Kamis, 15 Januari 2026 13:56 WIB

Pott Disease

Responsive image
14
Williem Harvey - RS Ortopedi Prof.Dr.R.Soeharso Surakarta

Spondilitis tuberkulosis, atau yang lebih dikenal dengan penyakit Pott, adalah infeksi pada tulang belakang yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Meskipun tuberkulosis (TB) lebih sering dikaitkan dengan infeksi paru-paru, sekitar 1-2 persen dari seluruh kasus TB di dunia melibatkan tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan peradangan, kerusakan struktural, dan deformitas pada tulang belakang, yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien secara signifikan jika tidak segera ditangani.

Definisi dan Epidemiologi

Tuberkulosis tulang belakang terjadi ketika Mycobacterium tuberculosis menyebar secara hematogen (melalui aliran darah) dari paru-paru atau situs ekstrapulmoner lainnya ke tulang belakang, dengan serangan yang paling umum terjadi pada bagian torakolumbar—terutama antara vertebra toraks 6 dan lumbal 2. Penyakit ini menyebabkan kerusakan pada vertebra dan cakram intervertebralis, serta pembentukan abses paravertebral atau epidural. Tanpa pengobatan yang tepat, infeksi ini bisa menyebabkan deformitas tulang belakang seperti kyphosis, atau bahkan paraplegia jika melibatkan kanal tulang belakang .

Di Indonesia, yang memiliki prevalensi tuberkulosis yang tinggi, tuberkulosis tulang belakang tetap menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Dengan lebih dari satu juta kasus tuberkulosis baru pada tahun 2023, sekitar 5% di antaranya merupakan kasus spondilitis tuberkulosis, menjadikannya masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Prevalensi HIV yang tinggi, keterbatasan dalam diagnosis dini, dan akses terbatas ke layanan kesehatan berkontribusi pada tingginya angka kejadian penyakit ini di negara-negara berkembang seperti Indonesia .

Spondilitis tuberkulosis dimulai ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis menginfeksi paru-paru dan kemudian menyebar ke bagian tubuh lain, termasuk tulang belakang, melalui aliran darah. Setelah memasuki tubuh vertebra, bakteri ini menyebabkan peradangan granulomatosa dan nekrosis kaseosa, yang pada akhirnya merusak struktur tulang vertebra dan cakram intervertebralis. Proses ini mengarah pada kolaps vertebra, yang dapat menyebabkan deformitas tulang belakang seperti kyphosis. Penyakit ini juga bisa menyebabkan pembentukan abses, yang terkadang dapat menekan sumsum tulang belakang, menyebabkan defisit neurologis seperti paraplegia atau paraparesis .

Penyebaran hematogen ini umumnya terjadi pada organ dengan vaskularisasi yang baik, seperti tulang, ginjal, dan paru-paru. Pada kasus spondilitis tuberkulosis, infeksi sering dimulai di bagian anterior vertebra yang sangat vaskular, membuatnya rentan terhadap invasi bakteri. Setelah terinfeksi, tubuh merespons dengan membentuk granuloma yang mengelilingi bakteri, namun infeksi dapat berkembang menjadi lebih parah dengan pembentukan abses dingin (cold abscess), yang mengandung serum, leukosit, dan debris tulang. Respons tubuh terhadap infeksi ini sangat dipengaruhi oleh status imun pasien serta karakteristik dari bakteri itu sendiri .

Gejala awal spondilitis tuberkulosis biasanya melibatkan nyeri punggung yang tidak dapat dijelaskan dan benjolan yang teraba pada tulang belakang. Pasien sering kali menahan punggung mereka agar tidak bergerak, untuk mengurangi rasa sakit. Pada beberapa kasus, rasa sakit ini menjadi lebih parah dan lebih terlokalisasi, mengarah pada ketegangan dan kekakuan pada area tulang belakang yang terinfeksi. Selain itu, pada tahap lanjut, pasien dapat mengembangkan deformitas tulang belakang seperti kifosis (gibbus) yang dapat menyebabkan punggung membungkuk dalam sudut yang tidak normal. Abses yang berkembang dapat menyebabkan komplikasi neurologis, termasuk paraplegia, apabila abses menekan sumsum tulang belakang .

