Selasa, 06 Januari 2026 08:34 WIB

Hubungan Antara Pengetahuan dan Stigma Masyarakat tentang Penyakit Kusta

Responsive image
25
Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Kusta atau lepra adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini dapat menyerang kulit, saraf tepi, saluran pernapasan, dan jaringan tubuh lainnya. Kusta ditandai dengan gejala berupa lesi kulit yang tidak terasa sakit, penurunan sensitivitas kulit, dan deformitas pada ekstremitas tubuh akibat kerusakan saraf. Meskipun kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan cacat permanen. Kusta menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di beberapa negara, terutama di daerah dengan sanitasi yang buruk dan kepadatan penduduk tinggi.

Etiologi dari kusta adalah infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, sebuah bakteri yang berkembang biak dengan sangat lambat, yang mempengaruhi sistem saraf dan kulit. Bakteri ini menyebar melalui percikan dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi, meskipun penularannya memerlukan kontak yang dekat dan lama dengan individu yang terinfeksi. Tidak semua orang yang terpapar bakteri ini akan mengalami kusta, yang menunjukkan bahwa faktor kekebalan tubuh individu juga memainkan peranan penting dalam perkembangan penyakit ini.

Kemenkes RI telah meluncurkan berbagai program untuk mencegah penyebaran kusta, salah satunya adalah Program Eliminasi Kusta. Stigma negatif masyarakat tentang pasien kusta yang mengatakan bahwa penyakit kusta merupakan penyakit kutukan dan tidak dapat disembuhkan. Stigma yang berkembang di masyarakat disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penyakit kusta. Kurangnya pemahaman masyarakat ini berhubungan erat dengan peran serta tenaga kesehatan, untuk mensosialisasi kemasyarakat tentang penyakit kusta itu sendiri sehingga bisa merubah pola pikir masyarakat. Stigma inilah yang menyebabkan penderita kusta menjadi malu untuk bergaul dengan masyarakat dan hanya bersembunyi di rumah.

Penyebab Munculnya Stigma

1.    Kurang pengetahuan

Kurang pengetahuan tentang penyebab dan sifat penyakit dapat disembuhkan atau tidak, penyebaran penyakit, dan penyakit tersebut diturunkan atau tidak, sehingga hal-hal tersebut akan menimbulkan suatu perilaku tidak logis pada penderita.

2.  Sikap

Sikap merupakan faktor penyebab stigma yang paling besar. Sikap merupakan suatu respon yang dipelajari dan diwujudkan dalam bentuk aktivitas sosial. Sikap umumnya merupakan hasil pengalaman masa lalu dan sering juga digambarkan dalam kaitannya dengan kepercayaan (evaluasi), keyakinan (perasaan) dan kecenderungan perilaku.

3.    Ketakutan

Ketakutan adalah suatu daya penggerak stigma yang utama. Masyarakat umumnya takut pada dua hal, yaitu kelainan bentuk suatu penyakit dan pengeluaran dari kehidupan sosial. Ketakutan karena risiko transmisi penyakit merupakan aspek yang umumnya juga terjadi di masyarakat. Para petugas kesehatan kadang-kadang juga tidak mau bekerja sama dalam menangani klien kusta di masyarakat.

4.    Malu dan salah

Malu dan salah sebagai penyebab stigma dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan yang berlaku di masyarakat. Penderita akan merasa malu sebagai akibat adanya budaya dan persepsi dari masyarakat. Hal ini mengakibatkan klien kusta akan merahasiakan hasil diagnosis kusta.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan stigma masyarakat terhadap penderita penyakit kusta dimana masyarakat dengan pengetahuan yang cukup tentang penyakit kusta akan memberikan stigma positif sementara masyarakat dengan pengetahuan kurang akan memberikan stigma negatif terhadap pasien kusta di wilayahnya. Oleh karena itu dibutuhkan peran aktif tenaga kesehatan dan kader kader kesehatan untuk memberikan edukasi dan promosi kesehatan kususnya tentang penyakit kusta kepada masyarakat bahwa penyakit itu bisa diobati dan disembuhkan. Upaya promosi kesehatan yang dilakukan kepada masyarakat diharapkan akan meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta yang akhirnya dapat menghapus stigma negatif tentang kusta pada penderita sehingga ikut membantu keberhasilan program penyembuhan dan mencegah penularan penyakit kusta kepada masyarakat

Mencegah Penularan Kusta

Hingga kini belum ada vaksinasi yang berguna untuk mencegah penyakit kusta. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan agar terhindar dari penyakit ini antara lain :

1. Promosi Kesehatan tentang Kusta

Perlu adanya sosialisasi dan promosi kesehatan tentang penyakit kusta kepada masyarakat agar mereka paham terhadap bahaya dan paham cara mencegah penularannya. 

2. Menjaga Daya Tahan Tubuh

Menjaga daya tahan tubuh adalah langkah awal yang harus Anda lakukan. Mulai dari mengatur pola makan dan memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi, menjaga tubuh agar dapat beristirahat cukup, dan rutin melakukan olahraga 3-4 kali dalam seminggu.

3. Perhatikan Ventilasi Lingkungan Sekitar

Perhatikan ventilasi di rumah atau tempat kerja Anda. Pastikan sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah, terutama ke daerah yang lembap.

4. Hindari Berpergian ke Daerah Endemik Kusta

Apabila Anda berencana melakukan perjalanan, perhatikan keadaan daerah yang Anda kunjungi.

5. Jika ada keluarga yang mengalami kusta, ingatkan untuk mengonsumsi obat hingga sembuh.

Mengonsumsi obat dan kontrol ke dokter atau fasilitas kesehatan secara rutin dapat memutus rantai penularan kusta.

6. Pakai masker dan jaga kebersihan.

Menggunakan masker apabila kontak dengan penderita dapat membantu Anda untuk mencegah penularan kuman lepra. Selain itu, jangan lupa untuk menjaga kebersihan seperti cuci tangan setelah melakukan kontak dengan penderita penyakit kusta.

 

Referensi :

Resa Mindasari, dkk. 2025. Keterkaitan Faktor Risiko dengan Kejadian Kusta  di Indonesia : a Systematic Review. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas Padang.

Darmawan, H., & Rusmawardiana, R. 2020. Sumber dan Cara Penularan Mycobacterium leprae. Jurnal Kesehatan Universitas Tarumanagara Jakarta.

Dianita, R. 2020. Perbandingan Determinan Kejadian Kusta pada Masyarakat Daerah Perkotaan dan Pedesaan. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Universitas Negeri Semarang.

Carbadi Badriah, dkk. 2022. Hubungan Antara Karakteristik dengan Stigma Penyakit Kusta pada Masyarakat di Desa Tenajar Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu 2022. Journal of Midwifery Care, Stikes Kuningan Jawa Barat.