Makassar, - RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo terus memperkuat perannya dalam memberikan layanan penyakit jantung yang menyeluruh di Indonesia dengan menggelar Wahidin International Symposium Event (WISE) 2026 yang mengusung tema “Advancing Comprehensive Cardiovascular Care”, Sabtu 25/6/2026.
Forum keilmuan ini digelar sebagai rangkaian HUT Ke-33 RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan menghadirkan pembicara dalam dan luar negeri diantaranya Prof. Takashi Ashikaga dari Jepang, Dr. Marvin Martinez dari Filipina, dan Wan Nurisa binti Wan Ibrahim dan Ibu Siti Hajar binti Fadzil dari Malaysia.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya Wise 2026 merupakan forum ilmiah internasional yang sangat strategis dalam memperkuat layanan kardiovaskular yang komprehensif.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan seluruh panitia atas terselenggaranya kegiatan ini. Semoga Wise 2026 memberikan kontribusi besar bagi penguatan layanan kardiovaskular di Indonesia,” ujar Azhar Jaya.
Ia berharap melalui WISE 2026 ini terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman terbaik dari para ahli yang ada, serta kemudian terbangun jejaring kolaborasi yang kuat, baik di dalam negeri maupun kolaborasi yang kuat secara internasional.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, Sp.B, FICS, dalam sambutannya mengatakan bahwa WISE bukan hanya sekadar forum ilmiah, melainkan ruang kolaborasi antara ilmu pengetahuan, pengalaman klinis, inovasi teknologi, dan komitmen kemanusiaan.
“WISE kita hadirkan sebagai bagian dari ikhtiar RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo untuk memperkuat peran sebagai rumah sakit rujukan nasional, rumah sakit pendidikan, dan pusat pengembangan layanan unggulan di kawasan Indonesia Timur,” ungkap dr. Annas.
Ia menambahkan bahwa layanan kardiovaskular yang maju adalah layanan yang menyeluruh yang dimulai dari promotif dan preventif, skrining faktor risiko, deteksi dini, respons kegawatdaruratan, diagnostik yang tepat, intervensi yang cepat, perawatan intensif, rehabilitasi jantung, hingga pemantauan jangka panjang berbasis data.
“Kita tidak hanya sedang membicarakan how to treat heart disease, tetapi how to build a system that protects the heart of the population,” tambahnya.
Data World Heart Federation menunjukkan bahwa Indonesia mengalami sekitar 765.660 kematian akibat penyakit kardiovaskular pada tahun 2021. Angka kematian kardiovaskular Indonesia tercatat sekitar 410 per 100.000 penduduk, lebih tinggi dibandingkan angka global yang tercatat sekitar 235 per 100.000 penduduk.
World Heart Federation juga mencatat bahwa proporsi seluruh kematian di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular mencapai sekitar 41,1%, lebih tinggi dibandingkan angka global sekitar 31,6%. Ini berarti bahwa dalam konteks Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah bukan lagi hanya isu klinis, tetapi telah menjadi isu strategis nasional.
Faktor risikonya juga sangat nyata. Prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa Indonesia tercatat sekitar 35,9%, sementara prevalensi merokok usia 15 tahun ke atas sekitar 31%, lebih tinggi dibandingkan angka global sekitar 20%.
“Data ini memberikan pesan yang jelas bahwa kita tidak mungkin memenangkan perang melawan penyakit jantung hanya di ruang tindakan. Kita harus memenangkannya sejak dari hulu: dari pengendalian hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, rokok, pola makan, aktivitas fisik, hingga literasi kesehatan masyarakat,” tegas dr. Annas.
Melalui simposium ini, diharapkan akan lahir rekomendasi, ide, dan jejaring kerja yang dapat memperkuat layanan kardiovaskular bukan hanya di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, tetapi di seluruh wilayah Sulawesi Selatan, bahkan hingga kawasan Indonesia Timur.***