Bersama untuk Pelayanan
Kesehatan yang Lebih Baik

MEMUAT...

Mohon tunggu, halaman sedang dimuat.
Senin, 05 Oktober 2026 11:11 WIB

Ginjal Bekerja dalam Diam Kenali Risiko dan Cegah Gagal Ginjal Sebelum Terlambat

Promosi Kesehatan Tim Kerja TU RT Hukum dan Humas RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Ginjal Bekerja dalam Diam Kenali Risiko dan Cegah Gagal Ginjal Sebelum Terlambat
11 kali dilihat

Ginjal merupakan organ penting yang bekerja setiap hari untuk menjaga keseimbangan tubuh. Sepasang organ berbentuk menyerupai kacang ini terletak di bagian belakang rongga perut dan memiliki berbagai fungsi penting, salah satunya menyaring darah serta membuang zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan melalui urine.

Ketika fungsi ginjal mengalami penurunan, zat sisa dan cairan dapat menumpuk di dalam tubuh. Jika kerusakan berlangsung dalam waktu lama dan fungsi ginjal terus menurun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi Penyakit Ginjal Kronis (PGK) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai gagal ginjal kronis.

PGK merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kerusakan fungsi ginjal tanpa menyadarinya.

Gagal Ginjal Akut dan Kronis, Apa Bedanya?

Gangguan fungsi ginjal dapat terjadi secara akut maupun kronis.

Gagal ginjal akut atau Acute Kidney Injury (AKI) merupakan penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba, dalam waktu singkat, yaitu jam hingga beberapa hari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kekurangan cairan yang berat, infeksi berat, gangguan aliran darah ke ginjal, sumbatan saluran kemih, maupun efek obat atau zat tertentu. Dengan penanganan yang tepat, fungsi ginjal pada sebagian pasien dapat membaik.

Sementara itu, Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kondisi ketika kelainan struktur atau fungsi ginjal berlangsung selama setidaknya tiga bulan. Kerusakan ginjal umumnya berkembang secara perlahan dan dapat bersifat progresif. Pada tahap lanjut, fungsi ginjal dapat menurun secara signifikan sehingga pasien memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal.

Apa Penyebab Penyakit Ginjal Kronis?

Berbagai kondisi dapat menyebabkan atau meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis. Dua penyebab yang paling umum adalah diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Selain itu, beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, antara lain :

1.      Penyakit jantung dan pembuluh darah;

2.      Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga;

3.      Obesitas;

4.      Kebiasaan merokok;

5.      Riwayat batu atau sumbatan saluran kemih;

6.      Infeksi atau peradangan pada ginjal;

7.      Penyakit autoimun tertentu;

8.      Penggunaan obat-obatan tertentu secara tidak tepat atau dalam jangka panjang; serta

9.      Riwayat cedera ginjal akut.

Sementara itu, gagal ginjal akut dapat dipicu oleh kondisi yang berbeda, seperti kehilangan banyak cairan, perdarahan, infeksi berat, gangguan aliran darah ke ginjal, sumbatan saluran kemih, atau paparan obat dan zat tertentu yang dapat memengaruhi fungsi ginjal.

Siapa yang Berisiko Mengalami Gangguan Ginjal?

Risiko penyakit ginjal meningkat pada orang yang memiliki kondisi atau kebiasaan tertentu, terutama :

1.      Menderita diabetes melitus;

2.      Menderita hipertensi;

3.      Memiliki penyakit jantung;

4.      Memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga;

5.      Berusia lanjut;

6.      Mengalami obesitas;

7.      Merokok;

8.      Memiliki riwayat batu atau gangguan saluran kemih; atau

9.      Pernah mengalami gangguan ginjal sebelumnya.

Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Waspadai Gejala yang Muncul

Penyakit ginjal kronis sering disebut sebagai penyakit yang berkembang secara diam-diam karena pada tahap awal dapat tidak menimbulkan gejala yang jelas.

Ketika fungsi ginjal sudah semakin menurun, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain :

1.      Mudah lelah dan lemas;

2.      Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, tangan, atau sekitar mata;

3.      Perubahan frekuensi atau jumlah urine;

4.      Urine berbusa atau mengandung darah;

5.      Mual dan muntah;

6.      Nafsu makan menurun;

7.      Kulit terasa gatal;

8.      Kram otot;

9.      Sesak napas akibat penumpukan cairan;

10.   Gangguan tidur;

11.   Sulit berkonsentrasi; serta

12.   Tekanan darah yang sulit terkontrol.

Namun, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit ginjal. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

Tahapan Penyakit Ginjal Kronis

Penyakit ginjal kronis diklasifikasikan berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal, terutama berdasarkan perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR).

Secara umum, PGK dibagi menjadi 5 (lima) stadium :

Stadium 1

Fungsi penyaringan ginjal masih relatif baik, tetapi sudah terdapat tanda kerusakan ginjal, misalnya adanya albumin atau protein dalam urine atau kelainan struktur ginjal.

