Kamis, 06 Agustus 2026 10:01 WIB

Glaukoma Jangan Tunggu Gejala Lindungi Penglihatan Sejak Dini

Responsive image
15
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan permanen. Penyakit ini ditandai dengan kerusakan saraf optik yang dapat disertai peningkatan Tekanan Intraokular (TIO) dan penurunan lapangan pandang. Saraf optik merupakan bagian penting dalam sistem penglihatan karena berfungsi membawa informasi visual dari mata menuju otak. Apabila saraf optik mengalami kerusakan akibat glaukoma, gangguan penglihatan dapat terjadi secara bertahap dan kerusakan yang sudah terjadi tidak dapat dipulihkan.

Salah satu faktor risiko utama yang dapat dikendalikan pada glaukoma adalah Tekanan Intraokular (TIO). Peningkatan TIO yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan tekanan pada saraf optik dan sel ganglion retina sehingga menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Namun, glaukoma juga dapat berkembang pada kondisi tertentu meskipun tekanan intraokular tidak selalu tinggi. Oleh karena itu, pemeriksaan mata tidak hanya dilakukan untuk mengukur tekanan bola mata, tetapi juga untuk menilai kondisi saraf optik dan lapangan pandang.

Glaukoma sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini menyebabkan banyak penderita baru mengetahui dirinya mengalami glaukoma ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu, glaukoma sering disebut sebagai "pencuri penglihatan". Deteksi dini dan pemeriksaan mata secara berkala sangat penting untuk menemukan glaukoma lebih awal dan mencegah kerusakan penglihatan semakin berat.

Berdasarkan perubahan anatomi sudut bilik mata, glaukoma secara umum dapat dibedakan menjadi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Berdasarkan penyebabnya, glaukoma juga dapat dibedakan menjadi glaukoma primer, yaitu glaukoma yang penyebab spesifiknya tidak diketahui, dan glaukoma sekunder yang terjadi akibat kondisi atau penyakit lain. Berdasarkan perkembangannya, glaukoma dapat bersifat akut maupun kronis.

Faktor Risiko Glaukoma

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glaukoma. Faktor risiko yang perlu diperhatikan antara lain :

  1. Usia, terutama pada kelompok usia di atas 40 tahun.
  2. Memiliki anggota keluarga atau riwayat keluarga dengan glaukoma.
  3. Memiliki tekanan intraokular yang tinggi.
  4. Memiliki kondisi atau penyakit tertentu yang dapat meningkatkan risiko glaukoma.
  5. Penggunaan obat kortikosteroid dalam kondisi tertentu.
  6. Memiliki kondisi mata tertentu atau pernah mengalami cedera pada mata.

Risiko glaukoma dapat berbeda pada setiap orang. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki faktor risiko perlu melakukan pemeriksaan mata secara berkala untuk mendeteksi kemungkinan adanya kerusakan saraf optik sejak dini.

Gejala dan Tanda Glaukoma

Glaukoma pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan gejala yang sangat ringan. Kondisi tersebut menyebabkan penderita sering kali tidak menyadari adanya gangguan pada matanya.

Seiring perkembangan penyakit, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain :

  1. Mata terasa pegal atau tidak nyaman.
  2. Penglihatan menjadi buram.
  3. Lapang pandang semakin menyempit.
  4. Nyeri pada mata.
  5. Mata tampak merah.
  6. Melihat seperti ada pelangi atau lingkaran cahaya di sekitar sumber cahaya.

Pada kondisi glaukoma akut, peningkatan tekanan bola mata dapat terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan keluhan yang lebih berat, seperti :

  1. Nyeri mata yang hebat.
  2. Sakit kepala atau pusing.
  3. Penglihatan menjadi buram.
  4. Mata merah
  5. Melihat seperti ada pelangi di sekitar cahaya.
  6. Mual
  7. Muntah

Keluhan tersebut membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis segera. Apabila mengalami gejala berat secara tiba-tiba, segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan oleh dokter.

Pemeriksaan dan Deteksi Dini Glaukoma

Diagnosis glaukoma dilakukan melalui pemeriksaan riwayat kesehatan, pemeriksaan mata, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi glaukoma antara lain :

1. Pemeriksaan Ketajaman Penglihatan

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan mata dalam melihat objek pada jarak tertentu. Pemeriksaan ketajaman penglihatan merupakan salah satu bagian dari pemeriksaan mata, tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya pemeriksaan untuk menentukan adanya glaukoma.

2. Pengukuran Tekanan Intraokular

Pemeriksaan tekanan intraokular dilakukan menggunakan alat yang disebut tonometri. Pemeriksaan ini penting karena tekanan intraokular merupakan salah satu faktor risiko utama glaukoma yang dapat dimodifikasi.

3. Pemeriksaan Saraf Optik

Dokter akan mengevaluasi kondisi saraf optik untuk melihat apakah terdapat perubahan yang mengarah pada kerusakan akibat glaukoma.

4. Pemeriksaan Lapangan Pandang

Pemeriksaan lapangan pandang atau perimetri dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat bagian lapangan penglihatan yang mengalami gangguan akibat kerusakan saraf optik.

5. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata

Pemeriksaan gonioskopi dapat dilakukan untuk menilai kondisi sudut bilik mata bagian depan dan membantu menentukan jenis glaukoma yang dialami.

Risiko Gangguan Penglihatan akibat Glaukoma

Glaukoma yang tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan saraf optik yang semakin berat. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan :

  1. Penurunan lapangan pandang.
  2. Gangguan penglihatan yang semakin berat.
  3. Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
  4. Penurunan kualitas hidup.
  5. Kebutaan permanen

Kerusakan penglihatan yang telah terjadi akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan seperti semula. Oleh karena itu, tujuan utama pengobatan adalah mencegah atau memperlambat kerusakan lebih lanjut.

Bagaimana Cara Mencegah Kebutaan Akibat Glaukoma?

Tidak semua kasus glaukoma dapat dicegah, tetapi risiko kebutaan akibat glaukoma dapat dikurangi dengan deteksi dan penanganan sedini mungkin.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Melakukan pemeriksaan mata secara berkala.
  2. Melakukan skrining terutama jika berusia lebih dari 40 tahun.
  3. Melakukan pemeriksaan lebih rutin apabila memiliki faktor risiko.
  4. Mengenali riwayat glaukoma dalam keluarga.
  5. Segera memeriksakan mata apabila mengalami gangguan penglihatan.
  6. Menggunakan obat anti-glaukoma secara rutin apabila telah didiagnosis.
  7. Tidak menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter.
  8. Melakukan kontrol sesuai jadwal yang telah ditentukan.

 

Referensi:

Zahra, A. 2024. Diagnosis dan Tatalaksana Terkini Glaukoma. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan, 3(2), 107-120. Diagnosis, Manifestasi Klinis, Pemeriksaan, serta Tatalaksana Glaukoma.

Yunard, A. 2024. Faktor Risiko Glaukoma. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Membahas Faktor Risiko, Gejala, Deteksi Dini, Skrining, dan Pentingnya Pemeriksaan Glaukoma.