Selasa, 28 April 2026 12:06 WIB

RSUP Dr M Djamil Peringati Hari Hemofilia Sedunia

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
15

Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif. Pada Jumat, 17 April 2026 lalu, rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan memperingati Hari Hemofilia Sedunia dengan menggelar kegiatan edukasi kesehatan yang berlangsung di Poliklinik Penyakit Dalam Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan.

Kegiatan ini dihadiri oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit yang antusias mengikuti pemaparan materi. Edukasi kesehatan tersebut menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam, dr. Ali Ardany, Sp.PD, yang menyampaikan informasi komprehensif tentang hemofilia, mulai dari pengertian, penyebab, gejala, hingga penanganannya.

Dalam pemaparannya, dr. Ali Ardany menjelaskan hemofilia merupakan kelainan genetik bawaan yang ditandai dengan gangguan proses pembekuan darah akibat kekurangan faktor pembekuan tertentu. Kondisi ini menyebabkan darah sulit membeku sehingga penderita berisiko mengalami perdarahan yang lebih lama disbanding orang normal.

“Hemofilia adalah penyakit yang perlu dipahami sejak dini karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujar dr. Ali Ardany, Sp.PD dalam sesi edukasi tersebut.

Ia juga menambahkan hemofilia terbagi menjadi dua jenis utama. Yaitu hemofilia A yang disebabkan oleh kekurangan faktor VIII dan hemofilia B yang disebabkan oleh kekurangan faktor IX. “Penyebab utama hemofilia adalah faktor genetik yang diturunkan dalam keluarga. Namun demikian, pada beberapa kasus, hemofilia juga dapat terjadi akibat mutasi spontan yang tidak memiliki riwayat keluarga sebelumnya. Mutasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor lingkungan, meskipun hal tersebut relatif jarang terjadi,” tuturnya.

Gejala hemofilia umumnya ditandai dengan perdarahan yang sulit berhenti. Selain itu, terdapat gejala lain yang perlu diwaspadai seperti mudah memar, mimisan yang sering terjadi, perdarahan pada persendian yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan, perdarahan tanpa sebab yang jelas, perdarahan pada gusi, hingga ditemukannya darah pada urine atau feses.

“Jika mengalami perdarahan yang tidak wajar atau sering berulang, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri. Deteksi dini sangat penting untuk menentukan penanganan yang tepat,” tambahnya.

Untuk menegakkan diagnosis hemofilia, dr. Ali menyampaikan diperlukan pemeriksaan laboratorium darah guna mengukur kadar faktor pembekuan. “Pemeriksaan ini menjadi langkah penting dalam memastikan jenis dan tingkat keparahan hemofilia yang dialami pasien,” ucapnya.

Terkait pencegahan, karena hemofilia merupakan penyakit genetik, maka tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, upaya pencegahan komplikasi dapat dilakukan dengan menghindari aktivitas yang berisiko menyebabkan cedera atau perdarahan, serta melakukan kontrol rutin ke fasilitas kesehatan.

Dalam hal pengobatan, hemofilia dapat ditangani melalui terapi penggantian faktor pembekuan yang diberikan secara berkala sesuai kebutuhan pasien. Penanganan yang tepat dan teratur dapat membantu penderita menjalani kehidupan yang lebih baik dan meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang.

“Dengan pengobatan yang rutin dan kepatuhan pasien, penderita hemofilia tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang baik,” tutup dr. Ali.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang hemofilia, sekaligus mendorong deteksi dini dan penanganan yang optimal bagi pasien. Edukasi kesehatan seperti ini menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif rumah sakit dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.***