Rabu, 31 Desember 2025 14:54 WIB

Volkman Ischemic Contracture

Responsive image
27
Randi Kusuma Elvandri Munandar - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Volkmann Ischemic Contracture (VIC) adalah kondisi ortopedi yang ditandai dengan deformitas fleksi permanen pada pergelangan tangan dan jari-jari akibat iskemia otot-otot fleksor lengan bawah. VIC umumnya merupakan komplikasi serius dari sindrom kompartemen akut yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Cedera iskemik ini menyebabkan nekrosis otot dan fibrosis, yang kemudian berkembang menjadi kontraktur (1.2)

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Richard von Volkmann pada abad ke-19, yang menggambarkan deformitas tangan akibat gangguan sirkulasi pasca trauma. Seiring waktu, pengertian ini diperluas seiring dengan pemahaman patofisiologi sindrom kompartemen dan dampaknya terhadap jaringan musculoskeletal. (3)

Anatomi

Kompartemen volar lengan bawah mengandung struktur penting, termasuk:

  • Otot fleksor superfisial dan profundus jari
  • Flexor pollicis longus
  • Arteri dan vena ulnaris dan radialis
  • Nervus medianus dan ulnaris

Otot-otot fleksor sangat sensitif terhadap hipoksia karena kebutuhan metabolik yang tinggi. Bila terjadi peningkatan tekanan dalam kompartemen (misalnya akibat edema, hematoma, atau gips yang terlalu ketat), sirkulasi mikro terganggu dan menyebabkan hipoperfusi. Dalam 4–6 jam, dapat terjadi nekrosis ireversibel pada jaringan otot dan saraf. (4)

Volkmann Ischemic Contracture paling banyak terjadi pada populasi anak-anak usia 5–15 tahun, terutama di negara berkembang, akibat keterlambatan diagnosis sindrom kompartemen pasca fraktur suprakondiler humerus. Di Asia Selatan dan beberapa wilayah Afrika, VIC masih merupakan penyebab utama deformitas ekstremitas atas pada anak. (5,6)

Insiden global VIC sulit ditentukan karena banyaknya kasus yang tidak dilaporkan atau ditangani secara tradisional. Di India, laporan menunjukkan angka prevalensi VIC sebesar 1–2% dari seluruh kasus fraktur suprakondiler. (5)

Mekanisme utama VIC adalah peningkatan tekanan intrakompartemen yang menyebabkan perfusi kapiler terganggu. Bila tekanan jaringan >30 mmHg atau >diastolic pressure–30 mmHg, aliran darah ke jaringan akan berkurang. Keadaan ini menyebabkan iskemia otot dan saraf, dimulai dari flexor digitorum profundus, kemudian flexor pollicis longus dan nervus medianus. (4.7)

Proses ini menyebabkan:

  • Nekrosis otot, menyebabkan pembentukan jaringan fibrotik
  • Fibrosis 
  • Komplikasi sekunder seperti deformitas tangan, nyeri, disfungsi sensorik

Faktor risiko yang memperparah: penggunaan gips yang ketat, pembalut yang tidak sesuai, fraktur dengan perdarahan luas, dan keterlambatan tindakan fasciotomi [3].

Gejala VIC biasanya muncul beberapa hari hingga minggu setelah cedera awal. Manifestasi bervariasi tergantung tingkat keparahan:1,6,8

a. Stadium Awal (Subakut):

  • Nyeri hebat, tidak proporsional dengan cedera
  • Pembengkakan ekstremitas
  • Parestesia
  • Kelemahan otot

b. Stadium Lanjut:

  • Posisi tangan khas: pergelangan tangan dalam posisi fleksi, metakarpophalangeal dalam ekstensi, dan interphalangeal dalam fleksi
  • Tidak dapat melakukan ekstensi jari secara pasif (positive Volkmann sign)
  • Atrofi otot lengan bawah
  • Gangguan sensorik (area nervus medianus & ulnaris)
  • Kekakuan sendi, kulit kering, dan trofik terganggu

