Kamis, 06 Agustus 2026 10:11 WIB

Tuberkulosis TB Mengenal Infeksi yang Dapat Menyerang Berbagai Organ Tubuh

Responsive image
16
Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai berbagai organ tubuh lainnya. Penularan TB terjadi melalui udara ketika seseorang menghirup percikan dahak (droplet) yang dikeluarkan oleh penderita TB paru saat batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi.

Setelah masuk ke saluran pernapasan, bakteri dapat berkembang biak di paru-paru. Pada kondisi tertentu, bakteri juga dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah, sistem limfatik, atau penyebaran langsung ke jaringan di sekitarnya. Gejala yang muncul sangat bervariasi, mulai dari tanpa keluhan hingga menimbulkan gangguan kesehatan yang berat, tergantung pada lokasi infeksi dan daya tahan tubuh penderita.

Berdasarkan lokasi infeksinya, tuberkulosis dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu TB paru dan TB ekstra paru.

TB paru merupakan bentuk tuberkulosis yang paling sering ditemukan sekaligus menjadi sumber utama penularan. Penyakit ini menyerang jaringan paru-paru dan umumnya ditandai dengan batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu, batuk berdahak atau disertai darah, nyeri dada, sesak napas, demam yang berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta keringat berlebih pada malam hari. Karena bakteri dikeluarkan melalui percikan dahak saat batuk atau bersin, penderita TB paru yang belum mendapatkan pengobatan berisiko menularkan penyakit kepada orang lain.

Sementara itu, TB ekstra paru terjadi ketika infeksi menyebar ke organ selain paru-paru, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, selaput otak (meningitis tuberkulosis), tulang belakang (Pott's disease), maupun organ lainnya. Gejala yang timbul bergantung pada organ yang terinfeksi. Sebagai contoh, TB tulang dapat menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tulang atau sendi, sedangkan TB kelenjar getah bening sering ditandai dengan munculnya benjolan yang umumnya tidak nyeri. Dibandingkan TB paru, TB ekstra paru umumnya memiliki risiko penularan yang lebih rendah karena bakteri tidak mudah menyebar melalui udara. Namun, diagnosis TB ekstra paru sering kali lebih sulit ditegakkan karena gejalanya menyerupai berbagai penyakit lain.

Selain berdasarkan lokasi infeksi, tuberkulosis juga dikelompokkan berdasarkan aktivitas bakterinya, yaitu TB aktif dan TB laten. Pada TB aktif, bakteri berkembang biak dan menimbulkan gejala sehingga penderita dapat menularkan penyakit kepada orang lain, terutama jika infeksi terjadi di paru-paru. Sebaliknya, pada TB laten, bakteri berada di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif sehingga penderita tidak mengalami gejala dan tidak menularkan penyakit. Meskipun demikian, bakteri dapat kembali aktif apabila daya tahan tubuh menurun, sehingga diperlukan pemantauan dan penanganan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Ketahui Gejala TB Aktif dan TB Laten

Berikut adalah beberap gejala yang dapat dialami oleh penderitanya :

1.      Berat badan yang semakin menurun drastis

2.      Tidak nafsu makan

3.      Demam tinggi

4.      Menggigil

5.      Mudah lelah

6.      Berkeringat banyak di malam hari

Pada TB laten, bakteri Mycobacterium tuberculosis berada di dalam tubuh, tetapi dalam kondisi tidak aktif sehingga belum menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, individu dengan TB laten umumnya tidak mengalami keluhan atau hanya memiliki gejala yang sangat minimal. Selain itu, kondisi ini tidak menjadi sumber penularan kepada orang lain. Meskipun demikian, bakteri dapat kembali aktif apabila daya tahan tubuh menurun, sehingga diperlukan pemantauan dan penanganan sesuai anjuran dokter.

Jenis-jenis TB dan Gejalanya

Berikut adalah jenis-jenis TB berdasarkan jenis-jenis organ yang terinfeksi.

1. TB Paru

TB paru merupakan bentuk tuberkulosis yang paling sering dijumpai. Pada kondisi ini, bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi jaringan paru-paru dan menjadi penyebab utama penularan tuberkulosis di masyarakat.

Penularan TB paru terjadi melalui percikan dahak (droplet) yang keluar saat penderita batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Seseorang dapat terinfeksi apabila menghirup udara yang mengandung bakteri tersebut, terutama setelah melakukan kontak erat dengan penderita TB paru yang belum mendapatkan pengobatan.

Gejala TB paru dapat berkembang secara bertahap, antara lain :

a.      Batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu.

b.      Batuk berdahak, yang pada beberapa kasus dapat disertai darah.

c.      Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada.

d.      Sesak napas atau napas terasa lebih pendek.

e.      Demam yang berlangsung lama, terutama pada sore atau malam hari.

f.       Berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat.

g.      Nafsu makan menurun disertai penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

h.      Tubuh mudah lelah dan terasa lemas.

