Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Selasa, 13 Oktober 2026 15:32 WIB

RS M Djamil Dorong Pencegahan Sarkopenia Jaga Kemandirian di Usia Lanjut

RS M Djamil Dorong Pencegahan Sarkopenia Jaga Kemandirian di Usia Lanjut
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 48 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil terus mendorong kesadaran masyarakat untuk mencegah sarkopenia, kondisi penurunan massa, kekuatan, dan fungsi otot yang dapat mengancam kemandirian, terutama pada kelompok lanjut usia. Melalui edukasi kesehatan pada Selasa, 13 Oktober 2026, RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Instalasi Rehabilitasi Medik mengajak masyarakat mengenali risiko sarkopenia sejak dini melalui skrining, pemenuhan protein, dan latihan ketahanan.

Edukasi tersebut menghadirkan dr. Widiya Rahmi, Sp.KFR, MS (K), FIPM (USG), FHKIMM sebagai narasumber yang memaparkan materi bertajuk “Mengenal tentang Sarkopenia”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sarkopenia merupakan kondisi medis yang ditandai dengan penurunan massa otot, kekuatan otot, serta performa fisik. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama seiring bertambahnya usia.

“Sarkopenia adalah kondisi ketika tubuh kehilangan tiga hal penting secara bersamaan, yaitu otot yang menyusut dan mengecil, kekuatan otot yang menurun, serta performa fisik yang berkurang,” jelasnya.

Ia menerangkan, penurunan fungsi otot sering kali berlangsung secara perlahan sehingga tidak selalu disadari sejak awal. Seseorang mungkin mulai merasa kesulitan ketika berdiri dari posisi duduk, menaiki tangga, berjalan dalam jarak tertentu, atau mengangkat barang yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah. Apabila tidak diantisipasi, kondisi ini dapat membatasi mobilitas dan mengurangi kemandirian seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Sarkopenia membuat aktivitas sehari-hari yang tadinya mudah terasa seperti olahraga berat. Karena itu, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini dan melakukan langkah pencegahan sebelum penurunan fungsi otot semakin mengganggu aktivitas,” ungkap dr. Widiya.

Menurutnya, menjaga kesehatan otot bukan hanya menjadi perhatian bagi kelompok lanjut usia, tetapi juga perlu dimulai sejak usia dewasa. “Massa dan kekuatan otot memiliki peran penting dalam mendukung keseimbangan tubuh, menjaga kemampuan bergerak, serta membantu seseorang tetap mandiri dalam melakukan berbagai aktivitas,” tuturnya.

dr. Widiya menegaskan kabar baiknya, sarkopenia dapat dicegah dan diantisipasi melalui upaya deteksi dini serta penerapan pola hidup sehat. Terdapat tiga langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan otot, yakni melakukan skrining sarkopenia, menerapkan pola makan tinggi protein, serta rutin melakukan latihan ketahanan.

Langkah pertama adalah melakukan skrining untuk mengenali kemungkinan adanya penurunan massa dan kekuatan otot. Skrining dapat dilakukan secara mandiri sebagai pemeriksaan awal maupun melalui pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan di rumah adalah mengukur lingkar betis dan menggunakan kuesioner SARC-F untuk menilai kesulitan dalam menjalankan aktivitas fisik tertentu.

Sementara itu, pemeriksaan di fasilitas kesehatan dapat dilakukan melalui sejumlah metode, antara lain handgrip strength test atau tes kekuatan genggaman tangan, sit-to-stand test untuk menilai kemampuan berdiri dari posisi duduk, serta tes kecepatan berjalan pada lintasan enam meter. Pemeriksaan tersebut membantu tenaga kesehatan menilai fungsi otot dan kemampuan fisik seseorang.

“Meski demikian, skrining mandiri tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan diagnosis sarkopenia. Apabila seseorang mulai mengalami penurunan kekuatan, kesulitan berjalan, atau perubahan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan diperlukan agar kondisi tersebut dapat dinilai secara tepat dan ditangani sesuai kebutuhan,” tuturnya.

Langkah kedua adalah memperhatikan pola makan dengan asupan protein yang cukup. Protein berperan penting dalam pembentukan dan pemeliharaan jaringan otot. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan protein melalui makanan bergizi seimbang menjadi bagian penting dalam menjaga kekuatan otot, khususnya pada kelompok lanjut usia yang berisiko mengalami penurunan massa otot.

“Sumber protein dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan, seperti ikan, telur, daging, ayam, susu, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Pemilihan jenis serta jumlah asupan protein perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, kondisi kesehatan, dan anjuran tenaga kesehatan apabila terdapat penyakit penyerta tertentu,” sebutnya.

Selain menjaga asupan nutrisi, dr. Widiya juga menekankan pentingnya melakukan latihan ketahanan secara teratur. Latihan ini bertujuan membantu mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot sehingga tubuh tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Bentuk latihan dapat disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing, seperti latihan duduk dan berdiri dari kursi, latihan menggunakan beban ringan, maupun latihan kekuatan lainnya dengan memperhatikan aspek keamanan.

“Bagi kelompok lanjut usia atau individu yang memiliki keterbatasan gerak, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Konsultasi dengan tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dapat membantu menentukan jenis latihan yang tepat agar manfaatnya optimal dan risiko cedera dapat diminimalkan,” tegas dr. Widiya.

Melalui edukasi ini, RS M. Djamil berharap masyarakat semakin memahami bahwa kesehatan otot merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Kesadaran untuk mengenali tanda-tanda sarkopenia, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan tetap aktif bergerak menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas hidup, terutama ketika memasuki usia lanjut.

Upaya pencegahan sarkopenia bukan semata-mata tentang mempertahankan kekuatan fisik, melainkan juga tentang menjaga kesempatan untuk tetap mandiri, produktif, dan menikmati kehidupan tanpa terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Dengan perhatian yang tepat terhadap kesehatan otot sejak dini, proses penuaan diharapkan dapat dijalani dengan kondisi fisik yang lebih baik. “Mari berinvestasi pada otot Anda hari ini, demi kemandirian dan kebebasan Anda di hari esok,” pesan dr. Widiya. ***