Kanker serviks (kanker leher rahim) dan kanker rahim merupakan dua jenis kanker yang berbeda, meskipun sama-sama menyerang organ reproduksi wanita. Keduanya memiliki penyebab, faktor risiko, gejala, serta penanganan yang berbeda sehingga penting untuk dipahami agar deteksi dan pengobatan dapat dilakukan secara tepat.
Kanker serviks atau karsinoma serviks merupakan kanker yang berkembang pada leher rahim (serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Secara global, kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker yang paling banyak diderita perempuan setelah kanker payudara. Penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sebagian besar kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi persisten Human Papillomavirus (HPV) berisiko tinggi, terutama yang mengekspresikan protein onkogen E6 dan E7. Selain infeksi HPV, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks, antara lain merokok, berganti-ganti pasangan seksual, penggunaan kontrasepsi hormonal dalam jangka panjang sesuai indikasi tertentu, serta paparan zat yang bersifat mutagen.
Upaya pencegahan dan penanganan kanker serviks dilakukan melalui vaksinasi HPV, deteksi dini menggunakan Pap smear dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), serta terapi sesuai stadium penyakit. Penanganan dapat berupa operasi, radioterapi menggunakan Linear Accelerator (LINAC), kemoterapi, maupun terapi target seperti anti-VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) yang berperan dalam menghambat pertumbuhan tumor dan penyebaran (metastasis) sel kanker.
Sementara itu, kanker rahim merupakan kanker yang terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal secara tidak terkendali pada jaringan rahim (uterus), yaitu organ reproduksi wanita tempat janin berkembang selama kehamilan. Kanker rahim paling sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause atau berusia di atas 50 tahun.
Jenis kanker rahim yang paling banyak ditemukan adalah kanker endometrium, yaitu kanker yang berkembang pada lapisan paling dalam rahim (endometrium). Penyakit ini terjadi ketika sel-sel endometrium mengalami perubahan atau mutasi sehingga tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk tumor ganas. Apabila tidak didiagnosis dan ditangani sejak dini, sel kanker dapat menyebar ke jaringan di sekitar rahim maupun ke organ tubuh lainnya.
Faktor Pencetus Kanker Rahim
Penyebab utama kanker rahim masih belum diketahui secara pasti namun diduga erat kaitannya dengan infeksi virus HPV. Selain itu kondisi ini berkaitan dengan perubahan atau mutasi gen pada sel-sel rahim yang menyebabkan sel tumbuh secara tidak normal dan membentuk tumor ganas.
Tanda dan Gejala Kanker Rahim
Gejala utama kanker rahim adalah perdarahan vagina yang tidak normal, terutama setelah menopause. Pada wanita yang masih mengalami menstruasi, perdarahan dapat berupa haid yang lebih banyak, lebih lama, atau terjadi di luar siklus menstruasi.
Selain itu, kanker rahim juga dapat menimbulkan gejala berikut :
1. Keluar cairan dari vagina yang encer, kecokelatan, atau berbau.
2. Nyeri panggul atau nyeri perut bagian bawah.
3. Nyeri saat berhubungan seksual.
4. Nyeri atau rasa tidak nyaman saat buang air kecil.
5. Kelelahan
6. Nafsu makan menurun.
7. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
Pada stadium lanjut, kanker rahim dapat menyebabkan nyeri punggung, pembengkakan tungkai, atau gangguan pada organ lain akibat penyebaran kanker.
Tatalaksana Kanker Rahim
Pengobatan kanker rahim disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, usia pasien, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta keinginan untuk memiliki keturunan. Beberapa metode pengobatan kanker rahim yang dapat dilakukan adalah dibawah ini, bisa dilakukan secara tunggal maupun beberapa tindakan yang dikombinasi :
1.Operasi
Operasi merupakan penanganan utama untuk sebagian besar kasus kanker rahim. Prosedur yang paling sering dilakukan adalah histerektomi, yaitu pengangkatan rahim. Pada banyak kasus, dokter juga dapat mengangkat ovarium, tuba falopi, dan kelenjar getah bening di sekitarnya.
2.Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar radiasi untuk membunuh sel kanker. Terapi ini dapat dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor atau setelah operasi untuk menurunkan risiko kanker kambuh.
3.Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Terapi ini umumnya diberikan pada kanker stadium lanjut, kanker yang sudah menyebar, atau kanker yang kambuh kembali.
4.Terapi target
Terapi target menggunakan obat yang bekerja secara spesifik pada molekul atau protein tertentu pada sel kanker. Metode ini dapat digunakan pada kanker rahim stadium lanjut atau yang sudah menyebar.
