Senin, 31 Agustus 2026 15:46 WIB

RS M Djamil Bekali 18 Dokter Muda dengan Etika dan Profesionalisme

Responsive image
Humas - RSUP dr. Djamil Padang
37

Padang - RS M. Djamil bersama Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) menggelar Layanan Orientasi Informasi (LOI) Program Studi Pendidikan Profesi Dokter bagi dokter muda yang akan menjalani proses pendidikan klinik di RS M. Djamil, Senin, 31 Agustus 2026. Orientasi yang diikuti 18 dokter muda ini menjadi tahapan penting sebelum memasuki lingkungan pendidikan klinik dan berinteraksi langsung dengan pasien, tenaga kesehatan, dosen, pembimbing klinik, serta seluruh unsur pelayanan di rumah sakit.

Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan rumah sakit kepada dokter muda. Tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai, budaya kerja, profesionalisme, etika, serta pemahaman mengenai tata kelola pendidikan klinik yang diterapkan di RS M. Djamil.

Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan dan Penelitian RS M. Djamil, dr. Maliana, M.Kes, mengatakan orientasi memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar pengenalan lingkungan tempat dokter muda menjalani pendidikan.

“Kegiatan orientasi ini tidak dimaknai semata sebagai pengenalan lingkungan belajar, tetapi sebagai titik awal internalisasi nilai, budaya kerja, tata kelola pendidikan klinik, serta penguatan pemahaman terhadap sistem pelayanan yang berorientasi mutu dan keselamatan pasien,” ujar dr. Maliana saat memberikan sambutan di Gedung Diklat RS M. Djamil.

Menurutnya, pendidikan klinik merupakan bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter dan kompetensi seorang dokter. "Pada tahap ini, dokter muda tidak hanya dituntut untuk mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan klinis, tetapi juga harus mampu membangun sikap profesional serta memahami tanggung jawab moral ketika berhadapan dengan pasien," tuturnya.

Sebagai rumah sakit pendidikan utama sekaligus rumah sakit rujukan nasional, RS M. Djamil memiliki mandat strategis untuk menghadirkan integrasi pelayanan, pendidikan, dan penelitian yang berkualitas. Ketiga unsur tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan sekaligus mutu pelayanan kepada masyarakat.

“Dalam konteks tersebut, dokter muda merupakan bagian dari ekosistem pembelajaran yang dipersiapkan menjadi SDM kesehatan unggul untuk menjawab tantangan transformasi kesehatan nasional,” katanya.

Ia menegaskan, keberadaan dokter muda di lingkungan rumah sakit harus ditempatkan dalam kerangka pembelajaran yang bertanggung jawab. Setiap proses pembelajaran klinik harus tetap menjadikan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

Karena itu, dr. Maliana mengingatkan para dokter muda untuk membangun budaya keselamatan pasien sejak awal menjalani kepaniteraan klinik. “Bangun budaya keselamatan pasien sebagai nilai dasar praktik klinik,” pesannya kepada para dokter muda.

Selain keselamatan pasien, profesionalisme dan integritas juga menjadi dua hal yang ditekankan dalam orientasi tersebut. Dokter muda diharapkan memahami bahwa kompetensi seorang dokter tidak hanya diukur dari kemampuan mendiagnosis penyakit maupun melakukan tindakan medis, tetapi juga dari kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kemampuan berkomunikasi, serta kepatuhan terhadap etika profesi. “Perkuat profesionalisme dan integritas. Junjung tinggi etika profesi, disiplin, tanggung jawab, dan sikap hormat terhadap sistem pendidikan maupun pelayanan,” tegasnya.

Menurut dr. Maliana, proses pendidikan klinik juga harus menjadi ruang bagi dokter muda untuk belajar bekerja dalam sebuah tim. Pelayanan kesehatan modern tidak lagi dapat dijalankan secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi antara berbagai profesi kesehatan dengan latar belakang kompetensi yang berbeda.

Ia pun mendorong dokter muda memanfaatkan masa kepaniteraan sebagai ruang pembelajaran kolaboratif. Interaksi dengan dokter spesialis, dokter umum, perawat, tenaga kesehatan lainnya, dosen, pembimbing klinik, hingga sesama dokter muda harus dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman dan wawasan.

“Manfaatkan kepaniteraan sebagai ruang pembelajaran kolaboratif. Belajarlah melalui kerja tim, komunikasi interprofesional, refleksi kasus, dan pengalaman klinik yang akan membentuk Saudara sebagai dokter yang utuh,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman selama menjalani pendidikan klinik akan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan profesional seorang dokter. "Berbagai kasus yang ditemui, proses diskusi dengan pembimbing, pengalaman berkomunikasi dengan pasien dan keluarga, serta dinamika kerja di rumah sakit diharapkan mampu membentuk kemampuan klinis sekaligus kematangan sikap para dokter muda," sebutnya.

Dalam kesempatan tersebut, dr. Maliana juga memberikan perhatian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan klinik yang aman, sehat, dan mendukung proses pembelajaran. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik perundungan atau bullying dalam lingkungan pendidikan.

"Pendidikan dokter harus berlangsung dalam suasana yang menjunjung tinggi rasa saling menghormati. Proses pembentukan kompetensi dan karakter tidak boleh dilakukan melalui tindakan yang merendahkan, mengintimidasi, atau memberikan tekanan yang tidak proporsional kepada peserta didik,” tegasnya.

Ia berharap 18 dokter muda yang mengikuti LOI tersebut dapat memahami sejak awal bahwa mereka bukan hanya datang ke rumah sakit untuk menyelesaikan tahapan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pelayanan kesehatan. "Karena itu, setiap tindakan, sikap, dan komunikasi yang dilakukan selama berada di rumah sakit harus mencerminkan profesionalisme serta menjaga kepercayaan pasien dan institusi pendidikan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, dalam kegiatan tersebut juga memberikan arahan kepada para dokter muda terkait kesiapan menjalani pendidikan profesi dokter di lingkungan rumah sakit pendidikan.

Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, akademik, dan profesional bagi mahasiswa yang memasuki fase pendidikan klinik. "Tahapan pendidikan profesi dokter merupakan masa transisi dari pembelajaran berbasis teori menuju pengalaman klinis secara langsung, sehingga dibutuhkan kemampuan beradaptasi serta kemauan untuk terus belajar," ucapnya. ***