Kamis, 06 Agustus 2026 10:09 WIB

Mencegah Gagal Ginjal Dimulai dari Kebiasaan Sehari hari

Responsive image
12
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani prosedur hemodialisa atau cuci darah sepanjang tahun 2024. Hal itu membuat biaya pengobatan penyakit ginjal kronis mencapai Rp 11 triliun akibat meningkatnya jumlah pasien yang memerlukan perawatan. Sementara itu Perhimpunan Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi Indonesia (PERNEFRI) melaporkan bahwa setiap tahun terdapat 200.000 kasus baru penyakit ginjal stadium akhir. Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) akan mengalami kualitas hidup yang sangat rendah akibat kurangnya kemauan untuk melakukan terapi hemodialisis dan pasrah dengan sakit yang diderita. Pasien harus menjalani terapi hemodialisis di rumah sakit dalam jangka waktu yang tepat guna meningkatkan kualitas hidupnya. Kualitas hidup pasien GGK akan menurun apabila adanya gangguan psikologis pada pasien. Namun ada beberapa faktor lain yang memperngaruhi kualitas hidup pasien GGK yaitu usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, pekerjaan dan dukungan keluarga. Konsep karakteristik merupakan sesuatu yang menggambarkan seseorang, tempat, atau kepribadian seseorang, atau sesuatu yang membuat mereka unik atau berbeda. Pasien gagal ginjal di atas usia 55 tahun cenderung mengalami komplikasi yang dapat mengganggu fungsi ginjal secara signifikan dibandingkan pasien di bawah usia 40 tahun. Gagal ginjal dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan yang serius, seperti anemia, retensi cairan, hingga penyakit jantung. Kondisi ini biasanya ditandai dengan munculnya gejala berkurangnya produksi urine. Untuk mencegah hal tersebut, kita bisa melakukan tes pemantauan fungsi ginjal sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai penyakit ginjal yang dapat mengganggu kesehatan.

Bagaimana Penanganan Gagal Ginjal?

Umumnya pengidap gagal ginjal akut menjalani perawatan di rumah sakit. Pengobatan gagal ginjal bertujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit dan mengelola gejala. Beberapa opsi penanganan meliputi :

1.      Perubahan gaya hidup : mengadopsi pola makan sehat, membatasi asupan garam dan protein, serta berhenti merokok.

2.      Obat-obatan : mengontrol tekanan darah, kadar gula darah, dan mengatasi infeksi.

3.      Dialisis : proses penyaringan darah menggunakan mesin di luar tubuh. Ada 2 (dua) jenis dialisis, yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal.

4.      Transplantasi ginjal : penggantian ginjal yang rusak dengan ginjal sehat dari donor.

5.      Namun, jika gejalanya sudah membaik, mereka diperbolehkan untuk melakukan rawat jalan dengan beberapa ketentuan berikut ini:

6.      Tetap dianjurkan agar pasien berkonsultasi dengan dokter ahli urologi dan ahli ginjal.

7.      Mengobati infeksi yang menjadi penyebab gagal ginjal akut.

8.      Memperbanyak konsumsi air mineral untuk menghindari dehidrasi.

9.      Melakukan tes darah untuk memonitor tingkat kreatinin dan garam.

10.   Menghentikan pengobatan apa pun yang berisiko menyebabkan gagal ginjal akut.

Pasien gagal ginjal sebaiknya menjalani perawatan di rumah sakit apabila :

1.      Adanya risiko penyumbatan urine.

2.      Penyakit yang menyebabkan gagal ginjal akut membutuhkan pengobatan segera.

3.      Kondisi pasien semakin parah.

4.      Pasien mengalami komplikasi akibat gagal ginjal akut.

Apa yang Terjadi Jika Gagal Ginjal Tidak Ditangani?

Gagal ginjal dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius apabila tidak ditangani, antara lain seperti :

1.      Anemia

Ketika ginjal tidak bekerja secara tidak optimal, tubuh berisiko tidak dapat membuat sel darah merah dengan baik. Akibatnya, pengidap gagal ginjal rentan untuk mengalami anemia.

2.      Kelemahan Tulang

Adanya kerusakan pada ginjal  dapat mengganggu keseimbangan mineral seperti fosfor dan kalsium dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut dapat menyebabkan tulang melemah.

3.      Retensi Cairan

Jika ginjal tidak dapat menyaring air secara memadai dari darah, pengidap gagal ginjal berisiko mengalami retensi cairan, terutama di tubuh bagian bawah.

4.      Penyakit Jantung

Gagal ginjal dan penyakit jantung memiliki hubungan dua arah, penyakit jantung dapat memperburuk fungsi ginjal, dan sebaliknya, gagal ginjal yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

5.      Hiperkalemia

Gagal ginjal dapat menyebabkan hiperkalemia, atau peningkatan kadar kalium. Dalam kasus yang parah, hiperkalemia berat dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang berisiko fatal, termasuk henti jantung.

6.      Asidosis Metabolik

Fungsi ginjal yang terganggu dapat menyebabkan asidosis metabolik, di mana cairan tubuh pengidap gagal ginjal mengandung terlalu banyak asam. Asidosis metabolik dapat menyebabkan komplikasi seperti batu ginjal atau penyakit tulang.

7.      Komplikasi Sekunder

Banyak orang dengan gagal ginjal mengalami beberapa komplikasi sekunder. Misalnya seperti depresi, gagal hati, penumpukan cairan di paru-paru, kerusakan saraf, hingga infeksi kulit.

Langkah Pencegahan Gagal Ginjal

Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah gagal ginjal :

1.      Ikuti instruksi pada label ketika mengonsumsi obat bebas. Contohnya : ibuprofen dan aspirin.

2.      Jika diresepkan obat oleh dokter, pastikan untuk mengonsumsi obat sesuai dengan petunjuk. Jangan mengurangi atau melebihi dosis yang diresepkan.

3.      Berkonsultasilah dengan dokter untuk menangani gangguan ginjal. Ikuti rekomendasi dokter untuk menjaga tubuh dari serangan penyakit yang bisa memicu gagal ginjal.

4.      Menjaga dan mengelola kondisi kesehatan saat ini. Contohnya seperti pengidap diabetes yang perlu menjaga kadar gula darahnya tetap stabil.

5.      Menjalani gaya hidup sehat. Melakukan olahraga secara rutin, menjaga pola makanan yang sehat, dan menghindari minuman beralkohol akan membantu menurunkan risiko mengalami gagal ginjal.

 

Referensi :

Cut Husna, dkk. 2020. Gagal Ginjal Kronis dan Penanganannya : Literatur Review.  Jurnal Kesehatan dan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Suprianus Abdu, dkk. 2024. Analisis Faktor Determinan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisis. Jurnal Keperawatan, Stikes Stellamaris Makasar.

Pongsibidang, G. S. 2016. Risiko Hipertensi, Diabetes dan Konsumsi Minuman Herbal pada Kejadian Gagal Ginjal Kronik di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Jurnal Wiyata, 3(2), 162-167.

Rahayu, P. P., & Listiyanawati, M. D. 2020. Asuhan Keperawatan Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) dalam Pemenuhan Kebutuhan Oksigenasi. Jurnal Keperawatan Surakarta, 9(2), 11-25. https://doi.org/10.31539/jks.v1i2.8.