5.Imunoterapi
Imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker dengan lebih efektif. Terapi ini dapat dipertimbangkan pada jenis kanker rahim tertentu sesuai hasil pemeriksaan dokter.
Strategi Pencegahan Kanker Rahim
Pencegahan kanker rahim berfokus pada pengendalian faktor risiko, penerapan gaya hidup sehat, dan deteksi dini melalui pemeriksaan rutin. Dengan melakukan upaya-upaya tersebut secara konsisten, kemungkinan terkena kanker rahim bisa diminimalisir dan peluang deteksi serta penanganan lebih awal akan meningkat.
1. Menjaga berat badan ideal.
Kelebihan berat badan atau obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim. Oleh karena itu, menjaga berat badan tetap ideal dengan pola makan sehat dan olahraga teratur sangat dianjurkan untuk menurunkan risiko penyakit ini.
2. Menerapkan pola makan sehat.
Konsumsi makanan bergizi seimbang, seperti sayur, buah, biji-bijian, dan makanan tinggi serat, dapat membantu menjaga kesehatan rahim. Batasi makanan tinggi gula dan lemak agar berat badan tetap terkontrol.
3. Melakukan pemeriksaan kandungan secara berkala.
Pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) sangat dianjurkan, terutama pada individu yang memiliki faktor risiko kanker rahim, seperti riwayat keluarga atau gangguan hormonal. Evaluasi berkala melalui pemeriksaan panggul maupun ultrasonografi (USG) berperan penting dalam mendeteksi kelainan sejak stadium awal, sehingga tatalaksana dapat diberikan secara lebih cepat, tepat, dan optimal.
4. Berkonsultasi sebelum menggunakan pil KB atau terapi hormon.
Penggunaan kontrasepsi hormonal maupun terapi hormon pascamenopause dapat memengaruhi risiko terjadinya kanker rahim pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter sebelum memulai penggunaan kontrasepsi hormonal atau menjalani terapi hormon sangat dianjurkan untuk mempertimbangkan manfaat, potensi risiko, serta menentukan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing individu.
5. Berkonsultasi sebelum menggunakan tamoxifen.
Tamoxifen merupakan obat yang digunakan dalam terapi kanker payudara, namun pada sebagian pasien dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker rahim, terutama kanker endometrium. Oleh karena itu, penggunaan tamoxifen perlu disertai konsultasi dan pemantauan medis secara berkala. Evaluasi rutin oleh dokter bertujuan untuk menilai manfaat terapi, memantau kemungkinan efek samping, serta mendeteksi kelainan pada rahim sedini mungkin sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan secara tepat.
6. Mengelola kondisi kesehatan lain.
Beberapa kondisi, seperti diabetes atau sindrom ovarium polikistik (PCOS), dapat meningkatkan risiko kanker rahim. Menjaga kesehatan secara menyeluruh dan mengelola penyakit yang dimiliki bisa membantu menurunkan risiko kanker rahim.
7. Hindari paparan zat berbahaya.
Batasi paparan bahan kimia atau zat yang dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh, seperti dari pestisida atau bahan kimia tertentu, sesuai anjuran dokter.
8. Menjalani pola hidup sehat.
Tidak merokok, membatasi konsumsi minuman beralkohol, mengelola stres, istirahat cukup dengan tidur 7-8 jam sehari, dan menjaga kebersihan area kewanitaan juga dapat membantu menjaga kesehatan sistem reproduksi secara umum.
Referensi :
Adella Syah Putri, dkk. 2023. Analisis Dini Kanker Rahim dan Penanganannya untuk Meningkatkan Taraf Hidup Perempuan. Jurnal Kedokteran Universitas Taruma Negara Jakarta.
Asrina Nur Azmi, dkk, 2025. Update Terbaru Kanker Seviks di Indonesia. Jurnal Kesehatan dan Kebidanan Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Utara.
Halim, A. R., dan Khayati, N. 2020. Pengaruh Hypnotherapy Lima Jari terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Kanker Serviks.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kanker Serviks. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Alba, A M C and Rodriquez C C. 2019. The Human Papillomavirus (HPV) in Human Pathology Description, Pathogenesis, Oncogenic Role, Epidemiology and Detection Techniques. The Open Dermatology Journal. Volume 3 : 90-102.
Baker-Rand, H., & Kitson, S. J. 2024. Recent Advances in Endometrial Cancer Prevention, Early Diagnosis and Treatment. Cancers, 16(5), pp. 1028.
Ayenigbara I. O. 2023. Risk-Reducing Measures for Cancer Prevention. Korean Journal of Family Medicine, 44(2), pp. 76-86.