Pada beberapa kasus, abses dapat menjalar ke rongga dada bagian bawah atau bahkan ke bawah ligamen inguinal, memperburuk gejala dan mempengaruhi fungsi organ-organ yang terkait. Seiring dengan itu, gejala lain seperti penurunan berat badan, nafsu makan yang hilang, serta keringat malam dapat muncul. Gejala neurologis seperti kesulitan berjalan atau bergerak, serta defisit sensorik dan motorik, menjadi pertanda bahwa infeksi telah menyebar lebih jauh dan memengaruhi sumsum tulang belakang .

Diagnosis spondilitis tuberkulosis melibatkan berbagai tahap, mulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mendalam, hingga penggunaan teknik pencitraan modern. Teknik pencitraan seperti X-ray, CT scan, dan MRI sangat penting dalam mendeteksi lesi pada tulang belakang dan jaringan sekitarnya. MRI adalah alat pencitraan pilihan karena memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dalam mendeteksi abses paravertebral dan kerusakan pada vertebra. Namun, diagnosis definitif sering memerlukan konfirmasi mikrobiologis melalui kultur bakteri Mycobacterium tuberculosis dari sampel jaringan yang diambil .

Spondilitis tuberkulosis sering kali sulit didiagnosis karena gejalanya yang mirip dengan penyakit lain, seperti infeksi bakteri atau kanker. Oleh karena itu, pendekatan yang hati-hati dan penggunaan berbagai metode diagnostik sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis yang tepat dan menghindari keterlambatan dalam pengobatan .

Manajemen Terapi

Pengelolaan spondilitis tuberkulosis melibatkan pendekatan medis dan bedah yang disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Terapi pertama yang diberikan adalah pengobatan antibiotik dengan regimen obat antituberkulosis (OAT). Pengobatan ini umumnya dilakukan selama 9 hingga 18 bulan, dengan tujuan utama untuk mengeradikasi infeksi dan mencegah penyebaran lebih lanjut .

Pada kasus yang lebih parah, di mana terapi medis tidak dapat menangani kerusakan tulang belakang atau abses paravertebral, intervensi bedah sering diperlukan. Tindakan bedah dapat meliputi debridemen (pengangkatan jaringan infeksi) atau fusi vertebra untuk memperbaiki stabilitas tulang belakang dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sumsum tulang belakang. Beberapa metode bedah minimal invasif juga kini mulai digunakan, memberikan keuntungan berupa pemulihan yang lebih cepat dan risiko komplikasi yang lebih rendah .

Selain pengobatan medis dan bedah, terapi rehabilitasi pasca-operasi sangat penting untuk memulihkan fungsi neurologis yang terganggu, mengurangi deformitas, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi fisioterapi dan penggunaan alat bantu juga dapat membantu pasien mengatasi masalah mobilitas dan mencegah komplikasi jangka panjang .

Komplikasi dan Prognosis

Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis bisa sangat serius dan mencakup paraplegia permanen, deformitas tulang belakang yang tidak dapat diperbaiki, serta gangguan neurologis lainnya. Namun, dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang tepat, pasien dapat sembuh dan kembali ke kehidupan normal. Terapi yang tepat, baik medikamentosa maupun pembedahan, dapat memperbaiki prognosis jangka panjang dan mencegah komplikasi yang lebih parah .

Dengan kemajuan dalam diagnosis dan pengobatan, serta pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengelolaan spondilitis tuberkulosis, harapan hidup dan kualitas hidup pasien semakin membaik. Keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada deteksi dini, kesadaran pasien dan tenaga medis, serta pemilihan terapi yang sesuai berdasarkan kondisi klinis pasien .