2. TB Limfadenitis

TB limfadenitis merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru, yaitu tuberkulosis yang menyerang kelenjar getah bening. Kondisi ini paling sering terjadi pada kelenjar getah bening di leher, meskipun dapat pula mengenai kelenjar getah bening di bagian tubuh lainnya. Infeksi terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar dari lokasi awal infeksi menuju sistem limfatik.

Beberapa gejala yang dapat muncul pada TB limfadenitis meliputi :

a.      Benjolan pada kelenjar getah bening, terutama di area leher, yang umumnya tidak terasa nyeri pada tahap awal.

b.      Demam yang berlangsung dalam waktu lama.

c.      Tubuh mudah lelah dan terasa lemas.

d.      Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

e.      Keringat berlebih pada malam hari.

3. TB Milier

TB milier (miliary tuberculosis) merupakan bentuk tuberkulosis yang terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ tubuh. Penyebaran ini dapat mengenai paru-paru, hati, sumsum tulang, otak, tulang belakang, jantung, maupun organ lainnya sehingga menyebabkan infeksi yang bersifat menyeluruh.

Manifestasi klinis TB milier sangat bervariasi karena bergantung pada organ yang terdampak. Penderita dapat mengalami demam berkepanjangan, penurunan berat badan, mudah lelah, keringat malam, serta keluhan khusus sesuai dengan organ yang terinfeksi. Oleh karena gejalanya sering menyerupai berbagai penyakit lain, TB milier memerlukan pemeriksaan medis yang menyeluruh agar diagnosis dapat ditegakkan secara tepat.

4. TBC Urogenital

TB urogenital merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang menyerang sistem saluran kemih dan organ reproduksi. Setelah TB limfadenitis, kondisi ini termasuk salah satu jenis TB ekstra paru yang cukup sering ditemukan. Infeksi umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dari paru-paru melalui aliran darah, kemudian menginfeksi ginjal, ureter, kandung kemih, maupun organ reproduksi.

Gejala TB urogenital dapat berbeda pada setiap penderita, bergantung pada organ yang terinfeksi. Beberapa keluhan yang sering dijumpai meliputi :

a.      Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil.

b.      Frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering atau aliran urine berkurang.

c.      Nyeri pada daerah panggul atau pinggang.

d.      Nyeri pada punggung bagian bawah akibat keterlibatan ginjal.

e.      Pembengkakan pada testis atau skrotum pada laki-laki.

f.       Penurunan volume semen atau gangguan pada sistem reproduksi.

g.      Gangguan kesuburan (infertilitas) apabila infeksi telah memengaruhi organ reproduksi.

5. TB Tulang

TB tulang (skeletal tuberculosis) merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar dari lokasi infeksi awal, umumnya paru-paru, menuju jaringan tulang melalui aliran darah atau sistem limfatik. Infeksi dapat mengenai berbagai tulang, tetapi paling sering ditemukan pada tulang belakang, panggul, serta sendi-sendi besar seperti pinggul dan lutut.

Meskipun kasusnya lebih jarang dibandingkan TB paru, TB tulang lebih sering dijumpai pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah, termasuk orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Penurunan sistem kekebalan tubuh meningkatkan risiko penyebaran bakteri ke jaringan tulang dan organ lainnya.

Gejala TB tulang dapat berkembang secara perlahan, antara lain :

a.      Nyeri pada tulang atau sendi yang berlangsung lama.

b.      Pembengkakan di sekitar area tulang atau sendi yang terinfeksi.

c.      Kekakuan pada sendi sehingga mengganggu pergerakan.

d.      Perubahan bentuk tulang atau postur tubuh, terutama apabila infeksi mengenai tulang belakang.

e.      Terbentuknya abses (kumpulan nanah) pada jaringan di sekitar tulang yang terinfeksi.

6. TB Liver

TB hati atau TB hepar merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang tergolong jarang ditemukan. Kasusnya hanya mencakup sebagian kecil dari seluruh kejadian tuberkulosis. Infeksi ini umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dari organ lain, terutama paru-paru, melalui aliran darah, sistem limfatik, atau vena porta menuju jaringan hati.

Gejala TB hati sering kali tidak spesifik sehingga dapat menyerupai penyakit hati lainnya. Beberapa tanda dan gejala yang dapat muncul antara lain :

a.      Demam yang berlangsung berkepanjangan.

b.      Pembesaran hati (hepatomegali).

c.      Kulit dan bagian putih mata tampak menguning (ikterus).

d.      Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut kanan atas.

e.      Penurunan nafsu makan yang dapat disertai penurunan berat badan.

f.       Tubuh mudah lelah dan terasa lemas.