Pendekatan Diagnosis

a. Anamnesis

Riwayat trauma, fraktur suprakondiler, gips ketat, atau sindrom kompartemen, Gejala awal berupa nyeri hebat dan parestesia

b. Pemeriksaan Fisik

  • Evaluasi deformitas
  • Pemeriksaan kekuatan otot
  • Tes Volkmann: nyeri saat ekstensi pasif jari
  • Palpasi massa otot 

c. Pemeriksaan Penunjang

  • EMG: menunjukkan denervasi otot pada fase kronis
  • MRI: menunjukkan atrofi otot dan fibrosis
  • Ultrasonografi muskuloskeletal: kadang digunakan untuk melihat massa fibrotik
  • Studi vaskular: bila terdapat dugaan gangguan arteri ulnaris atau radialis

Tatalaksana

a. Fase Akut (Sebelum Kontraktur)

  • Fasciotomi emergen pada sindrom kompartemen
  • Pengangkatan gips atau pembalut yang menekan
  • Elevasi ekstremitas dan monitoring perfusi jaringan
  • Terapi cairan dan pengendalian nyeri

b. Fase Kronis (Setelah VIC Terbentuk)

Konservatif:

  • Fisioterapi pasif dan aktif
  • Orthosis atau splint dinamis
  • Blok neuromuskular sementara

Operatif: (10)

  • Tendon lengthening atau Z-plasty
  • Tendon transfer untuk memulihkan fungsi
  • Myotomy atau fasciotomy sekunder
  • Free functional muscle transfer pada kasus berat
  • Osteotomi korektif jika disertai deformitas tulang
  • Pendekatan pembedahan harus disesuaikan dengan klasifikasi Tsuge (mild, moderate, severe) untuk menentukan pilihan teknik

Prognosis sangat tergantung pada kecepatan intervensi awal. Bila sindrom kompartemen dikenali dan ditangani dalam 6 jam pertama, kerusakan permanen dapat dicegah. Setelah kontraktur terbentuk, pembedahan dapat memperbaiki fungsi sebagian, tetapi jarang mengembalikan fungsi normal sepenuhnya. (1,11)

Komplikasi yang dapat terjadi berupa: (6,12)

  • Deformitas tangan permanen
  • Kelemahan fungsi tangan dominan
  • Gangguan pertumbuhan (pada anak)
  • Neuropati nervus medianus dan ulnaris
  • Nyeri kronik dan disfungsi aktivitas harian
  • Gangguan psikososial pada remaja dan anak

 

Referensi:

1.      Tsuge K. Treatment of the Volkmann contracture. J Bone Joint Surg Am. 1975;57(7):925–929.

2.      Seddon HJ. Volkmann's ischaemia in the lower limb. J Bone Joint Surg Br. 1966;48(4):627–636.

3.      Matsen FA III. Compartmental syndromes. N Engl J Med. 1980;302(5):250–252.

4.      Mubarak SJ, Owen CA, Hargens AR, Garetto LP, Akeson WH. Acute compartment syndromes: diagnosis and treatment with the aid of the wick catheter. J Bone Joint Surg Am. 1978;60(8):1091–1095.

5.      Bae DS. Volkmann ischemic contracture in children: current concepts. J Pediatr Orthop. 2011;31(1):61–67.

6.      Hunt CA, Kingsnorth AN. Management of Volkmann's contracture. Ann R Coll Surg Engl. 2004;86(2):73–76.

7.      Gelberman RH, Szabo RM, Williamson RV, Hargens AR. Tissue pressure threshold for peripheral nerve viability. Clin Orthop Relat Res. 1983;(178):285–291.

8.      Gillingham BL, Mack GR. Volkmann ischemic contracture: current concepts. Clin Orthop Relat Res. 1990;(257):158–164.

9.      Chinchalkar SJ, Pierrynowski MR, Grewal R. Volkmann's contracture: current management options. Can J Plast Surg. 2013;21(2):89–93.

10.  Zancolli EA. Structural and dynamic bases of hand surgery. 2nd ed. Philadelphia: Lippincott; 1979.

11.  Soni A, Gulati D, Bassi JL. Surgical management of Volkmann ischemic contracture: a clinical study. Indian J Orthop. 2008;42(4):439–443.

12.  Rudge WB. Pediatric ischemic contractures of the upper extremity. J Pediatr Orthop. 1992;12(4):512–517.

Sumber gambar:

https://medicoapps.org/wp-content/uploads/2019/01/VOLKMANNS-ISCHEMIC-CONTRACTURE.jpg

https://www.researchgate.net/publication/378446592/figure/fig2/AS:11431281225586621@1708781753121/Schematic-demonstrating-the-use-of-a-free-functional-muscle-transfer-for-reconstruction_Q320.jpg