat membantu menemukan berbagai kelainan struktur jantung, termasuk kelainan pada sekat jantung atau katup.
Pada bayi yang memiliki hasil skrining PJB kritis yang mencurigakan, ekokardiografi dapat menjadi salah satu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi jantung.
4. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram atau EKG merupakan pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dapat membantu mengetahui irama dan aktivitas listrik jantung serta mendeteksi gangguan irama tertentu.
EKG bukan pemeriksaan utama untuk mendeteksi seluruh jenis PJB, tetapi dapat menjadi pemeriksaan penunjang ketika dokter mencurigai adanya kelainan jantung tertentu.
5. Pemeriksaan Genetik
Sebagian penyakit jantung bawaan dapat berkaitan dengan kelainan genetik atau sindrom tertentu. Apabila berdasarkan pemeriksaan klinis terdapat kecurigaan terhadap kondisi tersebut, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan genetik.
Pemeriksaan genetik dilakukan berdasarkan indikasi medis dan bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk seluruh bayi dengan dugaan PJB.
6. Pemeriksaan Laboratorium
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat meminta pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari evaluasi kondisi bayi. Pemeriksaan dapat mencakup analisis gas darah dan pemeriksaan fungsi organ tertentu sesuai dengan kondisi klinis.
Pemeriksaan laboratorium berfungsi sebagai pemeriksaan penunjang dan penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Orang tua memiliki peran penting dalam memastikan bayi mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :
1. Memastikan bayi mendapatkan pemeriksaan kesehatan setelah lahir sesuai jadwal;
2. Menanyakan kepada tenaga kesehatan mengenai skrining pjb kritis sebelum bayi pulang dari fasilitas pelayanan kesehatan;
3. Memperhatikan perubahan warna kulit, pola napas, kemampuan menyusu, dan aktivitas bayi;
4. Segera membawa bayi ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila muncul tanda yang mengkhawatirkan;
5. Mengikuti pemeriksaan lanjutan apabila hasil skrining menunjukkan adanya kecurigaan;
6. Tidak menunda konsultasi apabila bayi memiliki faktor risiko atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung bawaan.
Deteksi Dini untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Penyakit jantung bawaan tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui pengenalan dan penanganan yang tepat. Skrining PJB kritis pada bayi baru lahir merupakan salah satu upaya untuk menemukan kondisi yang mungkin belum menunjukkan gejala secara jelas.
Oksimetri nadi dapat menjadi pemeriksaan awal yang sederhana untuk membantu mengidentifikasi bayi yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Apabila ditemukan hasil yang mencurigakan, pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Bagi orang tua, mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan pada bayi dan tidak menunda pemeriksaan merupakan langkah penting. Semakin cepat suatu kondisi dikenali, semakin cepat pula bayi dapat memperoleh pertolongan yang sesuai.
Referensi :
Suprojo, D. A., dkk. 2025. Efektivitas Pulse Oximetry sebagai Skrining Penyakit Jantung Bawaan Kritis Bayi Baru Lahir: Literature Review. Jurnal Kesehatan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Lestari, D. L. 2023. Penyakit Jantung Bawaan pada Anak. Jurnal Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Baiturrahmah, Padang.
Hermawan, B. J., dkk. 2019. Profil Penyakit Jantung Bawaan di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2014 - Desember 2017. Jurnal Kesehatan Universitas Andalas, Padang.
Prakosa, R., dkk. 2022. Pentingnya Mendeteksi Penyakit Jantung Bawaan Lebih Dini. Jurnal Kesehatan, Universitas Indonesia, Jakarta.