Kemenkes Dorong Pengembangan Ekosistem Wellness Indonesia yang Aman Terstandar dan Berbasis Bukti
Jakarta - Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan mendorong pengembangan ekosistem wellness Indonesia yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan, pariwisata, industri, dan teknologi. Upaya ini menjadi bagian dari transformasi paradigma kesehatan, dari yang berfokus pada pengobatan ketika sakit menuju pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS dalam kegiatan Indonesia Wellness Forum – Technogym Innovation Outlook 2026, yang diselenggarakan di Jakarta pada Senin, 12 Oktober 2026. Forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pemerintah, sektor kesehatan, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media dalam membangun ekosistem wellness Indonesia.
Mengusung tema “The Wellness Economy in Indonesia: Building the World’s First Tropical Wellness Valley”, forum ini menegaskan pentingnya perubahan cara pandang terhadap kesehatan. Wellness tidak lagi sekadar menjadi tren gaya hidup, tetapi merupakan pendekatan untuk membantu masyarakat tetap sehat, aktif, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Tantangan kesehatan ke depan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mengobati penyakit, tetapi juga bagaimana mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit sedini mungkin. Karena itu, pendekatan pelayanan kesehatan perlu berkembang melalui tahapan sick care, prevention, wellness, hingga longevity.
Pendekatan tersebut menempatkan upaya kuratif sebagai bagian dari perjalanan kesehatan yang lebih luas. Pencegahan berfokus pada pengendalian faktor risiko, wellness bertujuan menjaga dan mengoptimalkan kondisi kesehatan serta kualitas hidup, sedangkan longevity menekankan upaya mempertahankan fungsi dan kesehatan lebih lama atau memperpanjang masa hidup sehat (healthspan), bukan semata-mata memperpanjang usia.
Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan model wellness dengan identitas sendiri. Kekayaan alam tropis, pangan dan rempah, budaya lokal, destinasi pariwisata, tradisi kesehatan, serta jaringan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi ekosistem wellness yang berdaya saing global.
Pengalaman Romagna menjadi salah satu pembelajaran bahwa wellness tidak hanya berkaitan dengan fasilitas atau layanan tertentu. Wellness merupakan ekosistem yang mengintegrasikan aktivitas fisik, alam, makanan, thermal spa, kegiatan luar ruang, interaksi sosial, dan keseimbangan hidup.
Dalam pengembangan ekosistem wellness, fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan memiliki peran penting untuk memastikan layanan diberikan sesuai kebutuhan individu, berbasis bukti, serta didukung tata kelola klinis (clinical governance) yang memadai.
Layanan wellness perlu diawali dengan asesmen kondisi kesehatan, identifikasi faktor risiko, pemberian rekomendasi yang dipersonalisasi, intervensi sesuai kebutuhan, serta pemantauan hasil. Dengan pendekatan tersebut, layanan tidak semata-mata mengikuti tren atau menawarkan paket yang sama bagi setiap orang, melainkan mempertimbangkan kondisi dan profil risiko masing-masing individu.
Integrasi wellness dengan pelayanan klinis juga menjadi hal penting. Apabila asesmen menemukan faktor risiko atau kondisi medis tertentu, harus tersedia mekanisme rujukan dan tindak lanjut klinis yang jelas. Sebaliknya, pasien yang telah menyelesaikan pengobatan atau rehabilitasi dapat diarahkan ke program wellness untuk mempertahankan kondisi kesehatan dan mencegah kekambuhan.
Dengan demikian, kesinambungan pelayanan dapat dibangun melalui pendekatan clinical care, prevention, wellness, hingga longevity.
Kementerian Kesehatan berperan memastikan pengembangan layanan wellness, estetika (aesthetic), dan longevity berjalan dengan prinsip aman, terstandar, berbasis bukti, dan terintegrasi. Pengembangan ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, dengan pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, fasilitas pelayanan kesehatan sebagai penyedia layanan yang bertanggung jawab secara klinis, serta dunia usaha dan industri sebagai penggerak inovasi.
Akademisi berperan memperkuat landasan ilmiah, sementara sektor pariwisata, hospitality, komunitas, dan media turut membangun pengalaman serta budaya hidup sehat di masyarakat.
Salah satu langkah yang didorong adalah pengembangan Wellness & Aesthetic Center di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Bali, sebagai model standardisasi yang dapat direplikasi secara bertahap di rumah sakit vertikal Kementerian Kesehatan.
Replikasi tersebut tidak hanya mencakup jenis tindakan, tetapi juga model pelayanan dan perjalanan pasien (patient journey), mulai dari screening atau asesmen, penyusunan rencana yang dipersonalisasi, intervensi wellness, dukungan klinis, hingga pemantauan hasil.
Selain itu, pengembangan wellness Indonesia perlu menghubungkan layanan kesehatan dengan sektor pariwisata dan hospitality, destinasi wisata, aktivitas fisik, makanan sehat, budaya lokal, serta teknologi. Sinergi ini diharapkan dapat membangun pengalaman wellness yang berkualitas sekaligus memperkuat potensi Indonesia sebagai destinasi wellness.
Indonesia Wellness Forum diharapkan menghasilkan kolaborasi konkret dalam membangun ekosistem wellness yang sehat, aman, berkualitas, berkelanjutan, dan memiliki daya saing global.
Dengan mengoptimalkan kekayaan alam dan budaya, memperkuat pelayanan kesehatan, serta mendorong inovasi dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi wellness terkemuka di dunia.
Pengembangan ekosistem ini sekaligus menjadi peluang untuk memperkuat pendekatan kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada upaya menjaga masyarakat tetap sehat dan meningkatkan kualitas hidup sepanjang hayat. ***