Senin, 12 Januari 2026 08:58 WIB

Memahami Gangguan Jiwa untuk Mencegah Dampak Lebih Lanjut

Responsive image
40
Promosi Kesehatan Tim Kerja Hukum dan Humas - RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten

Gangguan jiwa menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan terjadinya gangguan dalam fungsi tersebut, sehingga dapat menimbulkan penderitaan pada individu dan/atau hambatan dalam melaksanakan peran sosialnya. Gangguan jiwa tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berpengaruh terhadap keluarga dan masyarakat.

Oleh karena itu, masalah gangguan jiwa perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah agar pelayanan bagi penderita gangguan jiwa dapat ditingkatkan dan berjalan lebih optimal. Pelayanan bagi penderita gangguan jiwa tidak terlepas dari peran para profesional kesehatan, seperti psikiater, psikolog, perawat psikiatri, terapis okupasi (occupational therapist), dan pekerja sosial. Dengan demikian, diperlukan peningkatan pemahaman yang berkelanjutan mengenai gangguan jiwa.

Sehat jiwa tidak hanya berarti terbebas dari gangguan jiwa. Seseorang yang sehat jiwanya adalah individu yang memahami dan menyadari kemampuan yang dimilikinya, mampu mengatasi stres dalam kehidupan sehari-hari, dapat bekerja secara produktif, serta berkontribusi di masyarakat tempat ia berada. Individu dengan kesehatan jiwa yang baik umumnya mampu menghadapi masalah dengan tenang, tidak mudah mengalami stres berlebihan, dan tidak menyalahkan faktor-faktor di luar dirinya.

Tanda-tanda gangguan jiwa pada setiap orang dapat berbeda-beda dan tidak selalu tampak secara jelas. Bahkan, sebagian orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami gangguan jiwa. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda gangguan jiwa sejak dini agar dapat dilakukan penanganan yang tepat dan optimal.

Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa Ringan (Cemas) :

1.      Perasaan terlalu khawatir, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, serta mudah tersinggung.

2.      Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, dan mudah terkejut.

3.      Takut sendirian, takut berada di keramaian, atau di tempat dengan banyak orang.

4.      Gangguan pola tidur, termasuk mimpi-mimpi yang menegangkan.

5.      Gangguan konsentrasi dan daya ingat.

6.      Keluhan somatik, seperti nyeri pada otot dan tulang.

7.      Keluhan fisik lainnya, seperti telinga berdenging (tinnitus), jantung berdebar, sesak napas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, dan sakit kepala.

Tanda Gangguan Jiwa yang Harus Diwasdapai

Gejala dan tanda gangguan jiwa sangat bervariasi tergantung penyakit jiwa yang dialami dan tingkat keparahannya. Namun, secara umum, gejala dan tanda seseorang yang mengalami gangguan jiwa meliputi :

1. Perubahan suasana hati

Perubahan suasana hati atau mood pada penderita gangguan jiwa biasanya terjadi sangat drastis. Misalnya, di satu waktu penderita merasa sangat bersemangat, tetapi di waktu lainnya tiba-tiba menjadi sangat sedih, tidak bertenaga, bahkan hilang minat untuk melakukan kegiatan yang biasanya digemari.

2. Gangguan tidur

Mayoritas penderita gangguan jiwa mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur bisa berupa tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, sulit tidur, sering bangun di malam hari, tidur tidak berkualitas, atau tidak bisa tidur sama sekali. Orang yang mengalami gangguan tidur cenderung akan merasa kurang bertenaga, lemas, mengantuk, dan kurang produktif dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

3. Sulit berpikir

Penderita gangguan jiwa mungkin mengalami kesulitan mengingat, berkonsentrasi, atau berpikir logis. Jika sudah parah, penderita gangguan jiwa bahkan bisa mengalami gangguan pola pikir paranoid, halusinasi, atau tidak bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak.

4. Libatkan diri pada hal berbahaya

Penderita ganguan jiwa cenderung tidak peduli pada kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri atau orang lain. Ia juga tidak memperhatikan kebersihan diri dan penampilannya. Penderita gangguan jiwa juga rentan mengalami berbagai masalah perilaku, seperti kecanduan alkohol, narkoba, bahkan percobaan bunuh diri.

5. Sulit bersosialisasi dengan orang lain

Tanda gangguan jiwa berikutnya adalah sulitnya bersosialisasi dengan orang lain karena rasa cemas yang menghantui. Kecemasan ini berujung pada sikap menghindari interaksi sehingga menghambat kehidupan sosial di sekolah, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari lainnya. Orang yang mengalami gangguan ini biasanya ingin selalu menyendiri, merasa tidak bisa memercayai orang lain, dan menghindari pemicu gejala semakin buruk seperti berbicara di depan umum.

 

Referensi :

Hidayat, M., dkk. 2024. Identifikasi Faktor-faktor Penyebab Gangguan Jiwa pada Remaja di Rumah Sakit Jiwa. Jurnal Akademika, Universitas Baiturahim, Jambi.

Suryani. 2020. Mengenal Gejala dan Penyebab Gangguan Jiwa. Jurnal Psikologi, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Daulay, W., dkk. 2021. Kualitas Hidup Orang dengan Gangguan Jiwa : a Systematic Review. Jurnal Keperawatan, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Nakamura, et al. 2020. Neural Effects of Acute Stress on Appetite : a Magnetoencephalography Study. PLOS ONE.

Schimelpfening, N. 2022. Psychosomatic Illness : Definition, Symptoms, and Treatment. Verywell Mind.