 

Referensi :

Leowattana W, Leowattana P, Leowattana T. Tuberculosis of the spine. Vol. 14, World Journal of Orthopedics. Baishideng Publishing Group Inc; 2023. p. 275–93.

Rajasekaran S, Soundararajan DCR, Shetty AP, Kanna RM. Spinal Tuberculosis: Current Concepts. Global Spine J. 2018 Dec 1;8(4_suppl):96S-108S.

Park KH. Epidemiology and management of infectious spondylitis in Korea: a narrative review. The Ewha Medical Journal. 2024 Jul 31;47(3).

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA.

Aljehani Y, Alkhaldi N, Althunayyan L, Alghamdi R, Aljamaan S, Alwazzeh M, et al. Exploring Thoracolumbar Pott’s Disease in the Immunocompetent; Institutional Experience Over a Decade and Comprehensive Literature Review. Medical Archives. 2025;79(1):41–6.

Glassman I, Nguyen KH, Giess J, Alcantara C, Booth M, Venketaraman V. Pathogenesis, Diagnostic Challenges, and Risk Factors of Pott’s Disease. Vol. 13, Clinics and Practice. MDPI; 2023. p. 155–65.

Na S, Lyu ZS, Zhang S. Diagnosis and Treatment of Skipped Multifocal Spinal Tuberculosis Lesions. Vol. 15, Orthopaedic Surgery. Sociedade Brasileira de Matematica Aplicada e Computacional; 2023. p. 1454–67.

Adjiou DKF de P, Moune MY, Obame FLO, Makoso JD, Bankole NDA, Hemama M, et al. Cervical Pott’s disease: case report and review of the literature. Pan African Medical Journal. 2022 Aug 22;42.

Hirunpat P, Panyaping T, Wongpipathpong W, Hirunpat S. Imaging clues for the diagnosis of various pathogenic causes of infectious spondylitis. Skeletal Radiology. Springer Science and Business Media Deutschland GmbH; 2025.

Wang J, Li Z, Chi X, Chen Y, Wang H, Wang X, et al. Development of a Diagnostic Model for Differentiating Tuberculous Spondylitis and Pyogenic Spondylitis With MRI. Spine (Phila Pa 1976). 2024 Jan 1;49(1):34–45.

Wui SH, Ko MJ, Lee BJ, Lee S, Kwon WK. Spinal Cord Injury From Tuberculous Spondylitis Misdiagnosed as Metastatic Spinal Tumor and Bacterial Spondylitis: A Case Report & Literature Review. Korean J Neurotrauma. 2024 Dec 1;20(4):246–51.

Romaniyanto R, Ilyas MF, Lado A, Sadewa D, Dzikri DN an, Budiono EA. Current update on surgical management for spinal tuberculosis: a scientific mapping of worldwide publications. Vol. 11, Frontiers in Surgery. Frontiers Media SA; 2024.

Aryal A, Garg B, Mehta N, Shekhar S, Gupta V. Is 6 Months of Antitubercular Chemotherapy as Effective as More Than 6 Months Regimen in Spinal Tuberculosis? A Systematic Review and Metaanalysis. Asian Spine J. 2022 Oct 1;16(5):749–63.

Yang S, Yu Y, Ji Y, Luo DJ, Zhang ZY, Huang GP, et al. Multi-drug resistant spinal tuberculosis-epidemiological characteristics of in-patients: A multicentre retrospective study. Epidemiol Infect. 2020;

Kumari C, Sahni D, Jindal R, Salaria A. Anatomy and Pathophysiology of TB Spine. In: Tuberculosis of the Spine. Springer Nature; 2022. p. 31–51.

Sumber gambar:

https://media.springernature.com/lw1200/springer-static/image/art:10.1038/s41598-023-36965-w/MediaObjects/41598_2023_36965_Fig4_HTML.jpg

https://persijatim.id/wp-content/uploads/2024/06/artikel-2024-06-28T091534.103.png

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS5CRwmqatSPncQFKdNNpGcRnEG4yuxAq7Q2w&s