Kenali Risiko Stroke di Usia Muda
Stroke kerap diidentikkan dengan penyakit lanjut usia, padahal dapat terjadi pada usia berapa pun [4]. Data CDC Amerika Serikat menunjukkan sekitar satu dari tujuh kasus stroke terjadi pada usia 15–49 tahun, diduga akibat meningkatnya obesitas, hipertensi, dan diabetes [4]. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stroke nasional 8,3 per 1.000 penduduk [2][3]. Kabar baiknya, Kementerian Kesehatan menyatakan sekitar 90% stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko [3].
Apa Itu Stroke?
Stroke adalah kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan atau perdarahan, sehingga sel otak kekurangan oksigen dan dapat mati. Tanpa penanganan segera, stroke dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian [1]. Pedoman nasional membagi stroke menjadi tiga jenis utama [2]. Yang paling sering adalah stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah otak, yakni sekitar 80–85% kasus. Dua jenis lainnya adalah perdarahan intraserebral, saat pembuluh darah di dalam jaringan otak pecah, dan perdarahan subaraknoid, yaitu perdarahan di ruang antara otak dan selaputnya yang paling sering disebabkan pecahnya aneurisma. Adapun gejala mirip stroke yang hilang dalam beberapa menit disebut serangan iskemik transien (TIA) [1].
Mengapa Stroke Bisa Menyerang Usia Muda?
Sebagian besar beban stroke berkaitan dengan faktor risiko yang dapat dikendalikan [1]. Yang terbesar adalah tekanan darah tinggi, yang meningkatkan risiko hampir tiga kali lipat dan sering tidak bergejala, sehingga perlu diperiksa rutin [1][4]. Merokok, termasuk terpapar asap orang lain, juga merusak jantung dan pembuluh darah; penggunaan tembakau berkaitan dengan sekitar dua perlima kematian akibat stroke pada usia di bawah 65 tahun [1][4]. Selain itu, diabetes, kolesterol LDL tinggi, dan gangguan ginjal termasuk faktor risiko utama [1]. Berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, diet tinggi natrium dan rendah buah serta sayur, dan stres turut memperbesar risiko [1][3][4], begitu pula alkohol berlebihan, narkotika seperti kokain, dan polusi udara [1][3]. Penyakit jantung dan gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium juga berbahaya karena dapat membentuk bekuan darah yang terlepas dan menyumbat pembuluh darah otak [1][4].
Di sisi lain, ada faktor yang tidak dapat diubah, yaitu usia, riwayat stroke sebelumnya, riwayat keluarga atau genetik, dan penyakit tertentu seperti sickle cell. Pada perempuan, kehamilan dan penggunaan pil KB membawa risiko tersendiri [1][4]. Karena banyak faktor dapat dikendalikan, pencegahan bisa dimulai sejak muda.
Kenali Gejala: “SeGeRa Ke RS”
Gejala stroke muncul mendadak, dan Kementerian Kesehatan mengampanyekan pesan “SeGeRa Ke RS” [2][3]. Se berarti senyum tidak simetris atau mencong ke satu sisi, kadang disertai tersedak atau sulit menelan. Ge adalah gerak separuh anggota tubuh yang tiba-tiba melemah. Ra adalah bicara pelo, mendadak tidak bisa bicara, atau bicara tidak nyambung. Ke berarti kebas, baal, atau kesemutan pada separuh badan. R adalah rabun, yakni pandangan satu mata mendadak kabur. Terakhir, S adalah sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan belum pernah dirasakan sebelumnya, atau gangguan keseimbangan seperti terasa berputar.
Waktu Sangat Menentukan
Bila gejala muncul, anggap sebagai kegawatdaruratan dan segera bawa penderita ke rumah sakit yang memiliki layanan stroke [1][2]. Pada stroke iskemik, terapi pelarut bekuan darah umumnya diberikan dalam 4,5 jam pertama sejak gejala muncul [2], dan pemeriksaan CT scan atau MRI otak perlu dilakukan secepatnya [1]. Gejala yang cepat hilang tetap harus diperiksakan karena TIA meningkatkan risiko stroke berikutnya [4].
Cegah Stroke Mulai Sekarang dengan CERDIK
Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat menerapkan CERDIK: Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup, serta Kelola stres [2][3]. Secara praktis, periksalah tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala di fasilitas kesehatan tingkat pertama [2]. Beraktivitaslah fisik minimal 150 menit per minggu, misalnya 30 menit sehari selama lima hari, dan kurangi duduk terlalu lama [1][2][3]. Konsumsi minimal lima porsi buah dan sayur per hari, kurangi garam, lemak jenuh, dan gula, dengan asupan natrium di bawah 2,3 gram per hari [1][2]. Jaga pula berat badan ideal, tidur 7–9 jam per malam, berhenti merokok, dan batasi alkohol [1][2]. Stroke bukan hanya soal usia: kenali risikonya, kendalikan faktor risikonya, dan bertindaklah cepat saat gejala muncul.
Referensi:
[1] World Health Organization. (2025, 19 Desember). Stroke [Lembar fakta]. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/stroke
[2] Kementerian Kesehatan RI. (2026). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/304/2026 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Stroke. https://kemkes.go.id/id/pnpk-tata-laksana-stroke-2026
[3] Kementerian Kesehatan RI. (2024, 25 Oktober). Cegah stroke dengan aktivitas fisik [Siaran pers]. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20241025/4046682/cegah-stroke-dengan-aktivitas-fisik
[4] Centers for Disease Control and Prevention. (2024, 15 Mei). Risk factors for stroke. https://www.cdc.gov/stroke/risk-factors/