Senin, 31 Agustus 2026 16:00 WIB

RSAB Harapan Kita Sukses Lakukan Operasi Bedah Janin Terbuka Pertama di Indonesia

Responsive image
Humas - RS Anak dan Bunda Harapan Kita Jakarta
23

Jakarta – Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita kembali mencatat pencapaian bersejarah dalam dunia kedokteran Indonesia dengan sukses melaksanakan Open Fetal Surgery atau bedah janin terbuka pertama pada 25 Agustus 2026. Operasi terobosan ini ditujukan untuk menangani kasus mielomeningokel pada janin dan terselenggara melalui kolaborasi serta pendampingan langsung dari tim ahli Mater Mothers' Hospital, Brisbane, Australia.

Menyelamatkan Kualitas Hidup Sejak dalam Kandungan Mielomeningokel merupakan jenis kelainan spina bifida paling berat, di mana tulang belakang dan saluran saraf janin tidak menutup secara sempurna saat perkembangan awal di dalam kandungan. Secara global, Neural Tube Defects (NTD) diperkirakan mencapai 260.100 kasus per tahun, dengan sekitar 128.000 di antaranya adalah kondisi spina bifida.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D, yang meninjau langsung kondisi pasien, menyebut keberhasilan ini sebagai kado luar biasa bagi dunia kedokteran Indonesia di momen kemerdekaan bulan Agustus. Beliau menjelaskan tingkat kerumitan operasi ini sangat tinggi karena tim dokter harus membius dan mengoperasi ibu beserta janinnya sekaligus.

"Perut ibunya dibuka, kemudian rahimnya dibuka dibentuk huruf V, terus bayi yang ada di dalam kandungan itu dioperasi. Setelah dioperasi oleh dokter bedah saraf, dikembalikan lagi ke dalam rahimnya, dijahit lagi, kemudian dimasukkan lagi ke dalam tubuh ibunya," ungkap Prof. Dante.

Beliau menambahkan, apabila kelainan mielomeningokel ini dibiarkan hingga lahir, bayi berisiko tinggi mengalami kelumpuhan, tidak bisa menahan buang air besar dan kecil secara otomatis, hingga mengalami hidrosefalus atau penumpukan cairan di kepala.

Kerja Sama Multidisiplin dan Pengakuan Internasional Pelaksanaan operasi yang berlangsung di Kamar Operasi 6 RSAB Harapan Kita ini membutuhkan sinergi luar biasa dari tim multidisiplin. Prosedur ini melibatkan puluhan tenaga medis, diketuai oleh dr. Gatot Abdurrazak, Sp.OG., Subsp. K.Fm untuk tim obstetri/fetomaternal, dr. Alvi Aulia Rahmah, Sp.BS untuk tim bedah saraf, dan dr. Yoga Pranata, Sp.An., Subsp. AO (K) untuk tim anestesi.

dr. Gatot Abdurrazak, Sp.OG., Subsp. K.Fm memaparkan bahwa pasien dirujuk ke RSAB Harapan Kita saat usia kehamilan 18 minggu. Tim medis harus berpacu dengan waktu karena perbaikan (repair) saraf janin optimalnya hanya bisa dilakukan maksimal hingga usia kandungan 26 minggu. Berkat dukungan manajemen rumah sakit, koordinasi dengan Mater Mothers' Hospital dapat dilakukan dengan cepat.

"Apabila dilakukan lebih awal, diharapkan kerusakan sarafnya bisa dihentikan, perbaikan saraf dan regenerasinya lebih baik lagi, dan mencegah komplikasi jangka panjang," jelas dr. Alvi Aulia Rahmah, Sp.BS selaku DPJP Bedah Saraf. Beliau juga menekankan bahwa fase paling krusial selama masa intraoperatif adalah menjaga agar kondisi janin tetap stabil.

Keberhasilan RSAB Harapan Kita mendapat apresiasi penuh dari Dr. Glenn Gardener, Director of Mater Mothers' Fetal Medicine Centre, Brisbane. "Operasinya sukses, kami tidak mengalami komplikasi apa pun, dan saya pikir ini adalah bukti bukan hanya bagi kehebatan tim di sini, tetapi juga pemahaman bersama kita tentang keselamatan bagi sang ibu dan keselamatan bagi sang bayi," puji Dr. Glenn.

Komitmen Keberlanjutan Pelayanan Fetal Therapy Nasional Tindakan open fetal surgery ini semakin mengukuhkan kapabilitas RSAB Harapan Kita yang sebelumnya telah mengembangkan berbagai layanan fetal therapy tingkat lanjut, seperti Fetal ShuntRadiofrequency Ablation (RFA), dan Fetoscopic Laser Surgery untuk kasus Twin-to-Twin Transfusion Syndrome (TTTS). Khusus untuk TTTS, RSAB Harapan Kita telah sukses mengerjakan 200 kasus, menjadikannya salah satu rujukan utama di tingkat regional.

Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, Sp.A(K), memastikan bahwa pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pengembangan layanan yang lebih luas. Program proctorship internasional ini dirancang bukan sekadar untuk satu tindakan klinis, tetapi sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi untuk mencetak kemandirian tim RSAB Harapan Kita.

"Strategi kami adalah lebih banyak membawa ahli luar negeri secara berkelompok supaya juga bisa menularkan keahliannya ke teman-teman tenaga medis secara kolaboratif. Ke depan, terapi-terapi advanced ini akan menjadi fokus pengembangan di program pengampuan untuk rumah sakit-rumah sakit paripurna lainnya di Indonesia," pungkas dr. Reni. ***