Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Selasa, 13 Oktober 2026 15:44 WIB

RS M Djamil Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Serviks

RS M Djamil Tekankan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Serviks
Humas - RSUP dr. Djamil Padang 60 kali dilihat

Padang - RS M. Djamil terus berkomitmen meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini penyakit melalui edukasi kesehatan. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, RS M. Djamil melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan mengadakan edukasi kesehatan di Poliklinik Kebidanan dan Kandungan dengan mengangkat tema skrining lesi prakanker serviks.

Edukasi ini menghadirkan narasumber dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), dr. Legina Aromatika, yang memaparkan pentingnya skrining untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker serviks. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pasien dan pengunjung poliklinik agar lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi serta tidak menunda pemeriksaan meskipun tidak merasakan keluhan.

Dalam pemaparannya, dr. Legina Aromatika menjelaskan lesi prakanker serviks merupakan kondisi ketika sel-sel pada leher rahim mengalami perubahan, tetapi belum menjadi kanker. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang dapat merasa sehat meskipun telah mengalami perubahan sel yang berisiko berkembang menjadi kanker.

“Lesi prakanker serviks sering kali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, salah satu cara untuk menemukannya adalah melalui skrining. Jangan menunggu muncul keluhan baru memeriksakan diri, karena ketika gejala mulai terasa, penyakit bisa saja sudah berada pada tahap lanjut,” jelasnya.

Ia menerangkan, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya lesi prakanker serviks, di antaranya melakukan hubungan seksual pada usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, kebiasaan merokok, sistem kekebalan tubuh yang lemah, serta riwayat sering melahirkan. “Penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka panjang, terutama lebih dari lima tahun, juga perlu menjadi perhatian dan dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing,” sebutnya.

Selain memahami faktor risiko, perempuan juga perlu mengenali tanda-tanda yang patut diwaspadai. Beberapa di antaranya adalah perdarahan setelah berhubungan seksual, keputihan yang berbau tidak sedap atau bercampur darah, nyeri pada panggul atau saat berhubungan seksual, serta perdarahan di luar siklus menstruasi maupun setelah menopause.

Menurut dr. Legina, keluhan tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami kanker serviks. Namun, gejala-gejala tersebut perlu segera diperiksakan kepada dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai. Pemeriksaan juga tidak seharusnya ditunda hanya karena seseorang belum memasuki jadwal skrining rutin.

“Prinsipnya, periksakan diri saat sehat, bukan hanya saat sakit. Skrining bertujuan menemukan perubahan sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala. Jadi, jangan menunggu keluhan datang. Jika sudah waktunya menjalani skrining atau memiliki keluhan yang mencurigakan, segera konsultasikan kepada dokter,” ujarnya.

Ia menjelaskan, skrining kanker serviks direkomendasikan bagi perempuan berusia 30 hingga 69 tahun yang pernah melakukan hubungan seksual. Anjuran ini juga berlaku bagi perempuan yang telah mendapatkan vaksin HPV maupun yang sudah mengalami menopause. Pemberian vaksin HPV tidak menghilangkan seluruh risiko kanker serviks sehingga pemeriksaan berkala tetap penting dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Sementara itu, perempuan dengan HIV perlu mendapatkan perhatian khusus karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi HPV persisten dan perubahan sel pada leher rahim. Skrining pada kelompok ini dapat dimulai lebih awal, yakni sejak usia 25 tahun, dengan interval pemeriksaan yang lebih sering sesuai pedoman dan kondisi klinis. “Bagi perempuan yang sedang hamil, waktu yang tepat untuk menjalani skrining perlu dikonsultasikan dengan dokter agar pemeriksaan dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi kehamilan,” tuturnya.

Dalam edukasi tersebut, dr. Legina juga memperkenalkan tiga metode pemeriksaan yang dapat digunakan untuk skrining kanker serviks, yaitu inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), pemeriksaan Pap smear, dan tes DNA HPV. Ketiga metode tersebut memiliki pendekatan pemeriksaan yang berbeda, tetapi bertujuan membantu menemukan risiko atau perubahan pada leher rahim sedini mungkin.

Pemeriksaan IVA dilakukan dengan mengamati perubahan pada leher rahim setelah pemberian larutan asam asetat. “Sementara itu, Pap smear bertujuan mendeteksi perubahan sel pada leher rahim, sedangkan tes DNA HPV digunakan untuk mengetahui keberadaan materi genetik HPV, khususnya tipe yang berisiko tinggi menyebabkan kanker serviks. Pemilihan metode skrining dapat disesuaikan dengan ketersediaan layanan, kondisi pasien, serta rekomendasi tenaga kesehatan,” papar dr. Legina.

Ia juga menekankan pentingnya memahami hasil pemeriksaan dengan benar. Hasil skrining positif tidak serta-merta berarti seseorang telah menderita kanker serviks. Hasil tersebut dapat menunjukkan adanya HPV risiko tinggi atau perubahan sel yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Jika hasil skrining positif, jangan langsung panik. Hasil tersebut bukan berarti pasti kanker. Ada kemungkinan ditemukan virus HPV risiko tinggi atau perubahan sel yang perlu diperiksa lebih lanjut. Karena itu, pasien harus mengikuti anjuran dokter, menjalani pemeriksaan lanjutan bila diperlukan, mendapatkan pengobatan untuk lesi prakanker sesuai indikasi, dan melakukan kontrol ulang,” terangnya.

Penanganan lesi prakanker yang ditemukan melalui skrining merupakan bagian penting dari upaya mencegah perkembangan penyakit menjadi kanker serviks. “Jenis penanganan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan, tingkat perubahan sel, serta kondisi pasien. Dengan deteksi dan penanganan yang tepat, risiko perkembangan lesi prakanker menjadi kanker dapat dikurangi,” ucapnya.

dr. Legina mengingatkan pencegahan kanker serviks juga perlu dimulai sejak dini melalui vaksinasi HPV. Vaksin ini merupakan salah satu langkah perlindungan penting bagi anak-anak, terutama sebelum mereka memasuki usia aktif secara seksual. Pemberian vaksin pada usia yang tepat dapat membantu melindungi dari tipe HPV penyebab sebagian besar kasus kanker serviks.

“Vaksin HPV merupakan salah satu bentuk perlindungan untuk anak-anak kita. Untuk anak usia sekolah, vaksinasi dapat diberikan melalui program imunisasi di sekolah sesuai ketentuan yang berlaku. Vaksin paling efektif diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Bagi perempuan dewasa yang belum mendapatkan vaksin, sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai manfaat dan jadwal vaksinasi yang sesuai,” ungkapnya.

Ia menambahkan, upaya pencegahan akan lebih optimal apabila dilakukan secara menyeluruh, mulai dari vaksinasi HPV, skrining secara berkala, hingga tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan yang membutuhkan penanganan. Kesadaran untuk menjaga kesehatan reproduksi harus dibangun sejak dini dan tidak hanya muncul ketika seseorang mulai merasakan gangguan kesehatan.

“Ayo lakukan skrining kanker serviks sesuai anjuran tenaga kesehatan. Deteksi dini, tindak lanjut yang tepat, dan pencegahan sejak awal merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan perempuan dan mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik,” ajaknya. ***