Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Infeksi virus ini mampu menurunkan kemampuan imunitas manusia dalam melawan benda-benda asing di dalam tubuh yang pada tahap terminal infeksinya dapat menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit.
Data World Health Organization (WHO) 2025 menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 1,3 juta infeksi baru HIV secara global, dengan total hampir 39,9 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Kelompok usia remaja dan dewasa muda menjadi populasi yang sangat rentan, laporan UNICEF menyebutkan pada tahun 2025 sekitar 370.000 remaja dan dewasa muda usia 15-24 tahun terinfeksi HIV. Di Indonesia HIV/AIDS masih menjadi isu kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Menurut Kementerian Kesehatan terdapat 570.000 orang hidup dengan HIV pada tahun 2023. Prevalensi HIV usia 15-49 tahun sebanyak 0,3%. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI per Juni 2022 sebanyak 519.158 orang menderita HIV/AIDS, selanjutnya diketahui bahwa jumlah ODHIV yang ditemukan periode Januari-Maret 2022 sebanyak 10.525 orang dari 941.973 orang yang dites HIV. Persentase tertinggi ditemukan di Indonesia terdapat pada kelompok umur 25-49 tahun (67,9%), diikuti oleh kelompok umur 20-24 tahun (17,7%), dan kelompok umur 15-19 tahun (3,3%). Kelompok usia 15-19 tahun yang dikategorikan sebagai remaja menjadi kelompok paling rentan terinfeksi HIV.
Apakah Penyebab HIV?
Salah satu faktor utama yang menyebabkan penularan HIV, termasuk pada kelompok remaja. Salah satu perilaku yang memiliki risiko tinggi adalah hubungan seksual sesama jenis pada laki-laki atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), yang memiliki risiko penularan lebih besar terutama melalui hubungan seksual anal tanpa pengaman. Selain itu, tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual, baik secara vaginal, anal, maupun oral dengan pasangan yang terinfeksi HIV, juga meningkatkan risiko penularan virus. Risiko tersebut akan semakin tinggi apabila seseorang sering berganti-ganti pasangan seksual karena peluang untuk terpapar HIV menjadi lebih besar. Penggunaan jarum suntik secara bergantian, terutama pada penyalahgunaan narkotika suntik, juga menjadi salah satu penyebab penting penularan HIV. Penularan juga dapat terjadi dari ibu yang hidup dengan HIV kepada bayinya selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan terapi anti-retroviral.
Tanda dan Keluhan
Gejala HIV berbeda-beda pada setiap individu, bergantung pada tahap infeksi. Pada fase awal (infeksi akut), gejala biasanya muncul 2-4 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh. Penderita dapat mengalami demam, sakit tenggorokan, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta mudah lelah. Gejala-gejala tersebut sering kali menyerupai influenza sehingga banyak penderita tidak menyadari telah terinfeksi HIV. Setelah fase akut, penderita dapat memasuki fase laten, yaitu kondisi ketika gejala tidak tampak meskipun virus tetap berkembang biak dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Apabila tidak mendapatkan terapi anti-retroviral (ARV), infeksi HIV akan berkembang ke stadium lanjut yang ditandai dengan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam berkepanjangan, diare kronis, batuk yang berlangsung lama, keringat malam, sariawan berulang, pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap, serta munculnya infeksi oportunistik seperti tuberkulosis, pneumonia, dan infeksi jamur akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Upaya Mengendalikan Infeksi HIV
Hingga saat ini, HIV belum dapat disembuhkan secara total. Namun, infeksi HIV dapat dikendalikan melalui terapi Anti-Retroviral (ARV). Terapi ARV berfungsi menekan jumlah virus (viral load) di dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tetap terjaga, memperlambat perkembangan penyakit menjadi AIDS, serta mengurangi risiko penularan HIV kepada orang lain. Pengobatan ARV harus dimulai sedini mungkin setelah diagnosis ditegakkan dan dikonsumsi secara rutin sesuai anjuran tenaga kesehatan agar hasil terapi optimal. Selain terapi ARV, penanganan HIV juga meliputi pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk memantau kondisi penderita, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, serta penerapan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, beristirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi alkohol maupun penyalahgunaan narkoba. Edukasi mengenai perilaku seksual yang aman, penggunaan kondom, serta dukungan psikologis dari keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat juga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan serta kualitas hidup orang dengan HIV.
Referensi :
Aryani, A., Widiyono, & Anitasari, A. 2021. Gambaran Pengetahuan Remaja tentang Penyakit HIV/AIDS. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia, 14(2). https://doi.org/10.47942/jiki.v14i2.794
Kemenkes RI. 2023. Laporan Ekssekutif Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Triwulan I Tahun 2023. https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fhivaidspimsindonesia.or.id%2Fdownload%2Ffile%2FLaporanTW_I_2023.pdf&psig=AOvVaw1bYpkOGCE4ii5GhlOKZNWZ&ust=1728847841583000&source=images&cd=vfe&opi=89978449&ved=0CAcQr5oMahcKEwiIy5-eyomJAxUAAAAAHQAAAAAQBA
Kumalasary, D., & Yulianti, R. 2026. Literatur Review : Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja terhadap Perilaku Pencegahan HIV/AIDS. Sinar : Jurnal Kebidanan, 8(1), 1-14.
Manumara, T. M. 2026. Studi Eksplorasi Alasan Terbentuknya Perilaku Lelaki Seks Lelaki Sebagai Kelompok Risiko Tinggi HIV/AIDS pada LSL di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bandung. Khatulistiwa Nursing Journal, 8(1), 175-189.
Siregar, P. A., Lubis, Z., & Nasution, A. N. 2022. Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Minum Obat Antiretroviral (ARV) pada Orang dengan HIV/AIDS : a Systematic Review. Jurnal Kesehatan Komunitas, 8(1), 138-147.
World Health Organization. 2025. Information Sheet HIV Statistics, Globally and By WHO Region , 2025 (pp. 1-8).