7. TB Saluran Pencernaan

TB saluran pencernaan atau tuberkulosis gastrointestinal merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang menyerang organ-organ pada sistem pencernaan, mulai dari rongga mulut hingga anus. Infeksi ini umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dari organ lain atau karena bakteri masuk ke saluran cerna melalui mekanisme tertentu.

Gejala TB saluran pencernaan dapat bervariasi, bergantung pada lokasi infeksi dan tingkat keparahan penyakit. Beberapa keluhan yang sering dijumpai meliputi :

a.      Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut.

b.      Diare yang berlangsung terus-menerus atau berulang.

c.      Penurunan nafsu makan.

d.      Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

e.      Mual dan muntah.

f.       Perut terasa penuh, kembung, atau tidak nyaman.

8. TB Meningitis

TB meningitis merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang (meninges). Kondisi ini termasuk komplikasi tuberkulosis yang serius karena dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf apabila tidak segera ditangani.

Gejala TB meningitis umumnya berkembang secara bertahap dan dapat meliputi :

a.      Demam yang berlangsung beberapa hari atau lebih.

b.      Sakit kepala yang menetap dan semakin memberat.

c.      Mual dan muntah.

d.      Penurunan nafsu makan.

e.      Tubuh terasa lemah, mudah lelah, dan tidak bertenaga.

f.       Nyeri pada otot atau seluruh tubuh.

g.      Leher terasa kaku sehingga sulit digerakkan.

h.      Sensitif terhadap cahaya (fotofobia).

i.       Pada kondisi yang lebih berat dapat disertai penurunan kesadaran, kejang, atau perubahan perilaku.

9. TB Peritonitis

TB peritonitis merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang terjadi akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada peritoneum, yaitu selaput yang melapisi dinding bagian dalam rongga perut dan menutupi organ-organ di dalamnya. Kondisi ini umumnya terjadi karena penyebaran infeksi tuberkulosis dari organ lain, seperti paru-paru atau saluran pencernaan, menuju rongga perut.

Gejala TB peritonitis sering berkembang secara bertahap dan dapat menyerupai penyakit lain pada saluran pencernaan. Beberapa tanda dan gejala yang umum dijumpai meliputi :

a.      Penumpukan cairan di dalam rongga perut (asites) yang menyebabkan perut tampak membesar.

b.      Mual dan muntah.

c.      Penurunan nafsu makan.

d.      Demam yang berlangsung berkepanjangan.

e.      Nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut.

f.       Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.

10. TB Kulit

TB kulit (cutaneous tuberculosis) merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang tergolong jarang ditemukan. Kondisi ini terjadi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi jaringan kulit, baik akibat penyebaran dari organ lain maupun melalui infeksi langsung pada kulit dalam kondisi tertentu.

Manifestasi TB kulit dapat berbeda pada setiap penderita, bergantung pada jenis dan lokasi infeksinya. Beberapa tanda dan gejala yang dapat muncul antara lain :

a.      Luka atau borok pada kulit yang sulit sembuh.

b.      Benjolan atau nodul pada kulit yang dapat berkembang menjadi luka terbuka.

c.      Pembengkakan atau kemerahan di area kulit yang terinfeksi.

d.      Lesi kulit yang sering ditemukan pada lengan, tangan, bokong, tungkai, atau bagian tubuh lainnya.

e.      Pada beberapa kasus, luka dapat mengeluarkan cairan atau nanah dan berlangsung dalam waktu yang lama.

 

Referensi :

Seri Wahyuni, dkk. 2024. Tuberkulosis dan Faktor Risiko. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan Sumatra Utara.

Firmansyah Muhammad Fatih, dkk. 2025. Tuberkulosis Paru : Tinjauan Komprehensif dari Patogenesis hingga Tatalaksana Terkini. Jurnal Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Arie Atiuthama, dkk. Upaya Pencegahan Tuberkulosis Paru dengan Penerapan Etika Batuk dan Latihan Pernafasan. Jurnal Kesehatan, Poltekes Kemenkes Palembang.

Aulia Rasyid. 2023. Klasifikasi Penyakit Tuberculosis (TB) Organ Paru Manusia Berdasarkan Citra Rontgen Thorax Menggunakan Metode Convolutional Neural Network (CNN). Jurnal Informasi Kesehatan, Fakultas MIPA Universitas Gajahmada Yogyakarta.

Alfiyani, L., Rahardjo, S. S. 2017. Biopsychosocial Determinants of Multi Drug Resistant Tuberculosis in Surakarta. Journal of Epidemiology and Public Health.