Stadium 2

Fungsi ginjal mengalami penurunan ringan dan sudah terdapat tanda kerusakan ginjal. Pada tahap ini, gejala sering kali belum dirasakan.

Stadium 3

Fungsi ginjal mengalami penurunan sedang. Stadium ini dapat dibagi menjadi 3a dan 3b. Sebagian pasien mulai mengalami keluhan, seperti mudah lelah, perubahan pola buang air kecil, atau pembengkakan.

Stadium 4

Fungsi ginjal mengalami penurunan berat. Pada tahap ini, risiko terjadinya berbagai komplikasi semakin meningkat dan pasien perlu mendapatkan pemantauan serta persiapan terapi pengganti ginjal apabila diperlukan.

Stadium 5

Fungsi ginjal sudah sangat menurun dan termasuk dalam kondisi gagal ginjal. Pasien dapat memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal, seperti hemodialisis, dialisis peritoneal, atau transplantasi ginjal, sesuai kondisi dan pertimbangan dokter.

Penting : Stadium penyakit ginjal kronis tidak ditentukan hanya berdasarkan gejala, tetapi melalui pemeriksaan fungsi ginjal dan tanda kerusakan ginjal.

Bagaimana Penyakit Ginjal Diperiksa?

Karena penyakit ginjal kronis dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan kesehatan menjadi sangat penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Pemeriksaan darah

Pemeriksaan kreatinin darah digunakan untuk membantu menilai fungsi ginjal dan menghitung perkiraan laju filtrasi glomerulus (eGFR). Pemeriksaan lain dapat dilakukan sesuai kondisi pasien.

2.      Pemeriksaan urine

Pemeriksaan urine dapat dilakukan untuk mengetahui adanya albumin, protein, darah, atau kelainan lain yang dapat menjadi tanda kerusakan ginjal.

3.      Pemeriksaan ultrasonografi (USG) ginjal

USG dapat membantu melihat ukuran, bentuk, dan struktur ginjal serta mendeteksi adanya kelainan tertentu, seperti sumbatan atau perubahan struktur ginjal.

4.      Pemeriksaan lain sesuai indikasi

Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan, termasuk pemeriksaan pencitraan lainnya atau biopsi ginjal untuk mengetahui penyebab penyakit secara lebih spesifik.

Apakah Gagal Ginjal Bisa Dicegah?

Tidak semua penyakit ginjal dapat dicegah. Namun, risiko kerusakan ginjal dapat dikurangi dengan menjaga kesehatan dan mengendalikan faktor risikonya.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :

1.      Mengontrol tekanan darah;

2.      Mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes;

3.      Menjaga berat badan tetap sehat;

4.      Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi garam;

5.      Beraktivitas fisik secara teratur;

6.      Berhenti merokok;

7.      Menghindari konsumsi alkohol secara berlebihan;

8.      Menjaga kecukupan cairan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan;

9.      Tidak mengonsumsi obat, terutama obat tertentu yang dapat memengaruhi ginjal, secara sembarangan atau tanpa anjuran tenaga kesehatan; serta

10.   Melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala apabila memiliki faktor risiko.

Jangan Menunggu Ginjal “Berteriak”

Ginjal dapat mengalami penurunan fungsi tanpa memberikan tanda yang jelas pada tahap awal. Karena itu, jangan menunggu munculnya keluhan berat untuk mulai memperhatikan kesehatan ginjal.

Jika memiliki diabetes, hipertensi, penyakit jantung, riwayat keluarga dengan penyakit ginjal, atau faktor risiko lainnya, lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan konsultasikan hasilnya kepada tenaga kesehatan.

Kenali risikonya, periksa lebih dini, dan jaga ginjal sejak sekarang. Ginjal yang sehat membantu tubuh tetap bekerja dengan baik setiap hari.

 

Referensi :

Kidney Disease : Improving Global Outcomes (KDIGO). 2024. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney International, 105(4S), S117-S314.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Situasi Penyakit Ginjal Kronis. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

International Society of Nephrology (ISN). 2024. Global Kidney Health Atlas. Brussels : International Society of Nephrology.

Ariani, S. 2018. Stop Gagal Ginjal dan Gangguan-gangguan Ginjal Lainnya. Yogyakarta : Istana Media.

Bayhakki & Hasneli, Y. 2017. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gagal Ginjal Kronik. Yogyakarta : Nuha Medika.

Feronika, N., Bayhakki, & Y. H. 2025. Hubungan Lama Hemodialisis dan Dukungan Keluarga Terhadap Interdialytic Weight Gain (IDWG) pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Unit Hemodialisis. Manuju : Nursing Journal, 7.

Sari, S., Suhada, Z., & Triagustini, T. 2023. Cost of Illness Pasien Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad Provinsi Riau. Jurnal Ilmiah Farmasi.