Clostridium tetani adalah nama bakteri yang menjadi penyebab utama penyakit tetanus. Tetanus merupakan penyakit infeksi serius dengan prognosis yang buruk bila tidak terdeteksi dan diterapi pada stadium awal. Toksin tetanus merupakan faktor virulensi terpenting dari bakteri Clostridium tetani yang mempengaruhi neuron motorik ditandai dengan spasme otot progresif dan kelumpuhan spastik. Infeksi ini dapat mengancam jiwa yang menyebabkan asfiksia, gagal jantung atau komplikasi pernapasan pada kasus berat. Infeksi tetanus lebih sering dijumpai pada daerah tropis dan diestimasikan sebagai penyebab 60.000 kematian per tahun di seluruh dunia. Berdasarkan data CDC, kasus tetanus dilaporkan berkisar antara 35 dan 75 kasus baru dan berkaitan dengan populasi lanjut usia. Dari data WHO juga diperoleh informasi bahwa angka kejadian infeksi tetanus tahun 2023 ke 2024 mengalami kenaikan 20 persen dari 2500 menjadi 3000. Penyakit ini masih merupakan penyakit dengan kematian yang tinggi. Kejadian tetanus paling banyak ditemukan pada negara berkembang, dimana sebanyak 80 persen mortalitas ditemukan di Benua Afrika dan Asia Tenggara. Indonesia menempati urutan ketiga dengan insiden kasus terbanyak setelah India dan Pakistan. Tetanus sebenarnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, tetapi karena agen penyebab tersebar di lingkugan, pemberantasan sepenuhnya sulit dilakukan. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang risiko infeksi, perawatan luka yang kurang baik dan rendahnya kesadaran terhadap imunisasi menyebabkan angka prevalensi di negara berkembang masih tinggi. Mengenali cara penularannya dan langkah pencegahannya penting agar infeksi yang berpotensi fatal ini dapat dihindari. Jika tidak segera ditangani, racun dari Clostridium tetani ini dapat menyebar dan meningkatkan risiko komplikasi berat, seperti pneumonia, emboli paru, patah tulang akibat kejang hebat, hingga kematian.
Faktor Risiko Tetanus
Faktor risiko terbesar untuk infeksi tetanus adalah tidak divaksinasi atau tidak mendapatkan suntikan booster 10 tahun. Selain itu, faktor lain yang meningkatkan risiko infeksi tetanus adalah :
1. Luka terkena tanah atau pupuk kandang.
2. Terdapat benda asing di luka, seperti paku atau serpihan.
3. Terdapat lesi kulit yang terinfeksi pada orang yang hidup dengan diabetes.
4. Tali pusar yang terinfeksi ketika seorang ibu belum sepenuhnya divaksinasi.
5. Menggunakan jarum bersama dan tidak bersih saat menggunakan obat-obatan terlarang.
Cara Penularan Clostridium tetani
Penularan Clostridium tetani tidak terjadi dari orang ke orang. Infeksi terjadi ketika spora bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka. Beberapa jalur masuk yang paling umum meliputi :
1. Luka tusuk akibat benda kotor atau berkarat.
2. Luka gores atau lecet yang terpapar tanah atau debu.
3. Luka bakar, gigitan hewan, atau luka akibat kecelakaan kerja.
4. Perawatan tali pusat yang tidak steril (pada bayi).
5. Luka atau infeksi di dalam mulut, termasuk gigi berlubang atau kebiasaan menggunakan alat tidak steril saat membersihkan gigi.
Spora Clostridium tetani akan berkembang dalam kondisi minim oksigen, seperti luka dalam atau luka yang tidak dibersihkan dengan baik. Setelah masuk, bakteri menghasilkan racun yang memengaruhi sistem saraf.
Gejala Penularan Clostridium tetani
Gejala infeksi Clostridium tetani dapat berkembang dengan cepat setelah bakteri masuk melalui luka, terutama jika luka tidak dibersihkan dengan baik. Berikut beberapa ciri luka terinfeksi tetanus yang perlu diwaspadai :
1. Kekakuan otot rahang (rahang terkunci) atau mulut sulit dibuka.
2. Kram atau kejang otot di leher, punggung, atau seluruh tubuh.
3. Kesulitan menelan atau bernapas akibat otot leher dan dada yang menegang.
4. Luka kecil yang tampak biasa, namun terasa makin nyeri, bengkak, dan mengeluarkan cairan.
5. Demam, berkeringat, atau detak jantung menjadi lebih cepat.
6. Sulit menyusu pada bayi.
Cara Mencegah Penularan Clostridium tetani
Untuk mencegah risiko tetanus akibat infeksi Clostridium tetani, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan :
1. Segera bersihkan luka menggunakan air mengalir dan sabun, meskipun luka tampak kecil.
2. Hindari penggunaan bahan tradisional pada luka, seperti bubuk kopi atau tembakau, karena dapat meningkatkan risiko infeksi.
3. Pastikan vaksin tetanus sudah lengkap sesuai jadwal, mulai dari bayi hingga dewasa. Vaksinasi booster diperlukan setiap 10 tahun.
4. Gunakan sarung tangan dan alas kaki saat bekerja di kebun, sawah, atau bersentuhan dengan benda tajam, terutama bagi petani atau pekerja lapangan.
5. Datangi fasilitas kesehatan jika luka tampak dalam, kotor, atau tidak kunjung membaik.
Saat ini tidak ada pengobatan rumahan yang terbukti efektif melawan Clostridium tetani. Pemeriksaan medis, perawatan luka yang benar, serta vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah infeksi bakteri ini.
Referensi :
Fadila Tsania Richa. 2023. Peningkatan Pengetahuan Imunisasi Tetanus Toxoid Sebagai Upaya Promotif untuk Cegah Infeksi Tetanus. Jurnal Midwife Comunity, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Olivia Angelia Mandai, dkk. 2024. Tetanus, Epidemiologi Penyakit Menular. Jurnal Kesehatan Universitas Samratulangi Menado.
Elma Sari Pagehgiri. 2024. Studi Kasus : Tetanus Generalisata pada Pasien Usia Lanjut. Jurnal Medika Universitas Malahayati, Riau.
Budd A, Blanton L, Grohskopf L, et al. 2017. Manual for The Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention.
Fan Ingole, et al. 2019. Clinical Features and Outcomes of Tetanus : a Retrospective Study. Infection and Drug Resistance.